ππΌππΌπ π πππΌππΌπ βΌοΈ "Bade ka mana neng?" Kali ini, Atika menceritakan...

ππππππ πππππ@KaisarMalek_
24 views
Oct 03, 2026
~7 min read
Advertisement
2
@IDN_Horor @bacahorror Baca kisah sebelumnya :


ππππππ πππππ@KaisarMalek_
ππ½ππ πΏπΌππππ βΌοΈ
βAku tidak gila.β
Barangkali itu yang pertama kali akan kuucapkan kalau suatu hari nanti aku diminta menceritakan kejadian ini lagi
#ceritahorror #threadhorror
Izin tag :
@IDN_Horor @bacahorror @ceritaht
βAku tidak gila.β
Barangkali itu yang pertama kali akan kuucapkan kalau suatu hari nanti aku diminta menceritakan kejadian ini lagi
#ceritahorror #threadhorror
Izin tag :
@IDN_Horor @bacahorror @ceritaht
3
Buat yang sudah membaca ceritaku tentang Mbok Darsih, mungkin kalian masih ingat aku pernah bilang kalau aku tidak gila.
Sejak malam panjang di Garut itu, Ayah punya satu aturan yang nggak pernah dia ucapkan terang-terangan, dia nggak akan pernah lagi ninggalin aku sendirian di tempat asing. Selama tiga tahun aturan itu dipegang teguh. Sampai akhirnya, takdir dibalik begitu aja. Kali ini giliran Ayah yang terbaring lemas di tempat asing, dan aku yang nggak punya pilihan selain bertahan di sampingnya
Ayah kena tipes parah pas kami di Sukabumi. Demamnya tembus hampir empat puluh derajat, terpaksa dokter langsung nahan dia di ruang opname. Karena di rumah cuma ada kami berdua, otomatis akulah yang standby.
Saudara-saudaraku cuma sempat mampir siang hari, lalu begitu azan magrib bergema, mereka pamit pulang karena urusan kerjaan esok harinya. Meninggalkan aku sendirian menjaga napas Ayah yang berat di tengah heningnya rumah sakit.
Di hari keempat, Tante Rina yang selama ini cuma bisa nanya kabar lewat telepon akhirnya berangkat dari Surabaya sama suaminya. Mereka terbang ke Jakarta sore itu, lanjut naik mobil dari rumah sepupuku. Tante bilang mau langsung ke rumah sakit supaya malam ini aku nggak sendirian.
Aku bilang nggak usah buru-buru. Padahal sejujurnya, aku lega sekali.
Sejak malam panjang di Garut itu, Ayah punya satu aturan yang nggak pernah dia ucapkan terang-terangan, dia nggak akan pernah lagi ninggalin aku sendirian di tempat asing. Selama tiga tahun aturan itu dipegang teguh. Sampai akhirnya, takdir dibalik begitu aja. Kali ini giliran Ayah yang terbaring lemas di tempat asing, dan aku yang nggak punya pilihan selain bertahan di sampingnya
Ayah kena tipes parah pas kami di Sukabumi. Demamnya tembus hampir empat puluh derajat, terpaksa dokter langsung nahan dia di ruang opname. Karena di rumah cuma ada kami berdua, otomatis akulah yang standby.
Saudara-saudaraku cuma sempat mampir siang hari, lalu begitu azan magrib bergema, mereka pamit pulang karena urusan kerjaan esok harinya. Meninggalkan aku sendirian menjaga napas Ayah yang berat di tengah heningnya rumah sakit.
Di hari keempat, Tante Rina yang selama ini cuma bisa nanya kabar lewat telepon akhirnya berangkat dari Surabaya sama suaminya. Mereka terbang ke Jakarta sore itu, lanjut naik mobil dari rumah sepupuku. Tante bilang mau langsung ke rumah sakit supaya malam ini aku nggak sendirian.
Aku bilang nggak usah buru-buru. Padahal sejujurnya, aku lega sekali.
4
Lewat jam sepuluh malam, bangsal tempat Ayah dirawat udah jauh lebih sepi. Kamar Ayah berisi dua ranjang, dan ranjang sebelahnya kosong dari sore. Ayah tidur dengan napas berat, sesekali menggumamkan sesuatu yang nggak jelas. Aku duduk di kursi plastik di sampingnya sambil memperhatikan tetesan infus.
βWaktu itulah HP di pangkuanku bergetar, nama Tante Rina muncul di layar dan aku langsung mengangkatnya.
"Halo, Tante?"
"Tika, ini Tan... lagi di to... mungkin dua ja... sam..." Suaranya putus-putus seperti dari dasar sumur.
Aku berdiri dan mengangkat HP setinggi mungkin, tapi di dalam kamar garis sinyalnya tinggal satu dan makin tipis. Aku keluar dan teleponnya mati. Tante Rina menelepon lagi, mati lagi, dan begitu terus sampai aku enggak sadar sudah berjalan menyusuri lorong cuma buat nyari garis sinyal di layar HP.
Anehnya, makin jauh dari kamar Ayah, garisnya makin nambah. Satu, dua, tiga... dan di garis keempat suara Tante akhirnya terdengar jernih.
"Nah, ini kedengaran. Kamu di mana, Tik? Kok putus-putus suaranya?"
"Nyari sinyal, Tan. Di kamar Ayah jelek."
Kami mengobrol sebentar. Tante bertanya Ayah sudah makan atau belum, demamnya turun atau belum, dan aku sendiri sudah makan atau belum. Katanya mereka baru masuk tol dan masih sekitar dua jam lagi.
Terakhir dia berpesan agar aku jangan jauh-jauh dari kamar Ayah, dan aku menjawab iya sambil tertawa kecil. Telepon kututup, lalu pas aku menoleh ke belakang...
βWaktu itulah HP di pangkuanku bergetar, nama Tante Rina muncul di layar dan aku langsung mengangkatnya.
"Halo, Tante?"
"Tika, ini Tan... lagi di to... mungkin dua ja... sam..." Suaranya putus-putus seperti dari dasar sumur.
Aku berdiri dan mengangkat HP setinggi mungkin, tapi di dalam kamar garis sinyalnya tinggal satu dan makin tipis. Aku keluar dan teleponnya mati. Tante Rina menelepon lagi, mati lagi, dan begitu terus sampai aku enggak sadar sudah berjalan menyusuri lorong cuma buat nyari garis sinyal di layar HP.
Anehnya, makin jauh dari kamar Ayah, garisnya makin nambah. Satu, dua, tiga... dan di garis keempat suara Tante akhirnya terdengar jernih.
"Nah, ini kedengaran. Kamu di mana, Tik? Kok putus-putus suaranya?"
"Nyari sinyal, Tan. Di kamar Ayah jelek."
Kami mengobrol sebentar. Tante bertanya Ayah sudah makan atau belum, demamnya turun atau belum, dan aku sendiri sudah makan atau belum. Katanya mereka baru masuk tol dan masih sekitar dua jam lagi.
Terakhir dia berpesan agar aku jangan jauh-jauh dari kamar Ayah, dan aku menjawab iya sambil tertawa kecil. Telepon kututup, lalu pas aku menoleh ke belakang...
5
Di depanku ada pintu besi abu-abu bertuliskan KAMAR JENAZAH dengan cat putih yang mulai mengelupas.
Aku sempat berdiri di situ cukup lama, bukan karena takut, tapi karena bingung gimana caranya aku bisa sampai sejauh ini cuma gara-gara mencari sinyal.
Lorongnya juga tidak terasa seperti lorong yang tadi kulewati. Lampu neon di sini lebih jarang, aku sempat kebingungan saat itu, hawa dingin tiba-tiba berhembus pelan di leherku.
Aku putusin untuk segera kembali ke kamar Ayah. Masalahnya, rumah sakit ini terdiri dari lorong-lorong yang bercabang dan hampir semuanya terlihat sama, dan tadi aku terlalu sibuk menatap layar HP sampai lupa untuk menghafal belokan.
Aku memilih jalan ke kanan karena rasanya itu yang tadi aku lewati, lalu aku berjalan sambil mencari papan penunjuk arah atau perawat jaga yang bisa kutanya, tapi tidak ada siapa pun. Rumah sakit itu kosong seperti tidak ada penghuni.
Garis sinyal di HP-ku turun lagi sampai tinggal satu, dan lorongnya makin lama makin sepi. Aku berhenti sebentar untuk mengingat-ingat jalan, dan di saat itulah garis sinyal di HP-ku mendadak penuh sendiri.
Aku sempat berdiri di situ cukup lama, bukan karena takut, tapi karena bingung gimana caranya aku bisa sampai sejauh ini cuma gara-gara mencari sinyal.
Lorongnya juga tidak terasa seperti lorong yang tadi kulewati. Lampu neon di sini lebih jarang, aku sempat kebingungan saat itu, hawa dingin tiba-tiba berhembus pelan di leherku.
Aku putusin untuk segera kembali ke kamar Ayah. Masalahnya, rumah sakit ini terdiri dari lorong-lorong yang bercabang dan hampir semuanya terlihat sama, dan tadi aku terlalu sibuk menatap layar HP sampai lupa untuk menghafal belokan.
Aku memilih jalan ke kanan karena rasanya itu yang tadi aku lewati, lalu aku berjalan sambil mencari papan penunjuk arah atau perawat jaga yang bisa kutanya, tapi tidak ada siapa pun. Rumah sakit itu kosong seperti tidak ada penghuni.
Garis sinyal di HP-ku turun lagi sampai tinggal satu, dan lorongnya makin lama makin sepi. Aku berhenti sebentar untuk mengingat-ingat jalan, dan di saat itulah garis sinyal di HP-ku mendadak penuh sendiri.
6
Tiba-tiba terdengar suara orang berbicara dari belakangku, sangat dekat, seperti berbisik tepat di samping telingaku.
"Bade ka mana, Neng?"
Suaranya seperti kakek-kakek yang serak. Saking dekatnya, aku bisa merasakan hembusan dingin di tengkukku.
Aku langsung menoleh, tapi tidak ada siapa-siapa. Lorong di belakangku kosong dan lampunya redup, dan aku benar-benar sendirian.
Dadaku sesak sekali, bulu kudukku berdiri serentak. Aku berjalan cepat tanpa berani menoleh lagi, HP kugenggam erat di dada, dan di tengah langkahku bau obat rumah sakit berubah jadi bau amis yang menyengat sampai aku harus menutup hidung.
Aku tidak tahu dari mana datangnya, tapi baunya makin kuat setiap kali aku melangkah.
Lalu dari ujung lorong yang remang, sesosok perempuan berseragam suster berjalan ke arahku. Lengkap dengan topi kecil dan map yang dipeluk di dada.
Aku hampir menangis saking leganya, aku mengangkat tanganku setengah untuk memanggilnya, tapi dia berjalan sangat cepat dengan kepala menunduk, seolah ada pasien yang harus segera ditolongnya.
"Bade ka mana, Neng?"
Suaranya seperti kakek-kakek yang serak. Saking dekatnya, aku bisa merasakan hembusan dingin di tengkukku.
Aku langsung menoleh, tapi tidak ada siapa-siapa. Lorong di belakangku kosong dan lampunya redup, dan aku benar-benar sendirian.
Dadaku sesak sekali, bulu kudukku berdiri serentak. Aku berjalan cepat tanpa berani menoleh lagi, HP kugenggam erat di dada, dan di tengah langkahku bau obat rumah sakit berubah jadi bau amis yang menyengat sampai aku harus menutup hidung.
Aku tidak tahu dari mana datangnya, tapi baunya makin kuat setiap kali aku melangkah.
Lalu dari ujung lorong yang remang, sesosok perempuan berseragam suster berjalan ke arahku. Lengkap dengan topi kecil dan map yang dipeluk di dada.
Aku hampir menangis saking leganya, aku mengangkat tanganku setengah untuk memanggilnya, tapi dia berjalan sangat cepat dengan kepala menunduk, seolah ada pasien yang harus segera ditolongnya.
7
"Sus, punten, numpang tanya..."
Dia melewatiku begitu saja tanpa menoleh, dan tepat saat tubuh kami berpapasan, bau amis yang menyengat tadi seolah menampar wajahku sampai perutku terasa mual sekali. Begitu aku berbalik untuk memanggilnya lagi... koridor lurus itu sudah kosong. Suster tadi lenyap tanpa jejak.
Aku melirik ponselku, di layarnya muncul tulisan "Tidak ada layanan" menggantikan keempat garis sinyal tadi.
Belum sempat akalku mencerna apa yang baru saja terjadi, dari salah satu celah pintu di ujung lorong, sosok berseragam suster itu muncul kembali. Wujudnya sama persis. Ia berjalan cepat dengan kepala tertunduk dan map rapat di dada.
Kali ini, kedua kakiku benar-benar terkunci ke lantai. Aku cuma bisa berdiri mematung menyaksikan dia berjalan mendekat, seiring bau amis bangkai yang merayap makin pekat.
Semakin dekat, cara jalannya makin nggak masuk akal. Langkahnya cepat kayak orang lari, tapi badan atasnya tegap, map di dadanya nggak bergeser sedikit pun. Nggak ada suara langkah kaki. Cuma ada suara napasku sendiri yang patah-patah.
Hanya berjarak sekitar 2 meter di depanku, kepalanya pelan-pelan mulai terangkat. seperti ditarik dengan tali dari atas.
Kulit mukanya pucat kebiruan, remuk hancur di sekitar mulut. Matanya melotot lebar tanpa kelopak, hitam semua.
Dan dari bibirnya yang sobek melenceng hingga ke pipi, dia mencoba tersenyum. Cairan kental kehitaman menetes perlahan dari sela-sela giginya yang berantakan.
βDia tidak berhenti. Dia menabrak tubuhku.
Dia melewatiku begitu saja tanpa menoleh, dan tepat saat tubuh kami berpapasan, bau amis yang menyengat tadi seolah menampar wajahku sampai perutku terasa mual sekali. Begitu aku berbalik untuk memanggilnya lagi... koridor lurus itu sudah kosong. Suster tadi lenyap tanpa jejak.
Aku melirik ponselku, di layarnya muncul tulisan "Tidak ada layanan" menggantikan keempat garis sinyal tadi.
Belum sempat akalku mencerna apa yang baru saja terjadi, dari salah satu celah pintu di ujung lorong, sosok berseragam suster itu muncul kembali. Wujudnya sama persis. Ia berjalan cepat dengan kepala tertunduk dan map rapat di dada.
Kali ini, kedua kakiku benar-benar terkunci ke lantai. Aku cuma bisa berdiri mematung menyaksikan dia berjalan mendekat, seiring bau amis bangkai yang merayap makin pekat.
Semakin dekat, cara jalannya makin nggak masuk akal. Langkahnya cepat kayak orang lari, tapi badan atasnya tegap, map di dadanya nggak bergeser sedikit pun. Nggak ada suara langkah kaki. Cuma ada suara napasku sendiri yang patah-patah.
Hanya berjarak sekitar 2 meter di depanku, kepalanya pelan-pelan mulai terangkat. seperti ditarik dengan tali dari atas.
Kulit mukanya pucat kebiruan, remuk hancur di sekitar mulut. Matanya melotot lebar tanpa kelopak, hitam semua.
Dan dari bibirnya yang sobek melenceng hingga ke pipi, dia mencoba tersenyum. Cairan kental kehitaman menetes perlahan dari sela-sela giginya yang berantakan.
βDia tidak berhenti. Dia menabrak tubuhku.
8
Rasanya bukan seperti benturan, tapi seperti disiram air es yang dingin dari dada tembus sampai punggung.
Badanku kesemutan, kepalaku berputar, dan aku terhuyung mundur beberapa langkah sampai punggungku menabrak sesuatu yang berdiri tegak di belakangku.
Sesuatu yang kaku dan dingin, seperti batang kayu basah yang ditancapkan, dan bahuku terasa berat sekali.
Bau amis tadi mendadak berganti menjadi aroma tanah basah bercampur bangkai yang menyengat otak.
Tiba-tiba... "Bade ka mana, Neng?"
Suara itu terulang lagi. Suaranya persis di balik telinga, tapi kali ini jauh lebih serak dan berat, seperti keluar dari mulut yang penuh dengan tanah.
Dengan sisa tenaga yang tersisa, aku memutar kepala pelan-pelan, Di belakangku berdiri sosok tinggi yang terbungkus kain kafan kusam penuh bercak tanah dan noda cokelat, dengan tali pengikat di atas kepalanya. Itu... Itu Pocong!
Badanku kesemutan, kepalaku berputar, dan aku terhuyung mundur beberapa langkah sampai punggungku menabrak sesuatu yang berdiri tegak di belakangku.
Sesuatu yang kaku dan dingin, seperti batang kayu basah yang ditancapkan, dan bahuku terasa berat sekali.
Bau amis tadi mendadak berganti menjadi aroma tanah basah bercampur bangkai yang menyengat otak.
Tiba-tiba... "Bade ka mana, Neng?"
Suara itu terulang lagi. Suaranya persis di balik telinga, tapi kali ini jauh lebih serak dan berat, seperti keluar dari mulut yang penuh dengan tanah.
Dengan sisa tenaga yang tersisa, aku memutar kepala pelan-pelan, Di belakangku berdiri sosok tinggi yang terbungkus kain kafan kusam penuh bercak tanah dan noda cokelat, dengan tali pengikat di atas kepalanya. Itu... Itu Pocong!
9
Kain di bagian wajahnya sudah melorot longgar, kulit wajahnya menghitam membusuk digerogoti belatung, dan bola matanya yang kiri keluar menggantung di pipi seperti ingin copot.
Jaraknya tidak sampai satu jengkal dari wajahku, dan kain di dadanya bergerak naik turun seolah dia sedang bernapas.
Aku ingin menjerit, tapi tenggorokanku terkunci, hanya napas pecah yang keluar dari mulutku.
Pandanganku mendadak samar, telingaku berdengung kencang sekali sampai suara apa pun hilang, lututku lemas dan badanku ambruk menghantam lantai.
Dan hal terakhir yang kulihat sebelum semuanya gelap adalah ujung kain putih kusam yang bergeser pelan-pelan mendekat ke depan wajahku.
Jaraknya tidak sampai satu jengkal dari wajahku, dan kain di dadanya bergerak naik turun seolah dia sedang bernapas.
Aku ingin menjerit, tapi tenggorokanku terkunci, hanya napas pecah yang keluar dari mulutku.
Pandanganku mendadak samar, telingaku berdengung kencang sekali sampai suara apa pun hilang, lututku lemas dan badanku ambruk menghantam lantai.
Dan hal terakhir yang kulihat sebelum semuanya gelap adalah ujung kain putih kusam yang bergeser pelan-pelan mendekat ke depan wajahku.
10
Waktu membuka mata, aku sudah berada di sebuah ruangan kecil yang terang, dikelilingi satpam, dua perawat jaga, dan beberapa keluarga pasien yang kelihatannya baru bangun tidur.
Seseorang menyodorkan segelas air hangat ke tanganku. Kata mereka aku ditemukan di lorong dekat kamar jenazah, menjerit-jerit dan meronta-ronta sendirian di lantai. Aku mau menjelaskan apa yang baru saja kualami, tapi lidahku terasa kaku dan mati rasa.
Tidak lama kemudian pintu terbuka dan Tante Rina masuk bersama suaminya, wajah mereka pucat saat melihat aku dikelilingi banyak orang.
"Tika! Ya Allah, kamu kenapa? Tante telepon dari tadi nggak nyambung-nyambung!"
Aku nggak mampu menjawab sepatah kata pun. Begitu Tante Rina memelukku, tangisku langsung pecah dan badanku gemetar sampai air di gelas tumpah ke pangkuanku. Malam itu, aku tidak mau kembali ke kamar Ayah kalau tidak digandeng.
Seseorang menyodorkan segelas air hangat ke tanganku. Kata mereka aku ditemukan di lorong dekat kamar jenazah, menjerit-jerit dan meronta-ronta sendirian di lantai. Aku mau menjelaskan apa yang baru saja kualami, tapi lidahku terasa kaku dan mati rasa.
Tidak lama kemudian pintu terbuka dan Tante Rina masuk bersama suaminya, wajah mereka pucat saat melihat aku dikelilingi banyak orang.
"Tika! Ya Allah, kamu kenapa? Tante telepon dari tadi nggak nyambung-nyambung!"
Aku nggak mampu menjawab sepatah kata pun. Begitu Tante Rina memelukku, tangisku langsung pecah dan badanku gemetar sampai air di gelas tumpah ke pangkuanku. Malam itu, aku tidak mau kembali ke kamar Ayah kalau tidak digandeng.
11
Seminggu kemudian Ayah akhirnya diperbolehkan pulang, dan sampai sekarang aku belum pernah menceritakan kejadian itu padanya.
Tante hanya tahu aku tersesat dan ketakutan, Aku tidak pernah menceritakan sisanya pada siapa pun.
Aku hanya menceritakan ini pada kalian karena jujur... kejadian malam itu sampai sekarang belum benar-benar bisa kulupakan.
Kadang bau amis pocong itu terlintas begitu saja di hidungku dan perutku langsung mual, sampai teman-temanku keheranan melihatku tiba-tiba menutup mulut menahan muntah.
Bahkan waktu menceritakan ini ke Aksara beberapa hari lalu, aku masih merinding membayangkannya lagi. Mungkin cukup sampai di sini dulu malam ini, karena masih ada ceritaku yang lain, dan yang itu tidak kalah seram.
ββ
Tante hanya tahu aku tersesat dan ketakutan, Aku tidak pernah menceritakan sisanya pada siapa pun.
Aku hanya menceritakan ini pada kalian karena jujur... kejadian malam itu sampai sekarang belum benar-benar bisa kulupakan.
Kadang bau amis pocong itu terlintas begitu saja di hidungku dan perutku langsung mual, sampai teman-temanku keheranan melihatku tiba-tiba menutup mulut menahan muntah.
Bahkan waktu menceritakan ini ke Aksara beberapa hari lalu, aku masih merinding membayangkannya lagi. Mungkin cukup sampai di sini dulu malam ini, karena masih ada ceritaku yang lain, dan yang itu tidak kalah seram.
ββ

