π¦π πππ‘π§π¨ π¨π¦ππ 2 : "π§π¨πππ‘π πͺππ‘ππ" Cerita malem ini masih nyambung...

ππππππ πππππ@KaisarMalek_
31 views
Oct 02, 2026
~11 min read
Advertisement
1
π¦π πππ‘π§π¨ π¨π¦ππ 2 : "π§π¨πππ‘π πͺππ‘ππ"
Cerita malem ini masih nyambung sama "SI HANTU USIL", tapi kali ini, bukan dari fajar atau kakaknya, melainkan dari Caca, temen kakaknya fajar yang pernah nginep di apartemen itu, dan yang dia alamin... malah lebih parah
#ceritahorror #threadhorror izin tag : @IDN_Horor @bacahorror @ceritaht
Cerita malem ini masih nyambung sama "SI HANTU USIL", tapi kali ini, bukan dari fajar atau kakaknya, melainkan dari Caca, temen kakaknya fajar yang pernah nginep di apartemen itu, dan yang dia alamin... malah lebih parah
#ceritahorror #threadhorror izin tag : @IDN_Horor @bacahorror @ceritaht
2
Untuk yang belum baca versi fajar dan kakaknya :


ππππππ πππππ@KaisarMalek_
Cerita ini berangkat dari sebuah kejadian yang pernah dialami oleh seseorang yang dekat denganku
Kejadian tersebut kemudian kucoba susun kembali menjadi sebuah cerita seperti yang nanti kalian baca..
Dan setiap kali malam itu kembali dibahas, ada satu kalimat yang hampir selalu ia ulang.
"Saya tidak gila."
#ceritahorror #threadhorror izin tag : @IDN_Horor @ceritaht @bacahorror
Kejadian tersebut kemudian kucoba susun kembali menjadi sebuah cerita seperti yang nanti kalian baca..
Dan setiap kali malam itu kembali dibahas, ada satu kalimat yang hampir selalu ia ulang.
"Saya tidak gila."
#ceritahorror #threadhorror izin tag : @IDN_Horor @ceritaht @bacahorror
3
Dulu aku paling malas kalau ada yang mulai cerita soal hantu. Buatku, mistis itu cuma karangan orang-orang yang butuh perhatian, dan semua hal aneh pasti punya penjelasan logis. Aku bahkan pernah berdebat soal ini sampai ibuku menyerah. Waktu itu, aku merasa menang.
βTapi itu dulu... Sekarang, aku enggak pernah membantah cerita siapa pun lagi. Dan kali ini aku cuma mau membagikan apa yang kualami, terserah kalian mau percaya atau enggak.
ββ
βNamaku Caca...
Kejadiannya hari Sabtu, sekitar awal Desember 2025. Aku dan Rindi, teman sekantorku, kami pulang kerja jam lima sore. Biasanya kalau malam Minggu aku memilih langsung pulang ke rumah dan rebahan di kamar, tapi hari itu Rindi bilang ada kedai kopi enak dekat apartemennya. Cuma sepuluh menit kalau naik taksi online, aku iyakan saja. Toh besok libur.
Kedainya kecil, lampunya temaram kuning, dan ramai anak muda yang kelihatan sama-sama enggak punya rencana lain. Kami duduk di pojokan. Aku pesan kopi susu gula aren, sementara Rindi pesan cokelat panas karena asam lambungnya lagi kumat.
βNiat awalnya cuma mau nongkrong sejam. Tapi entah bagaimana, tahu-tahu waktu sudah lewat jam sebelas malam ketika aku sadar gelasku sudah kosong dari tadi. Obrolan kami mengalir kemana-mana, dari urusan kantor, atasan yang nyebelin, sampai berakhir di cerita soal mantan.
β"Udah kemaleman nih, Ca," kata Rindi sambil melirik layar ponselnya. "Nginep aja di tempat gua. Daripada lu pulang jam segini sendirian di taksi."
βAku sempat menolak. Karena nggak bawa baju ganti, lagipula enggak enak sama adiknya yang tinggal di situ.
β"Fajar mah enggak ada," potongnya. "Tiap malam Minggu dia pasti nongkrong sama temennya, pulangnya subuh. Gua sendirian di unit. Lu nginep aja, ntar gua pinjemin baju."
Kalimat terakhir itu yang bikin aku luluh. Bukan karena bajunya, tapi aku cuma enggak tega membayangkan dia pulang ke unit yang kosong sendirian, sementara aku yang punya pilihan tidur di mana saja malah kabur.
Setelah mengabari orang rumah, kami memesan taksi. Sepanjang jalan Rindi menyandar ke jendela dan nyaris ketiduran.
βTapi itu dulu... Sekarang, aku enggak pernah membantah cerita siapa pun lagi. Dan kali ini aku cuma mau membagikan apa yang kualami, terserah kalian mau percaya atau enggak.
ββ
βNamaku Caca...
Kejadiannya hari Sabtu, sekitar awal Desember 2025. Aku dan Rindi, teman sekantorku, kami pulang kerja jam lima sore. Biasanya kalau malam Minggu aku memilih langsung pulang ke rumah dan rebahan di kamar, tapi hari itu Rindi bilang ada kedai kopi enak dekat apartemennya. Cuma sepuluh menit kalau naik taksi online, aku iyakan saja. Toh besok libur.
Kedainya kecil, lampunya temaram kuning, dan ramai anak muda yang kelihatan sama-sama enggak punya rencana lain. Kami duduk di pojokan. Aku pesan kopi susu gula aren, sementara Rindi pesan cokelat panas karena asam lambungnya lagi kumat.
βNiat awalnya cuma mau nongkrong sejam. Tapi entah bagaimana, tahu-tahu waktu sudah lewat jam sebelas malam ketika aku sadar gelasku sudah kosong dari tadi. Obrolan kami mengalir kemana-mana, dari urusan kantor, atasan yang nyebelin, sampai berakhir di cerita soal mantan.
β"Udah kemaleman nih, Ca," kata Rindi sambil melirik layar ponselnya. "Nginep aja di tempat gua. Daripada lu pulang jam segini sendirian di taksi."
βAku sempat menolak. Karena nggak bawa baju ganti, lagipula enggak enak sama adiknya yang tinggal di situ.
β"Fajar mah enggak ada," potongnya. "Tiap malam Minggu dia pasti nongkrong sama temennya, pulangnya subuh. Gua sendirian di unit. Lu nginep aja, ntar gua pinjemin baju."
Kalimat terakhir itu yang bikin aku luluh. Bukan karena bajunya, tapi aku cuma enggak tega membayangkan dia pulang ke unit yang kosong sendirian, sementara aku yang punya pilihan tidur di mana saja malah kabur.
Setelah mengabari orang rumah, kami memesan taksi. Sepanjang jalan Rindi menyandar ke jendela dan nyaris ketiduran.
4
Apartemennya berada di lantai sembilan. Lorong menuju unitnya sepi, dipenuhi bau khas udara AC sentral yang dingin dan mengendap. Rindi memutar kunci pintu, menyalakan lampu ruang tengah, lalu melemparkan tasnya ke sofa. Bersih dan rapi, jauh lebih rapi dari yang kukira untuk dua orang bersaudara.
βDi sisi kiri, ada dua pintu kamar. Yang satu terbuka sedikit dengan lampu menyala dari dalam, sementara yang satu lagi tertutup rapat.
β"Itu kamar Fajar," kata Rindi sambil menunjuk pintu yang tertutup. "Nah, kamar gua yang ini. Anggap rumah sendiri aja ya."
Aku mengangguk, melepas sepatu, lalu selonjoran di sofa. Rindi masuk ke kamarnya untuk mengambilkan baju ganti. Dari luar, aku mendengar dia mengomel sendiri karena lemarinya berantakan.
Tak lama dia keluar membawa kaus dan celana pendek, dua-duanya wangi pelembut pakaian yang sama. "Nih, ganti dulu sana."
βWaktu aku balik dari kamar mandi, Rindi sudah rebahan di sofa sambil menawariku memesan makanan. Perutku baru sadar belum diisi dari sore selain kopi dan cemilan.
Kami sepakat pesan dua porsi nasi goreng dan sate ayam satu porsi buat berdua. Nggak sampai empat puluh menit, ponselnya bergetar.
β"Driver-nya udah di lobi nih," katanya sambil mengambil kartu akses di meja. "Gua turun sebentar ya."
β"Iya, hati-hati," ucapku.
Pintu unit tertutup pelan di belakangnya. Aku mengambil remote dan menyalakan TV, membuka Netflix untuk sekadar mengusir sepi. Sofanya memang empuk, dan AC di ruang tengah ini dingin tanpa suara yang berisik.
βDi sisi kiri, ada dua pintu kamar. Yang satu terbuka sedikit dengan lampu menyala dari dalam, sementara yang satu lagi tertutup rapat.
β"Itu kamar Fajar," kata Rindi sambil menunjuk pintu yang tertutup. "Nah, kamar gua yang ini. Anggap rumah sendiri aja ya."
Aku mengangguk, melepas sepatu, lalu selonjoran di sofa. Rindi masuk ke kamarnya untuk mengambilkan baju ganti. Dari luar, aku mendengar dia mengomel sendiri karena lemarinya berantakan.
Tak lama dia keluar membawa kaus dan celana pendek, dua-duanya wangi pelembut pakaian yang sama. "Nih, ganti dulu sana."
βWaktu aku balik dari kamar mandi, Rindi sudah rebahan di sofa sambil menawariku memesan makanan. Perutku baru sadar belum diisi dari sore selain kopi dan cemilan.
Kami sepakat pesan dua porsi nasi goreng dan sate ayam satu porsi buat berdua. Nggak sampai empat puluh menit, ponselnya bergetar.
β"Driver-nya udah di lobi nih," katanya sambil mengambil kartu akses di meja. "Gua turun sebentar ya."
β"Iya, hati-hati," ucapku.
Pintu unit tertutup pelan di belakangnya. Aku mengambil remote dan menyalakan TV, membuka Netflix untuk sekadar mengusir sepi. Sofanya memang empuk, dan AC di ruang tengah ini dingin tanpa suara yang berisik.
5
Tepat lima menit kemudian ponselku bergetar karena notif pesan dari Rindi,
βGua mampir Alfa depan lobi dulu ya, mau beli minum. Lu mau nitip apa?β
βAku baru mau mengetik balasan untuk menitip es teh. Tiba-tiba, terdengar benturan keras dari arah samping.
βBRAK.
Aku menoleh cepat. Pintu kamar Rindi yang tadi terbuka sedikit, sekarang tertutup rapat. Gagangnya diam tak bergerak. Nggak ada bunyi lain setelahnya, cuma dialog samar dari layar TV.
βAku terpaku menunggu. Sekitar sepuluh detik, mungkin lebih.
Karena penasaran, aku bangun dan mendatangi pintu itu, memutar gagangnya dengan pelan. Lampu kamarnya masih menyala terang. Kasurnya rapi, lemari terbuka separuh, dan tumpukan baju ada di sudut. Tidak ada siapa-siapa di sana, tentu saja.
βAku berdiri di ambang pintu, menatap unit AC yang menggantung tepat di atas sana, menghembuskan angin cukup kencang lurus ke arah pintu.
Kalau pintu terbuka sedikit, lalu terdorong tekanan angin dari dalam... masuk akal. Aku bahkan sempat mengangguk sendiri, menyetujui logikaku.
Aku kembali ke sofa, membalas pesan Rindi, lalu menaikkan volume TV satu tingkat. Pikiranku langsung tenang. Buatku, urusan pintu itu udah kelar dan enggak perlu dibesar-besarkan.
Rindi balik membawa dua kantong plastik dan es teh di tangan. "Lama ya? tanyaku. "Antre kasirnya." Aku bilang enggak apa-apa. Kami makan lesehan di depan TV sambil mengobrol ringan, dan aku sama sekali enggak cerita soal pintu tadi. Buat apa. Lagipula logikaku sudah menjawabnya.
βSekitar jam dua pagi, rasa kantuk mulai menyerang dan kami memutuskan untuk masuk ke kamar Rindi.
βGua mampir Alfa depan lobi dulu ya, mau beli minum. Lu mau nitip apa?β
βAku baru mau mengetik balasan untuk menitip es teh. Tiba-tiba, terdengar benturan keras dari arah samping.
βBRAK.
Aku menoleh cepat. Pintu kamar Rindi yang tadi terbuka sedikit, sekarang tertutup rapat. Gagangnya diam tak bergerak. Nggak ada bunyi lain setelahnya, cuma dialog samar dari layar TV.
βAku terpaku menunggu. Sekitar sepuluh detik, mungkin lebih.
Karena penasaran, aku bangun dan mendatangi pintu itu, memutar gagangnya dengan pelan. Lampu kamarnya masih menyala terang. Kasurnya rapi, lemari terbuka separuh, dan tumpukan baju ada di sudut. Tidak ada siapa-siapa di sana, tentu saja.
βAku berdiri di ambang pintu, menatap unit AC yang menggantung tepat di atas sana, menghembuskan angin cukup kencang lurus ke arah pintu.
Kalau pintu terbuka sedikit, lalu terdorong tekanan angin dari dalam... masuk akal. Aku bahkan sempat mengangguk sendiri, menyetujui logikaku.
Aku kembali ke sofa, membalas pesan Rindi, lalu menaikkan volume TV satu tingkat. Pikiranku langsung tenang. Buatku, urusan pintu itu udah kelar dan enggak perlu dibesar-besarkan.
Rindi balik membawa dua kantong plastik dan es teh di tangan. "Lama ya? tanyaku. "Antre kasirnya." Aku bilang enggak apa-apa. Kami makan lesehan di depan TV sambil mengobrol ringan, dan aku sama sekali enggak cerita soal pintu tadi. Buat apa. Lagipula logikaku sudah menjawabnya.
βSekitar jam dua pagi, rasa kantuk mulai menyerang dan kami memutuskan untuk masuk ke kamar Rindi.
6
Rindi tidur membelakangiku, dan dalam hitungan menit napasnya sudah terdengar teratur. Aku memandangi langit-langit kamar yang samar oleh pijar lampu tidur. Kasurnya nyaman, lebih empuk dari kasurku di rumah. Tak sampai lima menit, aku ikut terlelap.
βEntah sudah berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena dingin.
βBukan dingin AC yang biasa, tapi dingin yang seperti merayap pelan dari bawah selimut, menusuk kulit lenganku sampai meremang.
Saat tanganku menyapu ke samping, kasur di sebelahku ternyata kosong. Seprainya dingin, seolah sudah lama tidak ditiduri siapa pun. Lampu tidur padam total. Dan pintu kamar yang seingatku dibiarkan terbuka sedikit, kini tertutup rapat.
Belum sempat kepalaku memproses keadaan, telingaku menangkap sesuatu dari balik pintu.
Suara perempuan sedang bersenandung dengan pelan. Hanya beberapa nada pendek yang diulang-ulang tanpa melodi yang kukenal, seperti seseorang yang bernyanyi untuk dirinya sendiri karena yakin tidak ada yang mendengar.
βEntah sudah berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena dingin.
βBukan dingin AC yang biasa, tapi dingin yang seperti merayap pelan dari bawah selimut, menusuk kulit lenganku sampai meremang.
Saat tanganku menyapu ke samping, kasur di sebelahku ternyata kosong. Seprainya dingin, seolah sudah lama tidak ditiduri siapa pun. Lampu tidur padam total. Dan pintu kamar yang seingatku dibiarkan terbuka sedikit, kini tertutup rapat.
Belum sempat kepalaku memproses keadaan, telingaku menangkap sesuatu dari balik pintu.
Suara perempuan sedang bersenandung dengan pelan. Hanya beberapa nada pendek yang diulang-ulang tanpa melodi yang kukenal, seperti seseorang yang bernyanyi untuk dirinya sendiri karena yakin tidak ada yang mendengar.
7
Kupikir itu Rindi. Mungkin dia enggak bisa tidur lalu pindah ke sofa, atau sedang bikin teh di dapur.
βAku menyingkirkan selimut dan turun dari kasur. Dingin lantai keramik menembus sampai ke tulang kering. Langkahku memutar gagang pintu dan menariknya perlahan.
Suara senandung itu tidak berhenti. Malah terdengar makin jelas dan jernih di tengah kegelapan ruang tengah.
βDi sana, seorang perempuan duduk menyamping membelakangiku.
Dia mengenakan gaun merah tua yang basah, kainnya menjuntai hingga menyentuh lantai. Rambutnya hitam dan panjangnya tidak masuk akal, menumpuk di atas karpet seperti tali yang lupa digulung.
Jari-jarinya yang pucat menyisir helai demi helai rambut itu secara perlahan, searah dengan irama senandungnya.
βAku ingin berbalik dan lari sekencang-kencangnya ke dalam kamar, tapi kakiku sama sekali enggak bisa digerakkan. Rasanya seperti dicor ke dalam lantai.
Aku menunduk, mengira ada sesuatu yang menahan, tapi tidak ada apa-apa di sana selain kakiku yang mendadak kaku.
βAku menyingkirkan selimut dan turun dari kasur. Dingin lantai keramik menembus sampai ke tulang kering. Langkahku memutar gagang pintu dan menariknya perlahan.
Suara senandung itu tidak berhenti. Malah terdengar makin jelas dan jernih di tengah kegelapan ruang tengah.
βDi sana, seorang perempuan duduk menyamping membelakangiku.
Dia mengenakan gaun merah tua yang basah, kainnya menjuntai hingga menyentuh lantai. Rambutnya hitam dan panjangnya tidak masuk akal, menumpuk di atas karpet seperti tali yang lupa digulung.
Jari-jarinya yang pucat menyisir helai demi helai rambut itu secara perlahan, searah dengan irama senandungnya.
βAku ingin berbalik dan lari sekencang-kencangnya ke dalam kamar, tapi kakiku sama sekali enggak bisa digerakkan. Rasanya seperti dicor ke dalam lantai.
Aku menunduk, mengira ada sesuatu yang menahan, tapi tidak ada apa-apa di sana selain kakiku yang mendadak kaku.
8
Seketika itu juga, senandungnya terputus di tengah nada.
βRuangan mendadak hening total. Dengung AC terasa begitu berat menekan dada. Dalam keheningan yang mencekat itu, aku bisa mendengar bunyi napasku sendiri yang mulai berburu, dan aku yakin, dia juga mendengarnya.
βLalu tiba-tiba... Dia tertawa. Suaranya melengking tinggi dan panjang, seperti gesekan kaca yang ditarik kencang. Bersamaan dengan tawa itu, kepalanya berputar pelan ke arahku...
Tubuhnya diam tak bergerak. Cuma kepalanya yang terus memutar sampai lehernya terpuntir sempurna dan wajahnya menghadap tepat ke posisiku.
Wajahnya putih keruh, seperti kertas yang terlalu lama terendam air. Urat-urat biru kehijauan menjalar jelas di pipi dan dahinya.
Mulutnya tersenyum lebar dan basah, dengan darah pekat yang merembes dari sudut bibir, menetes ke dagu dan gaunnya. βDan matanya... Matanya tidak ada.
βHanya dua lubang hitam yang dalam dan kosong. Tapi dari kedalaman lubang itu, aku tahu pasti dia sedang menatapku.
βRuangan mendadak hening total. Dengung AC terasa begitu berat menekan dada. Dalam keheningan yang mencekat itu, aku bisa mendengar bunyi napasku sendiri yang mulai berburu, dan aku yakin, dia juga mendengarnya.
βLalu tiba-tiba... Dia tertawa. Suaranya melengking tinggi dan panjang, seperti gesekan kaca yang ditarik kencang. Bersamaan dengan tawa itu, kepalanya berputar pelan ke arahku...
Tubuhnya diam tak bergerak. Cuma kepalanya yang terus memutar sampai lehernya terpuntir sempurna dan wajahnya menghadap tepat ke posisiku.
Wajahnya putih keruh, seperti kertas yang terlalu lama terendam air. Urat-urat biru kehijauan menjalar jelas di pipi dan dahinya.
Mulutnya tersenyum lebar dan basah, dengan darah pekat yang merembes dari sudut bibir, menetes ke dagu dan gaunnya. βDan matanya... Matanya tidak ada.
βHanya dua lubang hitam yang dalam dan kosong. Tapi dari kedalaman lubang itu, aku tahu pasti dia sedang menatapku.
9
Napas yang tertahan di tenggorokanku akhirnya pecah. Aku berteriak sekuat tenaga.
β"Ca... Ca! Caca!"
Bahuku diguncang keras. Aku membuka mata dan melihat wajah Rindi tepat di depan mukaku, wajahnya panik, rambutnya berantakan. Seluruh leher dan kausku basah oleh keringat dingin. Lampu tidur menyala, dan pintu kamar terbuka sedikit, sama seperti semula.
β"Lu kenapa teriak-teriak, gua kira lu kesurupan," katanya dengan napas terengah-engah.
Aku meraih ponsel dekat bantal, ternyata baru jam 04.32 pagi. Aku hanya bisa menghela nafas menenangkan diri.
βRindi mengambilkan air putih yang langsung kuhabiskan tanpa sisa. Tanganku masih gemetar hebat.
Ketika dia bertanya aku mimpi apa, aku cuma bilang kalau aku terlalu kecapekan. Mungkin karena akhir-akhir ini banyak kerjaan yang menumpuk, atau tidak terbiasa tidur di tempat baru.
Aku terpaksa berbohong. Sebenarnya aku cuma berpikir kalau aku cerita jujur, Rindi dan adiknya enggak akan pernah merasa tenang lagi tinggal di unit ini. Aku enggak mau jadi orang yang bikin rumah orang lain terasa enggak aman.
β"Ca... Ca! Caca!"
Bahuku diguncang keras. Aku membuka mata dan melihat wajah Rindi tepat di depan mukaku, wajahnya panik, rambutnya berantakan. Seluruh leher dan kausku basah oleh keringat dingin. Lampu tidur menyala, dan pintu kamar terbuka sedikit, sama seperti semula.
β"Lu kenapa teriak-teriak, gua kira lu kesurupan," katanya dengan napas terengah-engah.
Aku meraih ponsel dekat bantal, ternyata baru jam 04.32 pagi. Aku hanya bisa menghela nafas menenangkan diri.
βRindi mengambilkan air putih yang langsung kuhabiskan tanpa sisa. Tanganku masih gemetar hebat.
Ketika dia bertanya aku mimpi apa, aku cuma bilang kalau aku terlalu kecapekan. Mungkin karena akhir-akhir ini banyak kerjaan yang menumpuk, atau tidak terbiasa tidur di tempat baru.
Aku terpaksa berbohong. Sebenarnya aku cuma berpikir kalau aku cerita jujur, Rindi dan adiknya enggak akan pernah merasa tenang lagi tinggal di unit ini. Aku enggak mau jadi orang yang bikin rumah orang lain terasa enggak aman.
10
Sisa malam itu kami lalui tanpa tidur. Rindi menyalakan TV ruang tengah, dan kami cuma menatap layarnya tanpa benar-benar mencerna isinya. Jam tujuh pagi, aku langsung pesan ojek online, berpamitan, lalu tidur seharian begitu sampai di rumah.
βAku berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya sudah selesai di situ. Itu cuma mimpi buruk.
βMalam harinya, kondisiku merasa sudah membaik. Aku sempat makan malam bersama ibu, menonton TV sebentar, lalu naik ke kamarku di lantai dua sekitar jam sepuluh. Sebelum jam sebelas, seluruh lampu di lantai bawah sudah dimatikan.
Aku baru saja hampir terlelap, tiba-tiba... aku mendengar suara ketukan dari luar kamar.
βTok! Tok! Tok!
βTiga kali. Suaranya pelan dan teratur, dengan jeda yang rata seperti ketukan orang bertamu.
βKupikir ibuku mau menyuruh sesuatu. Aku bangun dan membuka pintu, tapi lorong di luar gelap dan kosong. Aku bilang ke diri sendiri itu pasti cuma suara pemuaian dinding, lalu aku berbaring lagi.
Namun tak lama kemudian, dari lantai bawah terdengar bunyi benda logam jatuh dan menggelinding jauh di atas keramik.
βAku berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya sudah selesai di situ. Itu cuma mimpi buruk.
βMalam harinya, kondisiku merasa sudah membaik. Aku sempat makan malam bersama ibu, menonton TV sebentar, lalu naik ke kamarku di lantai dua sekitar jam sepuluh. Sebelum jam sebelas, seluruh lampu di lantai bawah sudah dimatikan.
Aku baru saja hampir terlelap, tiba-tiba... aku mendengar suara ketukan dari luar kamar.
βTok! Tok! Tok!
βTiga kali. Suaranya pelan dan teratur, dengan jeda yang rata seperti ketukan orang bertamu.
βKupikir ibuku mau menyuruh sesuatu. Aku bangun dan membuka pintu, tapi lorong di luar gelap dan kosong. Aku bilang ke diri sendiri itu pasti cuma suara pemuaian dinding, lalu aku berbaring lagi.
Namun tak lama kemudian, dari lantai bawah terdengar bunyi benda logam jatuh dan menggelinding jauh di atas keramik.
11
Aku menunggu beberapa saat, berharap ada suara pintu kamar ibu terbuka untuk mengeceknya. Tapi tetap sunyi.
βLalu, bunyi itu berganti...
Langkah kaki kecil dan cepat terdengar berlarian di depan pintu kamarku. Bolak-balik. Padahal, di rumahku tidak ada anak kecil. Awalnya aku berpikir itu tikus.
Aku enggak bisa tidur lagi. Tenggorokanku mendadak kering. Daripada terus berbaring mendengarkan itu semua, aku memutuskan turun ke dapur untuk mengambil air minum.
βLorong di lantai atas gelap, cuma ada lampu kecil di dekat tangga yang menyala. Aku melangkah ke sana dan saat menaruh kaki di anak tangga pertama... Sontak aku kaget ketika melihat ke dasar tangga. Disana, seseorang sedang berdiri menghadap ke arahku.
βLalu, bunyi itu berganti...
Langkah kaki kecil dan cepat terdengar berlarian di depan pintu kamarku. Bolak-balik. Padahal, di rumahku tidak ada anak kecil. Awalnya aku berpikir itu tikus.
Aku enggak bisa tidur lagi. Tenggorokanku mendadak kering. Daripada terus berbaring mendengarkan itu semua, aku memutuskan turun ke dapur untuk mengambil air minum.
βLorong di lantai atas gelap, cuma ada lampu kecil di dekat tangga yang menyala. Aku melangkah ke sana dan saat menaruh kaki di anak tangga pertama... Sontak aku kaget ketika melihat ke dasar tangga. Disana, seseorang sedang berdiri menghadap ke arahku.
12
Kepalanya tertunduk dan wajahnya tertutup rapat oleh rambut hitam yang menjuntai ke depan. Tapi aku tidak perlu melihat wajahnya untuk tahu siapa dia...
βGaun merah basah itu menjuntai menyentuh lantai. Ujung rambutnya yang panjang merayap naik, merayap di anak tangga tepat beberapa sentimeter di bawah kakiku...
Tubuhku mengenali kehadirannya lebih dulu daripada pikiranku, rasa dinginnya sama, disusul bau amis darah dan bangkai yang menyengat.
βDi sekeliling tempatnya berdiri, ada tetesan air gelap seperti darah yang membusuk di atas keramik. Padahal lantai rumahku tidak pernah seperti itu.
Ini bukan mimpi... Dia berdiri persis seperti sosok yang kulihat di apartemen, dan dia menungguku di bawah tangga seolah sudah tahu aku akan turun.
βAku mau menjerit, tapi suaraku terkunci total. Tenggorokanku seperti dicengkeram tangan yang kuat dari dalam.
βGaun merah basah itu menjuntai menyentuh lantai. Ujung rambutnya yang panjang merayap naik, merayap di anak tangga tepat beberapa sentimeter di bawah kakiku...
Tubuhku mengenali kehadirannya lebih dulu daripada pikiranku, rasa dinginnya sama, disusul bau amis darah dan bangkai yang menyengat.
βDi sekeliling tempatnya berdiri, ada tetesan air gelap seperti darah yang membusuk di atas keramik. Padahal lantai rumahku tidak pernah seperti itu.
Ini bukan mimpi... Dia berdiri persis seperti sosok yang kulihat di apartemen, dan dia menungguku di bawah tangga seolah sudah tahu aku akan turun.
βAku mau menjerit, tapi suaraku terkunci total. Tenggorokanku seperti dicengkeram tangan yang kuat dari dalam.
13
Perlahan kepalanya mendongak ke arahku. Dua lubang hitam di bagian matanya kembali menatapku...
Senyumnya melebar, robek sampai ke pipi, mengalirkan darah pekat yang menetes satu-satu ke lantai. Tetas... tetas... Aku bisa mendengar bunyi tetesannya di tengah kesunyian.
Aku memaksa kakiku yang berat untuk bergerak. Aku berbalik dan berlari sekuat tenaga ke kamar, membanting pintu, memutar kunci dua kali, lalu menerobos masuk ke bawah selimut dengan seluruh tubuh yang gemetar hebat.
Aku membaca semua doa yang bisa kuingat, lidahku berbelit, terbalik-balik, yang penting terus mengalir.
βHening beberapa saat. Tak lama, suara langkah kaki itu terdengar lagi...
Langkahnya berat, naik satu per satu menaiki anak tangga. Berjalan pelan menyusuri lorong, lalu berhenti tepat di depan pintuku...
βAku tahu pintu itu terkunci. Tapi aku bisa merasakan kehadirannya menembus kayu, berjalan mendekati tempat tidur sampai berhenti persis di sisiku...
Senyumnya melebar, robek sampai ke pipi, mengalirkan darah pekat yang menetes satu-satu ke lantai. Tetas... tetas... Aku bisa mendengar bunyi tetesannya di tengah kesunyian.
Aku memaksa kakiku yang berat untuk bergerak. Aku berbalik dan berlari sekuat tenaga ke kamar, membanting pintu, memutar kunci dua kali, lalu menerobos masuk ke bawah selimut dengan seluruh tubuh yang gemetar hebat.
Aku membaca semua doa yang bisa kuingat, lidahku berbelit, terbalik-balik, yang penting terus mengalir.
βHening beberapa saat. Tak lama, suara langkah kaki itu terdengar lagi...
Langkahnya berat, naik satu per satu menaiki anak tangga. Berjalan pelan menyusuri lorong, lalu berhenti tepat di depan pintuku...
βAku tahu pintu itu terkunci. Tapi aku bisa merasakan kehadirannya menembus kayu, berjalan mendekati tempat tidur sampai berhenti persis di sisiku...
14
"Pergi..." bisikku dari balik selimut. Suaraku pecah. "Pergi! Jangan ganggu saya! Saya enggak kenal kamu!"
βTidak ada jawaban. Yang kudengar cuma helaan napas dingin yang membuatku semakin takut.
βAku memejamkan mata sekuat mungkin dan mengulang doa dari awal sampai suaraku habis. Hingga perlahan kamar kembali sunyi, dan rasa lelah memaksaku tertidur dalam tangis.
Gangguan itu berlangsung tiga malam berturut-turut, dan di malam ketiga aku menyerah.
Aku menelepon Rindi dan menceritakan semuanya dari awal, dari pintu yang terbanting di apartemen, perempuan di mimpiku, sampai sosok di dasar tangga rumahku yang persis seperti di mimpi. Aku sudah siap kalau dia bakal tertawa dan menganggapku kebanyakan nonton film.
βTapi Rindi diam lama sekali di seberang telepon.
βLalu dengan suara pelan dan agak bergetar, dia berkata, "Ca... Gua juga ngalamin gangguan yang sama disini, tapi nggak sempe di liatin sosoknya."
Dia menghela napas berat. "Gua juga sebenernya takut, tapi selagi nggak ganggu fisik dan nampakin, gua berani-beraniin aja deh."
βTidak ada jawaban. Yang kudengar cuma helaan napas dingin yang membuatku semakin takut.
βAku memejamkan mata sekuat mungkin dan mengulang doa dari awal sampai suaraku habis. Hingga perlahan kamar kembali sunyi, dan rasa lelah memaksaku tertidur dalam tangis.
Gangguan itu berlangsung tiga malam berturut-turut, dan di malam ketiga aku menyerah.
Aku menelepon Rindi dan menceritakan semuanya dari awal, dari pintu yang terbanting di apartemen, perempuan di mimpiku, sampai sosok di dasar tangga rumahku yang persis seperti di mimpi. Aku sudah siap kalau dia bakal tertawa dan menganggapku kebanyakan nonton film.
βTapi Rindi diam lama sekali di seberang telepon.
βLalu dengan suara pelan dan agak bergetar, dia berkata, "Ca... Gua juga ngalamin gangguan yang sama disini, tapi nggak sempe di liatin sosoknya."
Dia menghela napas berat. "Gua juga sebenernya takut, tapi selagi nggak ganggu fisik dan nampakin, gua berani-beraniin aja deh."
15
Minggu berikutnya ibuku membawaku ke seorang ustadz kenalan temannya. Beliau enggak banyak bertanya. Cukup menatapku sebentar, lalu menutup mata.
βKatanya, sosok yang mengikutiku itu tidak sedang marah, dan bukan juga berniat mencelakakanku.
β"Dia cuma suka sama kamu," kata Ustadz itu. "Kalau kata orang dulu istilahnya tulang wangi. Orang yang memiliki weton tulang wangi dipercaya disukai atau mudah menarik perhatian makhluk gaib.."
βSekarang aku sudah tidak mengalami gangguan itu, tapi sampai sekarang aku masih trauma kalau diajak menginap di apartemen itu lagi.
Dan sekarang, kalau ada yang bercerita soal hantu di depanku, aku enggak lagi membantah. Mungkin aku cuma diem dengerin, dan teringat kembali pada malam itu.
β SELESAI
βKatanya, sosok yang mengikutiku itu tidak sedang marah, dan bukan juga berniat mencelakakanku.
β"Dia cuma suka sama kamu," kata Ustadz itu. "Kalau kata orang dulu istilahnya tulang wangi. Orang yang memiliki weton tulang wangi dipercaya disukai atau mudah menarik perhatian makhluk gaib.."
βSekarang aku sudah tidak mengalami gangguan itu, tapi sampai sekarang aku masih trauma kalau diajak menginap di apartemen itu lagi.
Dan sekarang, kalau ada yang bercerita soal hantu di depanku, aku enggak lagi membantah. Mungkin aku cuma diem dengerin, dan teringat kembali pada malam itu.
β SELESAI

