Cerita ini berangkat dari sebuah kejadian yang pernah dialami oleh...

𝐀𝐊𝐒𝐀𝐑𝐀 𝐊𝐄𝐋𝐀𝐌@KaisarMalek_
31 views
Oct 01, 2026
~18 min read
Advertisement
1
Cerita ini berangkat dari sebuah kejadian yang pernah dialami oleh seseorang yang dekat denganku
Kejadian tersebut kemudian kucoba susun kembali menjadi sebuah cerita seperti yang nanti kalian baca..
Dan setiap kali malam itu kembali dibahas, ada satu kalimat yang hampir selalu ia ulang.
"Saya tidak gila."
#ceritahorror #threadhorror izin tag : @IDN_Horor @ceritaht @bacahorror
Kejadian tersebut kemudian kucoba susun kembali menjadi sebuah cerita seperti yang nanti kalian baca..
Dan setiap kali malam itu kembali dibahas, ada satu kalimat yang hampir selalu ia ulang.
"Saya tidak gila."
#ceritahorror #threadhorror izin tag : @IDN_Horor @ceritaht @bacahorror
2
Lobi apartemen malam itu tidak benar-benar sepi. Pintu kaca di sisi depan sesekali terbuka, membiarkan penghuni keluar masuk. Ada yang baru pulang kerja, ada yang membawa kantong belanjaan, sebagian hanya lewat sambil menunduk menatap ponsel
Di sudut ruangan, televisi kecil milik petugas keamanan menyala tanpa benar-benar ditonton. Suaranya melebur dengan dengung pendingin ruangan yang memenuhi lobi sejak tadi
Namun di tengah lalu-lalang itu ada sesuatu yang nampak janggal dan gelisah
Seorang perempuan berdiri di dekat pintu masuk, menggenggam ponselnya erat-erat. Sudah hampir setengah jam ia di sana. Setiap pintu kaca bergeser, kepalanya refleks menoleh, berharap orang yang ditunggu akhirnya muncul
Tapi... Bukan. Bukan dia orangnya
Ia kembali melihat layar. Sudah belasan pesan terkirim, tapi tak satu pun dibalas. Beberapa kali ia menelepon, hasilnya sama. Ia kembali menatap pintu kaca, berharap orang yang ditunggu akhirnya muncul
Di sudut ruangan, televisi kecil milik petugas keamanan menyala tanpa benar-benar ditonton. Suaranya melebur dengan dengung pendingin ruangan yang memenuhi lobi sejak tadi
Namun di tengah lalu-lalang itu ada sesuatu yang nampak janggal dan gelisah
Seorang perempuan berdiri di dekat pintu masuk, menggenggam ponselnya erat-erat. Sudah hampir setengah jam ia di sana. Setiap pintu kaca bergeser, kepalanya refleks menoleh, berharap orang yang ditunggu akhirnya muncul
Tapi... Bukan. Bukan dia orangnya
Ia kembali melihat layar. Sudah belasan pesan terkirim, tapi tak satu pun dibalas. Beberapa kali ia menelepon, hasilnya sama. Ia kembali menatap pintu kaca, berharap orang yang ditunggu akhirnya muncul
3
Cemas dan takut menyelimuti wajahnya seperti seseorang yang sedang menunggu sesuatu yang jauh lebih buruk daripada sekadar keterlambatan..
Pintu kembali bergeser. Seorang pria masuk sambil menenteng helm. Perempuan itu kembali mengangkat kepala, lalu mengembuskannya pelan ketika menyadari orang itu bukan yang ia tunggu.
Ia menunduk cemas, menekan tombol panggil untuk entah yang keberapa kalinya malam itu. Kali ini panggilannya tersambung..
"Lu cepetan pulang sekarang. Ada yang nggak beres."
Terdengar suara samar dari seberang. "Nggak beres apaan sih? Nggak jelas lu. Ngomong yang bener."
Perempuan itu menoleh sekilas ke arah pintu masuk. Jantungnya kembali terpacu saat melihat bayangan seseorang mendekat dari luar.
Ia menelan ludah. "Udah. Intinya pulang sekarang. Gua tunggu." Ia langsung mematikan telfonnya.
"Eh, kenap..."
Sambungan terputus.
Pintu kembali bergeser. Seorang pria masuk sambil menenteng helm. Perempuan itu kembali mengangkat kepala, lalu mengembuskannya pelan ketika menyadari orang itu bukan yang ia tunggu.
Ia menunduk cemas, menekan tombol panggil untuk entah yang keberapa kalinya malam itu. Kali ini panggilannya tersambung..
"Lu cepetan pulang sekarang. Ada yang nggak beres."
Terdengar suara samar dari seberang. "Nggak beres apaan sih? Nggak jelas lu. Ngomong yang bener."
Perempuan itu menoleh sekilas ke arah pintu masuk. Jantungnya kembali terpacu saat melihat bayangan seseorang mendekat dari luar.
Ia menelan ludah. "Udah. Intinya pulang sekarang. Gua tunggu." Ia langsung mematikan telfonnya.
"Eh, kenap..."
Sambungan terputus.
4
Ia menurunkan ponselnya dan tetap berdiri di sana. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak tinggal di apartemen tersebut, ia memilih menunggu di lobi daripada kembali ke unit yang selama setahun terakhir ia sebut sebagai rumah.
Padahal beberapa jam sebelumnya, malam itu seharusnya berjalan seperti malam-malam biasa..
***
Hari itu aku terbangun beberapa menit sebelum azan magrib. Lalu melangkah keluar kamar sambil memicing menatap layar ponsel yang menyilaukan, suara televisi di ruang tengah sudah lebih dulu menyapa. Sepupuku duduk di sofa dengan laptop terbuka di pangkuannya. Di sebelahnya ada sebungkus keripik yang tinggal separuh..
Aku berhenti sebentar di ambang pintu, menyadarkan punggung. "Lu udah makan, Kak?"
Ia tak langsung menjawab. Tangannya masih sibuk meliuk di atas touchpad, sesekali merogoh sisa keripik tanpa mengalihkan pandangan.
"Hmm... Udah sih, tadi siang. Masak mie. Lu mau makan?"
Aku berjalan mendekat lalu menjatuhkan badan ke sofa di sebelahnya. "Iyaa nih, belum makan dari pagi."
Ia tertawa kecil tanpa mengalihkan pandangan dari laptop. "Tidur mulu sih lu, pesen GoFood aja sana, sekalian buat malem."
Aku mengangguk setuju sambil memijat leher yang kaku, lalu membuka aplikasi makanan di ponsel. "Eh tapi, nanti malem gua mau keluar, Kak."
"Kemana sih? Sok sibuk banget." Tanyanya sedikit bercanda.
"Mau nongkrong di rumah temen. Paling balik pagi atau sekalian subuh."
"Yaudah iya." Ucapnya, entah peduli atau tidak.
Di luar, langit Jakarta perlahan berganti kulit. Cahaya sore yang sejak tadi menggantung kusam di antara gedung-gedung bertingkat mulai tenggelam.
Padahal beberapa jam sebelumnya, malam itu seharusnya berjalan seperti malam-malam biasa..
***
Hari itu aku terbangun beberapa menit sebelum azan magrib. Lalu melangkah keluar kamar sambil memicing menatap layar ponsel yang menyilaukan, suara televisi di ruang tengah sudah lebih dulu menyapa. Sepupuku duduk di sofa dengan laptop terbuka di pangkuannya. Di sebelahnya ada sebungkus keripik yang tinggal separuh..
Aku berhenti sebentar di ambang pintu, menyadarkan punggung. "Lu udah makan, Kak?"
Ia tak langsung menjawab. Tangannya masih sibuk meliuk di atas touchpad, sesekali merogoh sisa keripik tanpa mengalihkan pandangan.
"Hmm... Udah sih, tadi siang. Masak mie. Lu mau makan?"
Aku berjalan mendekat lalu menjatuhkan badan ke sofa di sebelahnya. "Iyaa nih, belum makan dari pagi."
Ia tertawa kecil tanpa mengalihkan pandangan dari laptop. "Tidur mulu sih lu, pesen GoFood aja sana, sekalian buat malem."
Aku mengangguk setuju sambil memijat leher yang kaku, lalu membuka aplikasi makanan di ponsel. "Eh tapi, nanti malem gua mau keluar, Kak."
"Kemana sih? Sok sibuk banget." Tanyanya sedikit bercanda.
"Mau nongkrong di rumah temen. Paling balik pagi atau sekalian subuh."
"Yaudah iya." Ucapnya, entah peduli atau tidak.
Di luar, langit Jakarta perlahan berganti kulit. Cahaya sore yang sejak tadi menggantung kusam di antara gedung-gedung bertingkat mulai tenggelam.
5
Begitu pesanan terkonfirmasi, aku meletakkan ponsel di meja. "Ntar kalau driver-nya udah sampai, tolong ambilin ya. Gua mau mandi dulu."
"Iya." Ucapnya.
Aku melangkah ke kamar mandi. Suara televisi dan ketukan keyboard perlahan meredup, tenggelam di balik gemericik air.
Setelah selesai mandi, suara sepupuku terdengar dari ruang tengah. "Jar, driver nya udah di lobi!."
"Kan tadi gua bilang tolong ambilin, gimana sih! Gua masih pake baju dulu," teriakku dari dalam.
"Iya, bawel."
Beberapa menit kemudian ia kembali membawa dua kantong plastik. Kami makan lesehan di depan televisi yang terus menyala. Salurannya beberapa kali berganti, tapi tak satu pun benar-benar kami tonton.
Di tengah-tengah suapan, tiba-tiba ia meletakkan sendoknya. "Gua kayaknya ngerasain ada yang gak beres deh semenjak tinggal di sini..."
Aku yang sedang merobek bungkus sambal cuma meliriknya sekilas. "Gak beres kenapa? Otak lu gak beres?" Ujarku bergurau.
"Sialan!" Ucapnya. Ia membetulkan posisi duduknya dan kembali melanjutkan. "Gua serius. Gua mau cerita sesuatu, tapi lu pasti nggak bakal percaya."
Aku tertawa tipis. "Yaudah cerita deh pelan-pelan."
Hening menggantung beberapa detik sebelum ia akhirnya bersuara lagi. "Beberapa hari lalu gua kebangun tengah malem... gara-gara lampu kamar mati nyala sendiri."
Aku mengangkat kepala, menatapnya heran. "Serius lu kak?"
"Iyaa, gua serius, Jar.."
"Iya." Ucapnya.
Aku melangkah ke kamar mandi. Suara televisi dan ketukan keyboard perlahan meredup, tenggelam di balik gemericik air.
Setelah selesai mandi, suara sepupuku terdengar dari ruang tengah. "Jar, driver nya udah di lobi!."
"Kan tadi gua bilang tolong ambilin, gimana sih! Gua masih pake baju dulu," teriakku dari dalam.
"Iya, bawel."
Beberapa menit kemudian ia kembali membawa dua kantong plastik. Kami makan lesehan di depan televisi yang terus menyala. Salurannya beberapa kali berganti, tapi tak satu pun benar-benar kami tonton.
Di tengah-tengah suapan, tiba-tiba ia meletakkan sendoknya. "Gua kayaknya ngerasain ada yang gak beres deh semenjak tinggal di sini..."
Aku yang sedang merobek bungkus sambal cuma meliriknya sekilas. "Gak beres kenapa? Otak lu gak beres?" Ujarku bergurau.
"Sialan!" Ucapnya. Ia membetulkan posisi duduknya dan kembali melanjutkan. "Gua serius. Gua mau cerita sesuatu, tapi lu pasti nggak bakal percaya."
Aku tertawa tipis. "Yaudah cerita deh pelan-pelan."
Hening menggantung beberapa detik sebelum ia akhirnya bersuara lagi. "Beberapa hari lalu gua kebangun tengah malem... gara-gara lampu kamar mati nyala sendiri."
Aku mengangkat kepala, menatapnya heran. "Serius lu kak?"
"Iyaa, gua serius, Jar.."
6
Aku membiarkannya melanjutkan, wajahnya tampak serius. "Awalnya gua pikir cuma ilusi mata karena baru bangun. Tapi lama-lama makin jelas. Kayak ada yang sengaja mainin saklar."
Aku mengernyit. "Lampunya mau putus kali, atau korslet."
"Nggak, gua udah panggil teknisi siangnya."
"Terus katanya apa?." Tanyaku sambil sesekali menyuap makanan.
"Gak ada yang bermasalah. Dan anehnya, pas sebelum gua keluar kamar itu, saklar nya gak berubah. Tetep cetek kebawah."
Aku terkekeh kecil, lalu kembali menyuap nasi. "Oh... Jadi itu alesan lu tidur di luar, gua kira lu kedinginan di kamar."
Ia langsung menunjukku dengan ujung sendok plastiknya. "Nah! Lu inget kan?"
"Mungkin setannya suka sama lu," godaku santai.
Gumpalan tisu bekas pakai langsung melayang tepat menghantam dadaku. Aku tertawa lepas, sementara ia ikut tertawa dan kembali menyuap makanannya. Wajah tegangnya melunak menjadi senyuman.
Obrolan soal lampu itu pun lewat begitu saja, tanpa kami pikirkan lagi...
Aku mengernyit. "Lampunya mau putus kali, atau korslet."
"Nggak, gua udah panggil teknisi siangnya."
"Terus katanya apa?." Tanyaku sambil sesekali menyuap makanan.
"Gak ada yang bermasalah. Dan anehnya, pas sebelum gua keluar kamar itu, saklar nya gak berubah. Tetep cetek kebawah."
Aku terkekeh kecil, lalu kembali menyuap nasi. "Oh... Jadi itu alesan lu tidur di luar, gua kira lu kedinginan di kamar."
Ia langsung menunjukku dengan ujung sendok plastiknya. "Nah! Lu inget kan?"
"Mungkin setannya suka sama lu," godaku santai.
Gumpalan tisu bekas pakai langsung melayang tepat menghantam dadaku. Aku tertawa lepas, sementara ia ikut tertawa dan kembali menyuap makanannya. Wajah tegangnya melunak menjadi senyuman.
Obrolan soal lampu itu pun lewat begitu saja, tanpa kami pikirkan lagi...
7
Menjelang pukul tujuh malam, aku sudah berdiri di dekat pintu depan sambil merapikan tali sepatu. Sepupuku masih duduk di kursi pantry dekat dapur, sibuk menggulir layar ponselnya sementara laptop yang tadi dipakainya masih terbuka di atas meja.
"Kak, gua pergi dulu ya."
"Iya. Hati-hati lu," jawabnya tanpa berpaling dari layar.
Aku merogoh saku celana, memastikan dompet dan kunci unit sudah aman.
"Akses jangan lupa. Takutnya gua tidur, males turun." celetuknya.
Aku mengacungkan kartu akses di depan wajahnya. "Iya, tenang aja."
Ia mendecak pelan. Aku tertawa kecil sambil membuka pintu. "Yaudah, Kak. Gua jalan dulu."
"Hm, hati-hati."
Pintu kayu tebal itu tertutup rapat di belakangku. Aku baru melangkah beberapa meter menyusuri lorong menuju lift ketika tiba-tiba... sebuah ide jahat melintas di kepalaku
Aku berbalik, kembali kedepan unit, lalu memutar gagang pintu dan membukanya sedikit.
Kepala sepupuku langsung terangkat kaget. Belum sempat ia berbicara, aku sudah lebih dulu menyeringai lebar.
"Awas, Kak... Nanti setan yang suka mainin lampu minta tidur sebelah lu." Aku langsung tertawa puas dan bergegas menarik pintu kembali.
"Kurang ajar!" teriaknya dari dalam. Suara bantal sofa yang dihantamkan ke pintu menjadi hal terakhir yang kudengar sebelum aku menuju pintu lift, beberapa detik kemudian, pintu lift terbuka dan menelanku turun.
"Kak, gua pergi dulu ya."
"Iya. Hati-hati lu," jawabnya tanpa berpaling dari layar.
Aku merogoh saku celana, memastikan dompet dan kunci unit sudah aman.
"Akses jangan lupa. Takutnya gua tidur, males turun." celetuknya.
Aku mengacungkan kartu akses di depan wajahnya. "Iya, tenang aja."
Ia mendecak pelan. Aku tertawa kecil sambil membuka pintu. "Yaudah, Kak. Gua jalan dulu."
"Hm, hati-hati."
Pintu kayu tebal itu tertutup rapat di belakangku. Aku baru melangkah beberapa meter menyusuri lorong menuju lift ketika tiba-tiba... sebuah ide jahat melintas di kepalaku
Aku berbalik, kembali kedepan unit, lalu memutar gagang pintu dan membukanya sedikit.
Kepala sepupuku langsung terangkat kaget. Belum sempat ia berbicara, aku sudah lebih dulu menyeringai lebar.
"Awas, Kak... Nanti setan yang suka mainin lampu minta tidur sebelah lu." Aku langsung tertawa puas dan bergegas menarik pintu kembali.
"Kurang ajar!" teriaknya dari dalam. Suara bantal sofa yang dihantamkan ke pintu menjadi hal terakhir yang kudengar sebelum aku menuju pintu lift, beberapa detik kemudian, pintu lift terbuka dan menelanku turun.
8
Semuanya masih terasa normal. Aku pergi dengan pikiran sederhana, malam ini nongkrong, pulang pagi, lalu tidur.
Sementara itu, jauh di atas sana, sepupuku kembali duduk sendirian di dalam unit. Lampu-lampu ruangan masih terang, dan malam berjalan seperti biasanya.
Ia belum tahu, beberapa jam setelah aku pergi, suara yang paling ia kenal justru akan terdengar kembali dari dalam apartemen itu.
Suara seseorang yang seharusnya sudah tidak berada di sana.
***
Sekitar pukul setengah sepuluh malam, suasana unit apartemen masih sama seperti saat kutinggalkan. Lampu ruang tengah menyala terang, televisi masih menyala dari tadi, dan pendingin ruangan terus berdengung mengisi ruangan dengan udara dingin.
Dari balik jendela kaca, cahaya gedung-gedung di seberang tampak bertebaran di antara langit Jakarta yang sudah gelap.
Sepupuku sudah berada di kamar sejak sekitar pukul delapan. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di laptop, ia menghabiskan malam dengan video call bersama pacarnya yang berada di Medan.
Percakapan mereka ngalor-ngidul seperti biasa, kadang membicarakan hal sepele, kadang berhenti hanya karena salah satu dari mereka sibuk melihat ponsel sendiri.
Malam itu berjalan biasa saja sampai sebuah bunyi terdengar dari luar kamar.
Sementara itu, jauh di atas sana, sepupuku kembali duduk sendirian di dalam unit. Lampu-lampu ruangan masih terang, dan malam berjalan seperti biasanya.
Ia belum tahu, beberapa jam setelah aku pergi, suara yang paling ia kenal justru akan terdengar kembali dari dalam apartemen itu.
Suara seseorang yang seharusnya sudah tidak berada di sana.
***
Sekitar pukul setengah sepuluh malam, suasana unit apartemen masih sama seperti saat kutinggalkan. Lampu ruang tengah menyala terang, televisi masih menyala dari tadi, dan pendingin ruangan terus berdengung mengisi ruangan dengan udara dingin.
Dari balik jendela kaca, cahaya gedung-gedung di seberang tampak bertebaran di antara langit Jakarta yang sudah gelap.
Sepupuku sudah berada di kamar sejak sekitar pukul delapan. Setelah menyelesaikan pekerjaannya di laptop, ia menghabiskan malam dengan video call bersama pacarnya yang berada di Medan.
Percakapan mereka ngalor-ngidul seperti biasa, kadang membicarakan hal sepele, kadang berhenti hanya karena salah satu dari mereka sibuk melihat ponsel sendiri.
Malam itu berjalan biasa saja sampai sebuah bunyi terdengar dari luar kamar.
9
Klek.
Bunyi karet pintu kulkas yang dirapatkan.
Suara itu begitu biasa, begitu lekat dengan rutinitas harian hingga tak ada alasan untuk curiga..
Karena tahu aku pergi sejak sore, sepupuku langsung mengira aku pulang lebih cepat dari yang kubilang tadi.
Tanpa beranjak dari tempat tidur, ia berteriak ke arah pintu kamar.
"Cepet banget lu udah balik. Katanya pulang subuh?"
Keheningan menyambut. Tak ada sautan dari luar.
Namun, jeda itu tak membuatnya berpikir macam-macam. Luas apartemen kami tidak seberapa. Jika aku memang baru masuk, paling-paling aku sedang menuang air minum atau meletakkan barang, terlalu sibuk untuk membalas teriakan dari dalam kamar.
Ia kembali menatap layar ponselnya, melanjutkan obrolan yang sempat terputus.
Waktu merambat pelan tanpa ada hal lain yang mencurigakan.
Beberapa menit kemudian, ketika obrolan mereka mulai kehabisan bahan, terdengar suara dari arah kamar mandi. Sepupuku yang masih setengah bersandar di kepala ranjang sempat menoleh ke arah pintu, lalu mendengar deheman yang begitu ia kenal... Itu suaraku
Bunyi karet pintu kulkas yang dirapatkan.
Suara itu begitu biasa, begitu lekat dengan rutinitas harian hingga tak ada alasan untuk curiga..
Karena tahu aku pergi sejak sore, sepupuku langsung mengira aku pulang lebih cepat dari yang kubilang tadi.
Tanpa beranjak dari tempat tidur, ia berteriak ke arah pintu kamar.
"Cepet banget lu udah balik. Katanya pulang subuh?"
Keheningan menyambut. Tak ada sautan dari luar.
Namun, jeda itu tak membuatnya berpikir macam-macam. Luas apartemen kami tidak seberapa. Jika aku memang baru masuk, paling-paling aku sedang menuang air minum atau meletakkan barang, terlalu sibuk untuk membalas teriakan dari dalam kamar.
Ia kembali menatap layar ponselnya, melanjutkan obrolan yang sempat terputus.
Waktu merambat pelan tanpa ada hal lain yang mencurigakan.
Beberapa menit kemudian, ketika obrolan mereka mulai kehabisan bahan, terdengar suara dari arah kamar mandi. Sepupuku yang masih setengah bersandar di kepala ranjang sempat menoleh ke arah pintu, lalu mendengar deheman yang begitu ia kenal... Itu suaraku
10
Nada dan cara dehemnya sama seperti yang hampir setiap hari ia dengar selama setahun tinggal bersama di apartemen itu..
Karena sejak tadi ia mengira aku sudah pulang, suara tersebut sama sekali tidak membuatnya curiga.. Paling aku sedang mandi atau sekadar cuci muka sebelum kembali ke kamar
Di dalam kepalanya, skenario itu sudah sempurna, aku sudah di rumah, aku sedang mandi atau cuci muka.
Maka ia tetap bertahan di dalam kamar. Tetap tertawa menatap layar ponselnya. Tetap menghabiskan malam dengan perasaan aman yang palsu, tanpa menyadari satu celah fatal yang terlupakan.
Ia pun kembali melanjutkan obrolannya dengan pacarnya, sesekali tertawa mendengar cerita dari seberang layar.
Entah di menit ke berapa, kantuk datang menyerang lebih cepat daripada topik obrolan mereka. Sepupuku tertidur dengan ponsel masih menyala di samping bantal.
Panggilan video dengan pacarnya tetap tersambung seperti biasanya, meski percakapan mereka sudah lama berhenti dan hanya menyisakan wajah masing-masing di layar.
Karena sejak tadi ia mengira aku sudah pulang, suara tersebut sama sekali tidak membuatnya curiga.. Paling aku sedang mandi atau sekadar cuci muka sebelum kembali ke kamar
Di dalam kepalanya, skenario itu sudah sempurna, aku sudah di rumah, aku sedang mandi atau cuci muka.
Maka ia tetap bertahan di dalam kamar. Tetap tertawa menatap layar ponselnya. Tetap menghabiskan malam dengan perasaan aman yang palsu, tanpa menyadari satu celah fatal yang terlupakan.
Ia pun kembali melanjutkan obrolannya dengan pacarnya, sesekali tertawa mendengar cerita dari seberang layar.
Entah di menit ke berapa, kantuk datang menyerang lebih cepat daripada topik obrolan mereka. Sepupuku tertidur dengan ponsel masih menyala di samping bantal.
Panggilan video dengan pacarnya tetap tersambung seperti biasanya, meski percakapan mereka sudah lama berhenti dan hanya menyisakan wajah masing-masing di layar.
11
Beberapa waktu kemudian, pacarnya yang masih terjaga mulai mendengar suara samar dari seberang panggilan. Mula-mula ia mengira suara itu berasal dari rumahnya sendiri, tetapi setelah beberapa saat ia sadar bunyi itu terus terdengar dari ponsel.
Seperti suara air yang mengalir.
Ia membesarkan volume ponselnya, lalu mendekatkan telinga. Suara itu masih ada, bahkan terdengar lebih jelas. Ia membangunkan sepupuku yang sudah tenggelam ke dalam mimpinya. "Yang... bangun, Sayang." Tak ada jawaban.
Ia memanggil lagi, kali ini sedikit lebih keras, sampai akhirnya sepupuku bergerak di atas kasur dan membuka mata dengan wajah mengantuk. "Apaan sih..."
Pacarnya langsung bertanya, "Itu suara air dari mana?"
"Air apaan?"
"Coba dengerin. Kayaknya dari tempat kamu."
Sepupuku yang masih setengah sadar akhirnya diam dan memperhatikan suara di sekelilingnya. Beberapa detik kemudian, ia mendengarnya juga. Suara air mengalir cukup deras dari arah luar kamar. Kantuknya langsung hilang.
Ia bangkit, membuka pintu kamar, lalu mendapati ruang tengah masih sama seperti sebelum ia tertidur. Lampu menyala terang, AC tetap berdengung, dan tak ada sesuatu yang tampak aneh.
Sampai pandangannya jatuh ke dapur...
Air sudah meluap dari wastafel, membasahi meja pantry dan mengalir deras ke lantai.
Ia berdiri di ambang kamar sambil menatap genangan yang semakin melebar.. Bukan takut yang pertama kali muncul di kepalanya, melainkan rasa kesal.
Dalam pikirannya cuma ada satu kemungkinan, Fajar pasti sudah pulang dan teledor lupa mematikan keran.
Seperti suara air yang mengalir.
Ia membesarkan volume ponselnya, lalu mendekatkan telinga. Suara itu masih ada, bahkan terdengar lebih jelas. Ia membangunkan sepupuku yang sudah tenggelam ke dalam mimpinya. "Yang... bangun, Sayang." Tak ada jawaban.
Ia memanggil lagi, kali ini sedikit lebih keras, sampai akhirnya sepupuku bergerak di atas kasur dan membuka mata dengan wajah mengantuk. "Apaan sih..."
Pacarnya langsung bertanya, "Itu suara air dari mana?"
"Air apaan?"
"Coba dengerin. Kayaknya dari tempat kamu."
Sepupuku yang masih setengah sadar akhirnya diam dan memperhatikan suara di sekelilingnya. Beberapa detik kemudian, ia mendengarnya juga. Suara air mengalir cukup deras dari arah luar kamar. Kantuknya langsung hilang.
Ia bangkit, membuka pintu kamar, lalu mendapati ruang tengah masih sama seperti sebelum ia tertidur. Lampu menyala terang, AC tetap berdengung, dan tak ada sesuatu yang tampak aneh.
Sampai pandangannya jatuh ke dapur...
Air sudah meluap dari wastafel, membasahi meja pantry dan mengalir deras ke lantai.
Ia berdiri di ambang kamar sambil menatap genangan yang semakin melebar.. Bukan takut yang pertama kali muncul di kepalanya, melainkan rasa kesal.
Dalam pikirannya cuma ada satu kemungkinan, Fajar pasti sudah pulang dan teledor lupa mematikan keran.
12
Sambil menggerutu pelan, sepupuku memutar keran sampai rapat. Air yang terlanjur meluap sudah membasahi sebagian lantai pantry, membuatnya menyambar lap kain untuk mengeringkan genangan yang mulai melebar.
Ponselnya masih tergeletak di atas meja, sementara suara pacarnya sesekali terdengar dari pengeras suara..
Ia hanya menjawab sekenanya sambil terus mengelap lantai, pikirannya masih dipenuhi kekesalan kepadaku yang ia kira sudah pulang diam-diam, mengambil sesuatu ke dapur, lalu teledor lupa mematikan keran.
Sesuatu yang menjengkelkan, tapi sangat masuk akal.
Setelah lantai cukup kering, ia berdiri dan mengembuskan napas panjang. Apartemen kembali tenang seperti semula, hanya suara AC yang terdengar samar dari atas plafon.
Saat itulah sebuah kejanggalan kecil terlintas di kepalanya. Sejak keluar kamar tadi, ia belum benar-benar melihat batang hidungku.
Namun pikiran itu cuma bertengger sepersekian detik. Sebab hampir bersamaan, dari arah kamarku terdengar bunyi kursi di geser yang membuat keyakinannya kembali bulat.
Dan baginya, itu sudah lebih dari cukup..
Ponselnya masih tergeletak di atas meja, sementara suara pacarnya sesekali terdengar dari pengeras suara..
Ia hanya menjawab sekenanya sambil terus mengelap lantai, pikirannya masih dipenuhi kekesalan kepadaku yang ia kira sudah pulang diam-diam, mengambil sesuatu ke dapur, lalu teledor lupa mematikan keran.
Sesuatu yang menjengkelkan, tapi sangat masuk akal.
Setelah lantai cukup kering, ia berdiri dan mengembuskan napas panjang. Apartemen kembali tenang seperti semula, hanya suara AC yang terdengar samar dari atas plafon.
Saat itulah sebuah kejanggalan kecil terlintas di kepalanya. Sejak keluar kamar tadi, ia belum benar-benar melihat batang hidungku.
Namun pikiran itu cuma bertengger sepersekian detik. Sebab hampir bersamaan, dari arah kamarku terdengar bunyi kursi di geser yang membuat keyakinannya kembali bulat.
Dan baginya, itu sudah lebih dari cukup..
13
Sambil membawa lap yang masih basah, ia berjalan menuju pintu kamarku. Langkahnya santai, tanpa sedikit pun rasa curiga.. Ia bahkan masih sempat menggeleng sambil menghela napas, kesal karena dari tadi dipanggil tak juga menyahut.
"Lu budek apa gimana sih?" Tak ada jawaban sama sekali.
Ia berdiri tepat di depan pintu, lalu kembali bersuara, kali ini sedikit lebih keras.
"Air dari tadi nyala kaga lu matiin sampe banjir. Lu lagi ngapain sih di dalem?"
Tangannya meraih gagang pintu dan memutarnya perlahan. Yang ada dalam pikirannya saat itu cuma kepastian sederhana bahwa beberapa detik lagi pintu ini akan terbuka, dan ia bakal melihatku duduk di kasur sambil menyeringai mencari alasan karena sudah membuat dapur kebanjiran..
Namun, ketika pintu itu akhirnya terdorong perlahan, otaknya butuh beberapa detik jeda hanya untuk mencerna apa yang sedang ditangkap matanya..
"Lu budek apa gimana sih?" Tak ada jawaban sama sekali.
Ia berdiri tepat di depan pintu, lalu kembali bersuara, kali ini sedikit lebih keras.
"Air dari tadi nyala kaga lu matiin sampe banjir. Lu lagi ngapain sih di dalem?"
Tangannya meraih gagang pintu dan memutarnya perlahan. Yang ada dalam pikirannya saat itu cuma kepastian sederhana bahwa beberapa detik lagi pintu ini akan terbuka, dan ia bakal melihatku duduk di kasur sambil menyeringai mencari alasan karena sudah membuat dapur kebanjiran..
Namun, ketika pintu itu akhirnya terdorong perlahan, otaknya butuh beberapa detik jeda hanya untuk mencerna apa yang sedang ditangkap matanya..
14
Kamarku kosong melompong. Tak ada siapa-siapa...
Sprai kasur masih terbentang rapi tanpa bekas tubuh. Tak ada pakaian berserakan, tak ada barang yang bergeser, bahkan tak ada tanda bahwa seseorang baru saja berada di sana. Ruangan itu masih persis seperti saat kutinggalkan beberapa jam sebelumnya.
Ia tetap berdiri di ambang pintu, menatap sekeliling kamar mencoba memaksakan logika pada situasi yang mendadak runtuh..
Sebab beberapa menit sebelumnya, ia begitu yakin aku sudah pulang. Ia mendengar pintu kulkas ditutup, mendengar suara deheman dari kamar mandi, lalu bunyi kursi di geser dari kamar ini.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia tak tahu lagi harus mempercayai apa yang baru saja dialaminya.
Belum sempat pikirannya menemukan jawaban, sebuah bunyi terdengar dari arah belakangnya.
Ceklek.
“Sepupuku refleks menoleh. Gagang pintu kamarnya bergerak turun perlahan, lalu kembali ke posisi semula..
Sprai kasur masih terbentang rapi tanpa bekas tubuh. Tak ada pakaian berserakan, tak ada barang yang bergeser, bahkan tak ada tanda bahwa seseorang baru saja berada di sana. Ruangan itu masih persis seperti saat kutinggalkan beberapa jam sebelumnya.
Ia tetap berdiri di ambang pintu, menatap sekeliling kamar mencoba memaksakan logika pada situasi yang mendadak runtuh..
Sebab beberapa menit sebelumnya, ia begitu yakin aku sudah pulang. Ia mendengar pintu kulkas ditutup, mendengar suara deheman dari kamar mandi, lalu bunyi kursi di geser dari kamar ini.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia tak tahu lagi harus mempercayai apa yang baru saja dialaminya.
Belum sempat pikirannya menemukan jawaban, sebuah bunyi terdengar dari arah belakangnya.
Ceklek.
“Sepupuku refleks menoleh. Gagang pintu kamarnya bergerak turun perlahan, lalu kembali ke posisi semula..
15
Jantungnya seperti berhenti berdetak. Belum sempat ia memproses apa yang baru saja dilihatnya, bunyi itu kembali terdengar.
Ceklek. Ceklek.
Kali ini lebih cepat. Gagang pintu itu bergerak naik-turun. seolah ada seseorang dari balik pintu yang sedang mencoba memainkannya.
Tubuhnya sontak menegang. Ia berdiri di ambang pintu kamarku yang terbuka, sementara di sebelahnya, gagang pintu kamarnya sendiri terus bergerak tanpa ada siapa pun yang terlihat di baliknya kepalanya mendadak dipenuhi teror yang menusuk.
Ceklek. Ceklek. Ceklek!
Gerakannya semakin cepat dan tak beraturan. Lalu... semuanya mendadak berhenti.
Apartemen kembali sunyi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ia masih berdiri terpaku dengan kening yang mulai basah oleh keringat, mencoba mengatur napas sambil menunggu sesuatu yang entah apa akan terjadi selanjutnya.
Satu detik berlalu, lalu satu detik berikutnya. Belum sempat ia bergerak, tiba-tiba...
JEDAR!
Pintu kamarnya membanting dengan keras. Suaranya memantul di dinding beton, membuat tubuh sepupuku tersentak dan mundur sampai punggungnya menghantam dinding.
Di titik itu, semua kemungkinan yang sejak tadi ia coba cari sudah tidak penting lagi. Ia hanya tahu satu hal, ia harus keluar dari unit itu sekarang juga..
Ceklek. Ceklek.
Kali ini lebih cepat. Gagang pintu itu bergerak naik-turun. seolah ada seseorang dari balik pintu yang sedang mencoba memainkannya.
Tubuhnya sontak menegang. Ia berdiri di ambang pintu kamarku yang terbuka, sementara di sebelahnya, gagang pintu kamarnya sendiri terus bergerak tanpa ada siapa pun yang terlihat di baliknya kepalanya mendadak dipenuhi teror yang menusuk.
Ceklek. Ceklek. Ceklek!
Gerakannya semakin cepat dan tak beraturan. Lalu... semuanya mendadak berhenti.
Apartemen kembali sunyi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Ia masih berdiri terpaku dengan kening yang mulai basah oleh keringat, mencoba mengatur napas sambil menunggu sesuatu yang entah apa akan terjadi selanjutnya.
Satu detik berlalu, lalu satu detik berikutnya. Belum sempat ia bergerak, tiba-tiba...
JEDAR!
Pintu kamarnya membanting dengan keras. Suaranya memantul di dinding beton, membuat tubuh sepupuku tersentak dan mundur sampai punggungnya menghantam dinding.
Di titik itu, semua kemungkinan yang sejak tadi ia coba cari sudah tidak penting lagi. Ia hanya tahu satu hal, ia harus keluar dari unit itu sekarang juga..
16
Dengan tangan yang gemetaran hebat, ia menyambar ponselnya di atas meja. Tak peduli lagi sandal apa yang terpasang di kakinya, tak peduli lagi pintu unit terkunci atau tidak.
Yang ada di benaknya cuma satu, lari ke bawah, secepat mungkin.
Dada sepupuku rasanya mau meledak. Ia berlari menembus lorong luar dengan napas memburu, sementara suara dentum JEDAR! tadi masih terasa memantul-mantul di dalam kepalanya.
Begitu sampai di depan lift, jemarinya langsung menekan tombol pemanggil berkali-kali.
Tek! Tek! Tek! Tek!
Angka di atas pintu lift bergerak turun begitu lambat. Ia sempat menoleh ke belakang, memastikan pintu unit sudah tertutup rapat.
Baru setelah itu pandangannya kembali tertuju pada angka di atas lift yang terasa tak kunjung sampai.
Begitu pintu lift akhirnya berdentang dan terbuka, ia langsung masuk dan menekan tombol Lobi, disusul tombol tutup pintu berkali-kali.
Baru ketika pintu besi itu mulai merapat, ia berani mengembuskan napas panjang. Dadanya sedikit agak lega.
Namun di dalam lift yang sempit itu, pikirannya justru mulai dipenuhi pertanyaan yang sejak tadi ia coba hindari..
Kalau fajar memang belum pulang, lalu siapa yang menutup kulkas? Siapa yang dehem di kamar mandi? Dan siapa yang barusan mencoba membuka pintu kamarnya?
Sensasi dingin menjalar cepat dari tulang belakang ke seluruh tubuhnya.
Yang ada di benaknya cuma satu, lari ke bawah, secepat mungkin.
Dada sepupuku rasanya mau meledak. Ia berlari menembus lorong luar dengan napas memburu, sementara suara dentum JEDAR! tadi masih terasa memantul-mantul di dalam kepalanya.
Begitu sampai di depan lift, jemarinya langsung menekan tombol pemanggil berkali-kali.
Tek! Tek! Tek! Tek!
Angka di atas pintu lift bergerak turun begitu lambat. Ia sempat menoleh ke belakang, memastikan pintu unit sudah tertutup rapat.
Baru setelah itu pandangannya kembali tertuju pada angka di atas lift yang terasa tak kunjung sampai.
Begitu pintu lift akhirnya berdentang dan terbuka, ia langsung masuk dan menekan tombol Lobi, disusul tombol tutup pintu berkali-kali.
Baru ketika pintu besi itu mulai merapat, ia berani mengembuskan napas panjang. Dadanya sedikit agak lega.
Namun di dalam lift yang sempit itu, pikirannya justru mulai dipenuhi pertanyaan yang sejak tadi ia coba hindari..
Kalau fajar memang belum pulang, lalu siapa yang menutup kulkas? Siapa yang dehem di kamar mandi? Dan siapa yang barusan mencoba membuka pintu kamarnya?
Sensasi dingin menjalar cepat dari tulang belakang ke seluruh tubuhnya.
17
Begitu pintu lift terbuka di lantai bawah, ia hampir tersandung saat keluar. Ia berjalan cepat menuju lobi, mencari keramaian seperti orang yang baru saja lolos dari sesuatu yang tak sanggup ia pahami..
Ia jatuh terduduk di salah satu sofa lobi yang menghadap pintu kaca, tak jauh dari meja petugas keamanan yang masih sibuk menatap layar TV kecilnya.
Beberapa penghuni lalu-lalang seperti biasa, ada yang menenteng kantong belanja, ada yang baru pulang kerja dengan wajah lelah.
Melihat orang-orang itu sedikit banyak membuat napasnya kembali teratur. Setidaknya, di tempat ini ia tidak sendirian..
Di bawah lampu lobi yang terang, ia akhirnya merasa sedikit lebih aman. Untuk kembali ke atas, ia bahkan tak sanggup membayangkannya.
Dengan tangan yang masih gemetar, ia membuka layar ponsel lalu mencoba menghubungiku..
Satu kali. Tak diangkat. Ia mencoba lagi, lalu lagi. Setelah panggilannya tetap tak berbalas, pesan demi pesan mulai dikirimnya.
"Lu di mana?"
"Cepetan balik."
"Ada yang ga beres di unit."
"P"
"P"
"P"
Sementara itu, beberapa kilometer dari sana, ponselku tergeletak di atas meja makan rumah temanku, masih terhubung dengan kabel pengisi daya.
Ia jatuh terduduk di salah satu sofa lobi yang menghadap pintu kaca, tak jauh dari meja petugas keamanan yang masih sibuk menatap layar TV kecilnya.
Beberapa penghuni lalu-lalang seperti biasa, ada yang menenteng kantong belanja, ada yang baru pulang kerja dengan wajah lelah.
Melihat orang-orang itu sedikit banyak membuat napasnya kembali teratur. Setidaknya, di tempat ini ia tidak sendirian..
Di bawah lampu lobi yang terang, ia akhirnya merasa sedikit lebih aman. Untuk kembali ke atas, ia bahkan tak sanggup membayangkannya.
Dengan tangan yang masih gemetar, ia membuka layar ponsel lalu mencoba menghubungiku..
Satu kali. Tak diangkat. Ia mencoba lagi, lalu lagi. Setelah panggilannya tetap tak berbalas, pesan demi pesan mulai dikirimnya.
"Lu di mana?"
"Cepetan balik."
"Ada yang ga beres di unit."
"P"
"P"
"P"
Sementara itu, beberapa kilometer dari sana, ponselku tergeletak di atas meja makan rumah temanku, masih terhubung dengan kabel pengisi daya.
18
Aku sama sekali tidak mendengar getarannya. Ruang tengah sedang riuh oleh gelak tawa dan teriakan teman-teman yang berebut stik PS. Malam itu memang sudah kurencanakan untuk nongkrong sampai subuh, lalu pulang ketika jalanan mulai sepi.
Sampai salah seorang temanku menegur dari tengah permainan.
"Bang, HP lu di meja makan kayaknya bunyi terus dari tadi. Kagak lu angkat?"
Aku menoleh. Layar ponselku menyala terang, bergetar berkali-kali. Temanku langsung menyambar stik dari tanganku. "Sini gua gantiin dulu."
Aku berjalan santai menuju meja makan. Namun begitu ponsel itu berada di tanganku, langkahku terhenti saat melihat deretan notifikasi di layar.
14 Panggilan Tak Terjawab.
9 Pesan Belum Dibaca.
Semuanya dari sepupuku. Belum sempat aku membuka pesan-pesannya, layar kembali menyala. Panggilan masuk.
Aku langsung menggeser ikon hijau.
"Halo, kenapa?"
Sampai salah seorang temanku menegur dari tengah permainan.
"Bang, HP lu di meja makan kayaknya bunyi terus dari tadi. Kagak lu angkat?"
Aku menoleh. Layar ponselku menyala terang, bergetar berkali-kali. Temanku langsung menyambar stik dari tanganku. "Sini gua gantiin dulu."
Aku berjalan santai menuju meja makan. Namun begitu ponsel itu berada di tanganku, langkahku terhenti saat melihat deretan notifikasi di layar.
14 Panggilan Tak Terjawab.
9 Pesan Belum Dibaca.
Semuanya dari sepupuku. Belum sempat aku membuka pesan-pesannya, layar kembali menyala. Panggilan masuk.
Aku langsung menggeser ikon hijau.
"Halo, kenapa?"
19
Tak ada suara selama beberapa detik. Hanya napas yang terdengar memburu dari seberang.
"Lu... di mana?" suaranya bergetar.
"Masih di rumah temen. Emang kenapa sih, Kak?"
Ia tidak langsung menjawab. Ada jeda cukup panjang sebelum akhirnya suaranya terdengar lagi, kali ini jauh lebih pelan.
"Lu cepetan pulang sekarang. Ada yang nggak beres."
"Gak beres apaan sih? Ngomong yang jelas napa."
"Udah... intinya pulang sekarang. Gua tunggu di lobi."
Tut. Sambungan terputus.
Aku masih berdiri menatap layar ponsel yang perlahan gelap. Suara sorak-sorai teman-temanku di belakang mendadak terasa jauh.
Entah kenapa, dari cara sepupuku bicara tadi, ada sesuatu yang membuatku tidak ingin bertanya lebih banyak lewat telepon.
Aku menyambar kunci motor dan jaket, lalu berpamitan singkat sebelum meninggalkan rumah temanku.
***
Hampir satu jam kemudian, tepat pukul 00.30 WIB, aku akhirnya tiba di apartemen.
Aku melangkah masuk melewati pintu kaca lobi apartemen. Dari kejauhan, mataku langsung menemukan sepupuku yang duduk meringkuk di salah satu sofa, wajahnya pucat dengan mata sembap.
Malam itu, cerita yang sesungguhnya baru saja dimulai.
"Lu... di mana?" suaranya bergetar.
"Masih di rumah temen. Emang kenapa sih, Kak?"
Ia tidak langsung menjawab. Ada jeda cukup panjang sebelum akhirnya suaranya terdengar lagi, kali ini jauh lebih pelan.
"Lu cepetan pulang sekarang. Ada yang nggak beres."
"Gak beres apaan sih? Ngomong yang jelas napa."
"Udah... intinya pulang sekarang. Gua tunggu di lobi."
Tut. Sambungan terputus.
Aku masih berdiri menatap layar ponsel yang perlahan gelap. Suara sorak-sorai teman-temanku di belakang mendadak terasa jauh.
Entah kenapa, dari cara sepupuku bicara tadi, ada sesuatu yang membuatku tidak ingin bertanya lebih banyak lewat telepon.
Aku menyambar kunci motor dan jaket, lalu berpamitan singkat sebelum meninggalkan rumah temanku.
***
Hampir satu jam kemudian, tepat pukul 00.30 WIB, aku akhirnya tiba di apartemen.
Aku melangkah masuk melewati pintu kaca lobi apartemen. Dari kejauhan, mataku langsung menemukan sepupuku yang duduk meringkuk di salah satu sofa, wajahnya pucat dengan mata sembap.
Malam itu, cerita yang sesungguhnya baru saja dimulai.
20
Aku menemukan sepupuku masih duduk sendirian di sudut lobi. Begitu melihatku, ia langsung berdiri. Langkahnya goyah, wajahnya pucat pasi dengan mata sembap yang memerah.
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, perempuan yang biasanya paling rasional dan tangguh itu terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan pijakan.
Aku menghampirinya tanpa banyak bertanya. Sepanjang perjalanan menuju unit, ia nyaris tak bersuara. Matanya terus menatap lantai lift, sementara jemarinya sibuk memilin ujung baju.
Begitu pintu unit terbuka dan lampu ruang tengah menyala, barulah semua yang ditahannya sejak tadi tumpah.
Ia menceritakan semuanya dari awal, tentang bunyi pintu kulkas yang ia kira berasal dariku, deheman dari kamar mandi yang terdengar begitu familier, sampai keran wastafel yang meluap dan membanjiri dapur.
Lalu tentang kamarku yang ia temukan kosong, meski beberapa saat sebelumnya ia begitu yakin aku ada di dalam.
Terakhir, ia menceritakan gagang pintu kamarnya yang bergerak liar sendiri, sampai akhirnya membuatnya berlari meninggalkan unit dan memilih menghabiskan berjam-jam di lobi daripada kembali ke atas seorang diri..
Untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, perempuan yang biasanya paling rasional dan tangguh itu terlihat seperti seseorang yang baru saja kehilangan pijakan.
Aku menghampirinya tanpa banyak bertanya. Sepanjang perjalanan menuju unit, ia nyaris tak bersuara. Matanya terus menatap lantai lift, sementara jemarinya sibuk memilin ujung baju.
Begitu pintu unit terbuka dan lampu ruang tengah menyala, barulah semua yang ditahannya sejak tadi tumpah.
Ia menceritakan semuanya dari awal, tentang bunyi pintu kulkas yang ia kira berasal dariku, deheman dari kamar mandi yang terdengar begitu familier, sampai keran wastafel yang meluap dan membanjiri dapur.
Lalu tentang kamarku yang ia temukan kosong, meski beberapa saat sebelumnya ia begitu yakin aku ada di dalam.
Terakhir, ia menceritakan gagang pintu kamarnya yang bergerak liar sendiri, sampai akhirnya membuatnya berlari meninggalkan unit dan memilih menghabiskan berjam-jam di lobi daripada kembali ke atas seorang diri..
21
Aku mendengarkannya tanpa menyela. Semakin rinci cerita yang keluar dari mulutnya, semakin aku tak tahu harus menjawab dengan apa..
Setelah ia selesai bercerita, aku mengalihkan pandangan ke pintu kamarku yang masih terbuka sedikit.
Lampunya menyala, kasur tetap rapi seperti saat kutinggalkan, tanpa jejak apa pun yang menunjukkan seseorang baru saja berada di sana.
Namun entah kenapa, malam itu kamar yang selama setahun terakhir kami anggap sebagai bagian dari rumah sendiri terasa begitu asing. Seolah ada sesuatu yang bersembunyi di dalamnya, sesuatu yang tak mampu kami jelaskan.
Sepupuku menunduk, mengusap wajahnya yang basah dengan kedua telapak tangan. Setelah beberapa saat, ia akhirnya bersuara dengan nada yang nyaris berbisik.
"Gua nggak gila..." Aku hanya diam.
Setelah ia selesai bercerita, aku mengalihkan pandangan ke pintu kamarku yang masih terbuka sedikit.
Lampunya menyala, kasur tetap rapi seperti saat kutinggalkan, tanpa jejak apa pun yang menunjukkan seseorang baru saja berada di sana.
Namun entah kenapa, malam itu kamar yang selama setahun terakhir kami anggap sebagai bagian dari rumah sendiri terasa begitu asing. Seolah ada sesuatu yang bersembunyi di dalamnya, sesuatu yang tak mampu kami jelaskan.
Sepupuku menunduk, mengusap wajahnya yang basah dengan kedua telapak tangan. Setelah beberapa saat, ia akhirnya bersuara dengan nada yang nyaris berbisik.
"Gua nggak gila..." Aku hanya diam.
22
"Gua tahu itu suara lu," lanjutnya sambil menatap lurus ke dalam kamarku yang hampa. "Gua denger kulkas ditutup. Gua denger lu dehem di kamar mandi. Gua yakin seratus persen lu udah di rumah."
Aku tak membalasnya. Bukan karena ragu atau tak percaya padanya, melainkan karena aku sendiri tak tahu harus mempercayai logika yang mana lagi.
Mungkin nanti akan selalu ada orang luar yang mencoba menjelaskan malam itu dengan teori-teori rasional. Dan mungkin mereka benar. Mungkin ada angin yang lewat, mungkin ada pipa yang korslet, atau ada detail kecil yang luput dari ingatan kami karena panik.
Aku tak membalasnya. Bukan karena ragu atau tak percaya padanya, melainkan karena aku sendiri tak tahu harus mempercayai logika yang mana lagi.
Mungkin nanti akan selalu ada orang luar yang mencoba menjelaskan malam itu dengan teori-teori rasional. Dan mungkin mereka benar. Mungkin ada angin yang lewat, mungkin ada pipa yang korslet, atau ada detail kecil yang luput dari ingatan kami karena panik.
23
Atau mungkin... memang ada pengalaman-pengalaman tertentu yang hadir bukan untuk diperdebatkan penjelasannya, melainkan untuk mengendap lama di kepala.
Sebab jika kalian berdiri di posisi kami malam itu, pertanyaannya bukan lagi tentang apakah doppelgänger itu nyata atau tidak.
Melainkan karena sampai bertahun-tahun setelahnya, setiap kali mendengar suara kulkas tertutup, suara deheman dari kamar mandi, atau kursi yang bergeser dari dalam kamar, kami selalu teringat pada satu malam ketika aku sedang berada jauh dari apartemen, tetapi seseorang di sana terdengar persis seperti diriku...
Sebab jika kalian berdiri di posisi kami malam itu, pertanyaannya bukan lagi tentang apakah doppelgänger itu nyata atau tidak.
Melainkan karena sampai bertahun-tahun setelahnya, setiap kali mendengar suara kulkas tertutup, suara deheman dari kamar mandi, atau kursi yang bergeser dari dalam kamar, kami selalu teringat pada satu malam ketika aku sedang berada jauh dari apartemen, tetapi seseorang di sana terdengar persis seperti diriku...
24
—Terima kasih telah membaca sampai selesai..
