Bagaimana rasanya jika kamu diikuti oleh kuntianak selama beberapa...

@tanyademit
MSHIDIQ TANYADEMIT@tanyademit
11 views Oct 08, 2026 ~27 min read
Advertisement
1
Bagaimana rasanya jika kamu diikuti oleh kuntianak selama beberapa hari tanpa kamu sadari.

Ini adalah cerita dari follower yang aku ceritakan ulang di utas ini.

-Thread-

Izin Tag bantu RT/QRT, Reply

Terima kasih

@IDN_Horor
@bacahorror
@threadhorror
@menghorror
@bagihorror
@ceritaht
@P_C_HORROR
@autojerit
#bacahorror #ceritahantu #ceritaseram
Media image
2
Ini adalah cerita selingan, sebelum saya update cerita horror di hari sabtu.

Note : Ini saya ceritakan ulang agar kalian bisa nyaman membaca ceritanya ya.


@tanyademit
MSHIDIQ TANYADEMIT@tanyademit
Maaf ya, seminggu ini saya drop, perlu berdrest

Ini udah aga mendingan meskipun masih pusing, jadi bisa update.

Bagi yang belum tahu.

Ini adalah cerita tentang keluarga yang terjebak di salah satu desa yang mempunyai aturan tidak boleh keluar malam.

Karena, kalau mereka keluar di malam hari, maka mereka akan MATI, sehingga mereka berusaha untuk keluar dari desa tersebut.

Bagi mau baca bab awal ada di post bawah ya.

-Thread-

Izin Tag bantu RT/QRT, Reply

Terima kasih

@IDN_Horor
@bacahorror
@threadhorror
@menghorror
@bagihorror
@karyakarsa
@ceritaht
@P_C_HORROR
@autojerit
#bacahorror #ceritahantu #ceritaseram
Media image
3
Perkenalkan, namaku Dudi

Aku seorang pekerja yang baru saja terkena PHK di tahun kemarin, sehingga aku mau tidak mau harus tinggal di rumah.

PHK ini membuatku sedih, namun istriku yang masih bekerja di pabrik berkata, mungkin ini adalah takdir tuhan yang menyuruhku untuk beristirahat sementara sambil mencari pekerjaan lain diluar sana.

Memang, selama aku di rumah, aku jadi banyak membantu pekerjaan istriku, karena aku adalah orang yang tidak bekerja, aku jadi membantunya dengan memasak, mencuci baju, dan memastikan semua urusan rumah selesai sebelum istriku pulang.

Aku hidup dari gajinya sekarang, dan sudah setahun ini, belum ada pekerjaan lagi untukku sehingga aku selalu menghabiskan waktu di rumah.

Terkadang, aku juga dimintai tolong oleh istriku untuk menemani mertua di rumahnya yang letaknya agak jauh dari kampung kami.

Perjalanan dari rumahku ke rumah mertua memang agak sedikit jauh, aku berangkat setelah semua pekerjaan rumah beres, dan butuh waktu sekitar satu setengah jam hingga aku bisa sampai ke rumah mertua yang letaknya ada di pegunungan yang membentang hingga ke Pantai Selatan.

Jalanan yang aku lalui memang agak berat dan menanjak, melewati beberapa hutan bambu, kebun warga, dan pemakaman.

Biasanya, aku berada disana hingga jam dua siang, tepatnya ketika adik iparku yang bungsu sudah pulang dari ladang, lalu aku kembali dan menunggu istriku di rumah.

Namun kali ini berbeda, adik iparku berkata bahwa dia harus membeli pupuk untuk keperluan besok, sehingga dia agak telat pulang karena dia harus ke desa sebelah akibat stok pupuk yang sedikit langka.

Aku pun mau tidak mau harus menunggunya, dan adik iparku baru bisa pulang ke rumah tepat jam enam sore.

Langit sudah mulai gelap ketika dia datang, dan dia meminta maaf karena dia harus berkeliling ke beberapa desa untuk mencari pupuk tersebut sehingga membutuhkan waktu yang lama.

Tidak apa-apa,” kataku kepadanya.

Aku tidak bisa menyalahkan adik iparku yang pulang telat, karena memang kondisi pada saat itu pupuk memang sedang susah, sehingga wajar saja dia mencari hingga ke beberapa desa.

Karena waktu sudah malam, aku tidak bisa berlama-lama di rumah mertua, aku pun langsung pamit kepada mereka untuk pulang ke rumah.

“Ya sudah atuh ya,” kataku.

“Aa sekarang pulang ya, soalnya kakak kamu pasti sudah menunggu di rumah.”

Adik iparku mengangguk, dia kembali meminta maaf karena aku baru bisa pulang ketika waktu sudah semakin gelap.

Awalnya, mertuaku menawarkanku untuk menginap saja. Dia seperti khawatir dengan perjalananku yang mungkin memakan waktu lebih lama karena sekarang sudah malam.

“Udah Cep Dudi, nginep aja, Si Neng mah tidak apa-apa ditinggalin di rumah, Ibu malah khawatir kamu di jalan takut ada apa-apa, soalnya poek (gelap) di jalan,” kata Ibu mertuaku.

Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepalaku, bukannya aku tidak mau menginap, tapi aku kasihan kepada istriku apabila dia sendirian di rumah.

“Tidak apa-apa Bu, aku pulang saja, kasian Neng kalau aku ga ada,” jawabku.

Rasa khawatirnya semakin besar ketika dia berkata seperti itu kepadaku. Tapi, dia tidak bisa melarangku, sehingga dia hanya berkata kembali sebelum meninggalkan rumahnya.

“Ya sudah atuh ya, pokoknya, apapun yang terjadi, jangan berhenti ya apapun alasannya, terus jalan aja sampe nemu kampung di bawah,” katanya.

Aku mengangguk sambil mengiyakan ucapannya, lalu setelah itu aku pun pamit untuk pulang.

Akhirnya, aku pun mengeluarkan motorku, meninggalkan rumah mertua itu dan mulai memacu motorku meninggalkan pemukiman di tempat tersebut.

Waktu masih jam tujuh malam, tapi sudah tidak banyak orang yang beraktifitas di malam hari, mungkin karena desa ini letaknya di pegunungan, sehingga membuat warganya memilih untuk berada di dalam rumah bersama dengan keluarganya sendiri.

Setelah melewati pemukiman, jalanan mulai berubah menurun, melewati hutan-hutan kecil dan perkebunan warga.

Di kawasan ini, tidak ada satupun lampu penerangan jalan, sehingga jalanan benar-benar gelap.

Jarak pandangku menjadi terbatas, apalagi ketika aku melewati hutan bambu yang rapat, tiba-tiba ada kabut turun, menutupi sebagian jalanan aspal yang sudah berlubang. Aku hanya bisa melihat sepuluh meter ke depan, mengandalkan lampu motor yang sudah menguning dan tidak terlalu terang.

Entah mengapa, semakin aku turun, suhu malah semakin dingin, angin malam berhembus kencang dan menembus jaket yang aku kenakan.

Sepanjang perjalanan, aku hanya melihat satu kali rombongan tukang sayur yang naik ke atas, dan di belakang tukang sayur itu ada tiga atau empat motor yang mengikutinya.

Selain itu, tidak ada kendaraan lain yang lewat sehingga membuat jalanan ini semakin sepi, sehingga aku mempercepat motorku yang mengakibatkan aku melakukan kesalahan sehingga membuatku langsung berhenti di jalanan tersebut.

Motorku tiba-tiba berdecit, ban belakang ku bocor, hal itu membuat motorku oleng dan aku menekan rem secara mendadak.

Di tengah hutan bambu yang rindang itu, aku mencoba menepi ke bahu jalan, mengecek motor ku yang bocor dan melirik ke kiri dan ke kanan.

Aku mencoba mencari tukang tambal ban yang mungkin ada di sekitar sini.

Namun, tidak ada apapun disana, tidak ada rumah warga, tidak ada keramaian, yang ada hanyalah kegelapan dan gesekan dedaunan dari hutan bambu yang mengelilingiku sekarang.

“Gimana ini?” gumamku.

Aku mencoba tenang di situasi seperti ini, aku mencoba menunggu sekitar lima belas menit, menunggu ada motor atau kendaraan yang bisa membantuku di jalanan yang gelap ini.

Tapi, tidak ada satupun kendaraan yang melintas, sehingga aku pun memutuskan untuk berjalan sambil menuntun motor tersebut sendirian.

Suasana malam sangat berbeda dengan suasana siang, aku tidak bisa memperkirakan kapan aku bisa sampai perkampungan di bawah sana ketika semuanya gelap.

Apalagi, lampu motor kini mulai redup, dan aku terus menyalakannya karena aku takut lampunya akan mati dan membuat suasana semakin gelap.

Entah berapa lama aku berjalan, namun aku baru sadar, ketika selesai melewati hutan bambu ini, aku harus melewati pemakaman yang lumayan luas.

“Aduh, aku baru ingat kalau ada pemakaman,” gumamku.
4
Aku sempat terhenti sebentar, tubuhku seperti tidak mau melangkah, apalagi tepat di tengah-tengah kuburan itu ada sebuah pohon beringin besar yang membuatku merinding.

Pemakaman yang tidak terlalu banyak pepohonan itu membuatnya terlihat dengan samar oleh cahaya bulan di atas sana, sehingga aku bisa melihat pohon beringin besar itu dari kejauhan.

Aku menarik napas panjang, aku tidak bisa terus terdiam di ujung pemakaman itu, sehingga mau tidak mau aku harus menuntun motorku dan melewati pemakaman itu hingga ke ujung sana.

Jujur, tubuhku merinding, tepat ketika melangkahkan kakiku ke area pemakaman, aku tidak mau melirik ke kiri dan ke kanan, aku hanya fokus ke jalanan yang ada di depanku ini.

Namun entah mengapa, tepat ketika aku sampai di tengah-tengah pemakaman, kepalaku seperti didorong untuk melirik ke arah pohon beringin yang berada di tengah-tengah pemakaman.

Aku melihat dari kejauhan pohon beringin yang lebat itu, namun cahaya bulan yang menyinari pohon beringin itu tidak bisa menyinari bawahnya sehingga terlihat gelap gulita.

Tapi, setelah aku melihat pohon beringin itu, tiba-tiba aku mencium bau yang sangat kuat.

“Bau melati?” gumamku.

Bau itu muncul begitu saja, dan bau itu bukan bau aroma melati yang segar, tapi aromanya sangat pekat, kental dan seperti ada bau lain yang menyertainya.

Bau itu terasa sangat dekat, seolah-olah sumbernya berada di belakangku sehingga aku pun langsung melirik ke belakang.

“Kosong….” gumamku

Rasa takutku yang muncul dan mulai mengambil alih tubuhku membuatku terdiam selama beberapa detik, tangan dan kakiku berhenti bergerak, dan kedua mataku menatap lurus ke arah kegelapan yang ada di depanku.

Bau melati itu masih terus tercium, dan hal itu menyebabkan aku sulit menggerakan tubuhku sendiri. Hingga tepat beberapa detik ketika aku selesai melirik ke belakang tubuhku, tiba-tiba aku mendengar suara yang membuatku terkejut.

“Hihihihi……”

Suara itu terdengar samar, namun mampu membuat tubuhku yang kaku ini tersentak. Tubuhku langsung dipaksa bergerak, dan aku langsung menaiki motorku dan menyalakannya.

Aku tidak peduli dengan kondisi ban yang kempes, aku langsung menaikinya dan mengendarainya dengan rasa takutku yang menjalar hingga ke ubun-ubun.

Ban yang kempes membuat motorku oleng, namun itu lebih cepat daripada aku harus menuntun motor itu sambil berlari.

Suara tawa yang muncul sekejap itu terngiang-ngiang di kepalaku, dan hal tersebut membuatku terus melaju meskipun membuat keadaan ban belakangku semakin parah ketika melewati jalanan tersebut dengan kecepatan penuh.

Tubuhku baru bisa merasa lega ketika aku melihat sebuah lampu yang menyala di ujung sana, rupanya aku akhirnya bisa keluar dari tempat itu dan sampai ke pemukiman warga.

Dari sini, tidak akan ada lagi hutan bambu, kebun warga atau pemakaman, sepanjang jalan aku hanya melihat rumah-rumah warga yang terang sehingga aku tidak perlu takut lagi akan keadaan sekitar.

Aku pun kembali turun, mencoba untuk menenangkan diriku sambil mencari tahu tukang tambal ban terdekat.

Beberapa orang yang aku tanya wajahnya tampak pucat ketika aku berkata bahwa aku berangkat dari atas sendirian.

“Berani banget kamu kang, orang lain mah biasanya nunggu dulu di warung sana, kalau ada mobil sayur melintas baru mereka ngikutin dari belakang. Ga ada yang berani kalau sendirian mah,” kata seseorang yang aku tanya.

Aku hanya bisa tersenyum pucat ketika mendengar hal itu darinya, dan aku tidak bisa menjawab apa-apa ketika dia berkata seperti itu kepadaku.

Aku pun ditunjukan tukang tambal ban yang masih buka.Setelah aku sampai, aku bersyukur bahwa kondisi ban belakang masih aman, paling aku harus mengganti ban dalam karena robeknya parah akibat aku mengendarainya ketika kondisi kempes.

Setelah ban motor itu diganti, akhirnya aku pulang. Sempat ada rasa merinding kembali ketika aku mengendarai motor itu sampai ke rumah, tapi aku tidak memperdulikannya, karena jalanan sekarang sudah terang benderang.

Malam itu, aku berhasil sampai ke rumah tepat pukul jam sepuluh malam. Istriku sudah tidur ketika aku sampai, dan aku langsung memasukan motorku dan mengunci pintu rumah.

Aku langsung kekamar mandi untuk membasuh tubuhku, aku membuka jaketku dan melemparkannya ke cucian kotor. Disana aku meyakinkan diriku sendiri bahwa kejadian di jalan tadi murni hanya kebetulan, dan aku sudah aman ketika aku sudah sampai di rumah.
5
Aku mengira, semuanya sudah selesai ketika aku meninggalkan pemakaman itu.

Tapi rupanya, aku salah besar.

Tepat di pagi harinya, istriku kembali berangkat ke pabrik pukul setengah enam. Dia tahu bahwa aku pulang malam ketika pulang dari rumah ibunya, sehingga dia tidak membangunkanku dan langsung berangkat sehingga kini aku di rumah sendirian.

Aku bangun agak siang, namun entah mengapa, ada sesuatu yang terjadi kepada tubuhku. Ada rasa kaku yang luar biasa menjalar dari belakang leher hingga ke bawah pinggangku.

Pundakku terasa berat, seolah-olah aku baru saja memanggul karung besar sehingga membuat otot-ototku kaku.

Aku memaksakan untuk bangun, mengambil balsem di dekat lemari dan mengoleskannya di punggungku. Awalnya aku berfikir bahwa aku masuk angin karena berkendara malam dari rumah mertua kemarin, sehingga aku pun membeli obat masuk angin dan beristirahat seharian di rumah agar tubuhku membaik tanpa terlalu banyak aktifitas di hari itu.

Namun, hal itu malah membuatku tidak bisa tertidur di malam hari, ketika istriku datang pun aku hanya menyuruhnya untuk beristirahat terlebih dahulu karena aku tidak mengantuk.

Sehingga, ketika istriku sudah tidur duluan, aku pun menonton televisi sambil melipat tumpukan baju yang belum sempat aku setrika.

Tapi, satu jam setelah istriku tertidur lelap, tiba-tiba terdengar suara lolongan anjing yang terdengar dari arah luar, itu bukan suara gonggongan biasa, melainkan lolongan panjang yang saling bersahutan.

Tidak biasanya di kampung ini ada anjing liar, mereka seperti datang ke depan rumah dan menggonggong ke arah rumah, sehingga membuatku langsung berdiri dan mengintip di tirai jendela.

Benar saja, ada tiga anjing yang menggonggong di halaman, namun sorot matanya itu terlihat aneh, mereka tidak menggonggong ke arah pintu atau jendela rumah, namun mereka menatap ke arah genteng rumahku.

Suara gonggongan dan lolongan anjing itu terus terjadi selama lima belas menit, lalu setelah itu, tiba-tiba mereka mundur dan meninggalkan halaman kami sambil mengeluarkan suara lain yang terdengar pelan seperti ketakutan akan sesuatu.

Aku yang penasaran sempat keluar dan melirik ke arah genteng rumah, namun tidak ada apa-apa disana. Yang ada hanyalah angin tipis yang berhembus ke arah rumah dan membuat tubuhku kedinginan.

“Sepertinya aku harus tidur, karena pasti anjing itu melihat sesuatu di atas sana,” gumamku.

Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi ketika aku melihat bahwa sudah hampir tengah malam, aku akhirnya memutuskan tidur di hari itu dan kembali bangun tepat di pagi harinya dengan rasa sakit di punggung yang belum kunjung hilang dari kemarin.

Ketika aku bangun, di rumah sudah tidak ada siapa-siapa, istriku sudah kembali bekerja. Aku pun bangun dan ke kamar mandi untuk buang air besar.

Namun, tepat ketika masuk dan menyalakan lampu, mataku langsung tertuju kepada lantai keramik kotor dengan jejak telapak kaki yang terlihat jelas olehku dibawah sana.

Jejak kaki itu berukuran kecil, seperti jejak kaki perempuan. Aku pun langsung berjongkok dan memeriksanya.

“Bau melati,” gumamku.

Tercium bau melati dari jejak kaki itu, dan hal itu membuatku langsung menggelengkan kepala. Apa yang terjadi di pemakaman itu langsung kembali terpikirkan olehku. Aku langsung menyiramnya dan membersihkan jejak kaki itu dengan air yang ada di bak.

Baru saja aku membersihkannya dan ingin menggantung handuk yang aku bawa.

Tiba-tiba, tepat di gantungan handuk, aku melihat ada gumpalan rambut yang menggantung di kamar mandi.

Gumpalan rambut itu menggumpal, ketika aku pegang, gumpalannya terurai dan rambutnya terlihat panjang. Padahal, rambut istriku hanya sebahu, sehingga tidak mungkin ada rambut sepanjang ini di kamar mandi.

Gumpalan rambut itu langsung aku lempar keluar, aku kini jadi takut untuk mandi.

Entah mengapa, ingatanku selalu tertuju kepada pemakaman itu, dimana aku mendengar suara tertawa wanita seperti kuntilanak yang membuatku ketakutan.

Aku tidak mandi di pagi itu, yang aku lakukan hanya terdiam menunggu waktu hingga siang sebelum aku kembali ke kamar mandi dengan semua jendela dan pintu yang terbuka.

Seharusnya, aku harus kembali ke rumah mertua untuk menemani dirinya di hari itu, namun aku memutuskan untuk tidak datang, karena merasa takut jika aku harus melewati pemakaman itu kembali.

Seharian aku mencoba menenangkan diriku, menganggap itu semua adalah sugesti atas apa yang terjadi semalam.

Awalnya, aku menyangka jika aku sudah tenang, maka gangguan itu tidak akan terjadi kembali. Namun ternyata salah, karena ketika malam tiba, anjing-anjing yang kemarin menggonggong kini kembali terdengar.

Polanya sama, mereka menggonggong ke arah genteng rumah kami, bahkan kali ini istriku terbangun karena berisik dari suara anjing-anjing itu.

“Pah? bisa tolong usir anjing-anjingnya, berisik,” kata Istriku sambil menguap.

Aku mengangguk, dengan wajahku yang sedikit pucat karena hal ini pernah terjadi di malam sebelumnya. Aku pun akhirnya membawa sapu dan membuka pintu rumah yang terkunci rapat.

Hawa dingin langsung berhembus ketika aku membuka pintu, dan ketika aku melihat anjing-anjing itu, aku langsung mengangkat sapu ku dan berteriak untuk mengusir anjing-anjing tersebut.

Apa yang aku lakukan membuat anjing-anjing itu pergi, namun tepat beberapa detik ketika anjing-anjing tersebut menghilang. Tiba-tiba.

Prank!!

Genteng di rumahku jatuh tepat di depanku, selain genteng yang jatuh, aku mendengar ada suara seperti ada kaki yang bergerak di atas sana.

Hal itu membuatku langsung keluar dengan sapu yang masih terangkat, namun ketika aku melirik ke arah genteng rumah, tidak ada apapun disana, yang ada hanyalah sebuah hawa dingin yang berhembus, disertai dengan bau melati yang samar.

Tubuhku langsung merinding, tanpa melirik ke belakang, aku langsung berlari dan menutup pintuku dengan rapat.

Rupanya, istriku sudah berdiri di dekat kamar ketika aku masuk dengan wajahku yang sedikit pucat, dan dia bertanya dengan nada yang pelan apa yang sebenarnya terjadi.

“Kenapa lari-lari seperti itu pah?” tanyanya.

Aku langsung menggelengkan kepala, aku takut istriku akan ketakutan jika aku berkata bahwa diluar sana aku mencium bau melati di tengah malam seperti ini, sehingga aku hanya berkata bahwa aku takut anjing itu kembali dan menggigit, sehingga aku berlari ke dalam rumah dan mengunci pintunya dengan rapat.
6
Aku tidak menyangka kalau gangguan itu terus terjadi, dan setiap gangguan itu muncul, ingatanku tentang kejadian di pemakaman itu selalu terlintas di dalam otakku.

Hampir setiap malam, aku pasti menemukan jejak kaki, rambut yang panjang, lolongan anjing.

Bahkan, tetangga yang berada di dekat rumahku berkata bahwa ada orang lain di rumahku selain aku dan istriku, sehingga hal itu membuatku sering merinding dan ketakutan atas apa yang terjadi di dalam rumah tersebut.

Aku kini selalu membuka pintu rumah itu lebar-lebar ketika siang, dan aku juga menutup pintu rumah rapat-rapat ketika malam. Hal itu aku lakukan karena aku takut akan bau melati yang selalu tercium selama beberapa hari ini.

Hal itu juga membuatku tidak pergi ke rumah mertua selama beberapa hari, dan hal tersebut tentu saja membuat istriku sedikit marah.

Dia mempertanyakan kenapa aku tidak menemani ibunya, dan aku tidak memberitahu alasan dibaliknya, terutama dengan semua keanehan yang terjadi di rumah ini.

Namun, hal itu malah membuat istriku semakin marah.

Sehingga, tepat di hari sabtu, tepatnya tujuh hari setelah di kejadian pemakaman itu, istriku pergi ke rumah mertuaku sendirian tanpa memberitahuku, dan hal itu membuatku harus menunggunya sendirian di rumah.

Aku mengirimkan pesan singkat kepadanya, namun tidak ada balasan, aku juga awalnya ingin menyusulnya, namun karena sudah malam, jadi mau tidak mau aku mengurungkan niat.

Hal itu membuatku harus sendirian di rumah pada malam ini, dan hal yang bisa aku lakukan hanyalah menonton tv sambil memikirkan istriku sendiri yang mungkin marah besar karena aku tidak menemani mertuaku selama beberapa hari ini.

Pikiranku tidak tenang, tontonan di televisi pun tidak bisa membuatku nyaman, sehingga aku pun memutuskan untuk pergi ke kamar untuk beristirahat, dan aku berjanji kepada diriku sendiri bahwa besok subuh aku langsung berangkat menemui istriku ke rumah mertuaku dan meminta maaf.

Aku pun tertidur pulas, namun baru beberapa jam aku memejamkan mata, aku mendengar suara televisi yang tiba-tiba menyala, disertai dengan suara langkah yang muncul di ruang tengah.

“Mah? Mamah?” gumamku sambil menguap.

Awalnya, aku menyangka bahwa itu istriku yang kembali pulang ke rumah, namun ketika aku terbangun dan membuka pintu kamar, tidak ada siapapun disana, yang ada hanyalah televisi yang tiba-tiba menyala dan disertai dengan bau melati yang tercium oleh hidungku sendiri

Bau melati itu benar-benar menyengat, bahkan baunya lebih pekat dari sebelumnya, dan bau itu langsung tercium ke seluruh ruangan, membuatku sedikit mual dan langsung membuka pintu depan rumah.

Bau itu akhirnya bisa berangsur-angsur menghilang ketika pintu depan dibuka. Namun, ada sesuatu yang terjadi selanjutnya, yaitu suara langkah yang terdengar di malam kemarin kembali terdengar.

Aku langsung berlari keluar dan kembali melirik ke arah genteng, namun tidak ada apa-apa disana, yang aku lihat hanyalah sekelebatan bayangan putih yang menghilang sepersekian detik ketika aku melihatnya.

Jujur, tubuhku langsung merinding, aku tidak tahu harus berbuat apa sekarang, apalagi kini hanya ada aku sendirian di rumah ini.

Tepat beberapa detik ketika tubuhku merinding, tiba-tiba aliran listrik di seluruh rumahku mati. Lampu luar, lampu dalam, televisi, semua mati dan hal itu membuat seluruh rumahku gelap gulita.

Hal itu tentu saja membuatku langsung terdiam, pandanganku kini mengarah ke pintu rumah yang terbuka lebar dengan kegelapan yang pekat di dalamnya.

Namun, tepat beberapa detik setelah lampu itu mati, tiba-tiba lampu dapur yang awalnya gelap kini menyala.

Disana, aku melihat ada seseorang yang berdiri dan menatapku dari arah dapur yang bisa terlihat dari pintu depan.

Sosok itu adalah perempuan, tubuhnya dibalut dengan daster berlengan pendek dengan warna putihnya yang pudar. Kain daster itu dipenuhi oleh bercak jamur hitam dan tertutup oleh lapisan lumpur tanah di beberapa bagian. Dia berdiri tegak tanpa alas kaki, dan dia nampak melayang tanpa menyentuh lantai.

Lampu dapur yang menyala di ujung sana membuatku bisa melihat semuanya, apalagi semua lampu di dalam rumah ini padam sehingga kedua mataku langsung terfokus kepada sosok yang sedang berdiri di ujung sana.

Lampunya yang terang membuatku bisa melihat rambutnya yang lurus dan hitam pekat, rambut itu sama panjangnya seperti yang aku temui selama beberapa hari ini di dalam rumah. Kondisi rambutnya nampak basah, tetesan airnya berjatuhan tanpa henti di ujung rambutnya.

Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajahnya karena tertutup oleh sebagian rambutnya yang menempel di dahi dan pipi, namun aku bisa melihat kondisi kulit wajahnya yang pucat, persis seperti kulit manusia yang sudah mati dan terendam air selama berhari-hari.

Kedua matanya memutih, dan dia menatap kepadaku dari kejauhan dengan mulutnya yang setengah terbuka.

Hal itu tentu saja membuatku langsung terdiam, tubuhku kembali membeku dan tidak digerakan, rasa takutku menyebar ke seluruh badan.

Sosok yang aku lihat itu rupanya tidak diam, dia tiba-tiba bergerak dan melayang, telapak kakinya yang tidak menyentuh tanah kini bergerak dengan suara dari ujung jarinya yang bergesekan dengan lantai rumah, sehingga menimbulkan suara yang mengerikan.

Sreeek!!!!

Lampu di dapur itu juga padam ketika dia keluar dari dapur, dan ketika dia sampai ke ruang tengah, lampu di ruang tengah itu menyala, sehingga aku bisa melihat sosoknya lebih jelas.

Dia kembali terdiam di ruang tengah, wajahnya yang pucat dan menyeramkan juga mulutnya yang kini terbuka lebar membuat suasana di sekitar rumahku menjadi semakin mencekam.

Apalagi, tepat ketika dia membuka mulutnya, suara tawa yang memekakan telinga langsung terdengar.
7
“Hihihihihi……”

Dia tertawa, namun setelah suara tawa itu terdengar, lampu ruangan tengah mendadak mati, dan beberapa detik kemudian, lampu di seluruh rumah itu menyala kembali dan sosok tersebut menghilang entah kemana.

Tubuhku langsung bergetar hebat, aku sudah tidak mau lagi berada di rumah, aku harus pergi, aku takut, aku harus mencari tempat yang aman.

Pikiranku pada saat itu langsung tertuju ke rumah mertua, aku langsung mengeluarkan motorku, menutup pintu rumahku rapat-rapat dan pergi meninggalkan rumah untuk menemui mertuaku dan istriku disana.

Jantungku berdetak dengan kencang, bahkan ketika aku memacu motorku dengan sangat kencang. Aku sudah tidak peduli dengan sepinya perkampungan, lalu hutan bambu dan gelapnya kebun-kebun warga, aku terus memacu kendaraanku dan menabrak beberapa lubang jalan yang membuat tubuhku terguncang.

Saat motorku memasuki hutan bambu sebelum pemakaman, ada tanjakan yang harus aku lalui, aku memacu motorku semakin keras, namun ketika di tengah-tengah tanjakan panjang itu, tiba-tiba motorku terasa berat.

Suara mesinnya terdengar kasar, seperti ada beban berat yang dirasakan oleh motorku pada saat itu.

Di saat yang sama, suasana di sekitarku mendadak berubah, terutama di bagian punggung. Rasanya benar-benar dingin, seperti ada batu es yang menempel di punggungku.

Aku mencoba untuk mengabaikan hal tersebut, aku terus memacu motorku meskipun motor itu berasap akibat sesuatu yang tidak aku ketahui.

Di antara bau asap dan suara mesin yang menggema, aku tiba-tiba kembali dikejutkan dengan aroma melati yang kembali tercium, aku tiba-tiba menurunkan pandanganku ke arah spion motor, disana aku melihat bahwa sosok perempuan berdaster putih itu kini duduk di belakang motorku.

Dia duduk menyamping, rambut panjangnya yang basah dan kotor berterbangan tertiup angin. Bahkan beberapa helai rambutnya yang basah itu mengenai punggung dan leherku yang duduk di depan.

Wajahnya sejajar dengan wajahku, persis di dekat samping telinga kiriku. Dia mencondongkan kepalanya ke depan, mendekatkan mulutnya yang terbuka lebar itu tepat ke arah telingaku.

Aku langsung panik, kedua tanganku reflek memutar stang motorku ke arah kiri dengan menekan rem depan dengan sekuat tenaga.

Ban motorku langsung berhenti, keseimbangan motorku hilang dan oleng ke sisi kiri. Tubuhku ini terlempar dan berguling di jalanan yang menanjak itu. Motorku langsung meluncur kebawah, namun tertahan oleh jalanan yang berlumbang.

Aku terbaring di atas tanah yang dingin, kedua lutut dan siku kananku sobek dan berdarah. Nafasku terasa berat, seluruh tubuhku sakit, aku langsung melirik kembali ke arah motor yang tergeletak begitu saja di tengah jalan, dan disana terlihat bahwa sosoknya sudah menghilang dan yang tersisa hanyalah bau oli dan asap dari motor yang aku pakai di tempat itu.

Kepanikan masih menguasaai tubuhku, aku memaksa tubuhku untuk bergerak, aku tidak peduli rasa sakit yang aku rasakan, aku langsung mengambil motorku, menaikinya kembali dan menyalakannya.

Namun, di saat yang bersamaan, tiba-tiba suara tertawa yang melengking itu kembali terdengar.

Hihihihi….

Suara itu muncul tepat di atasku, aku langsung melirik ke atas sana. Di antara pohon bambu yang rindang itu, sosok tersebut melayang dengan baju putihnya yang terlihat sangat jelas.

Dia tidak menghilang sepenuhnya. tapi dia terbang dan tertawa tepat di atasku. Aku langsung menarik gas motorku dengan kuat, motorku melaju sekuat tenaga melewati tanjakan itu.

Suara tawanya masih terdengar, dia nampaknya mengikutiku dari atas sana, aku bisa melihatnya dari kaca spion motor yang memperlihatkan bahwa dia terbang dan mengejarku dengan suaranya yang mengerikan.

Aku terus bergerak, melewati hutan bambu ini hingga akhirnya aku sampai di pemakaman. Aku tidak melambatkan lajuku, aku terus memacu kendaraan ini melewati pemakaman itu.

Pohon beringin yang sempat aku lihat berdiri diam di hamparan batu nisan yang ada di sekelilingnya. Aku semakin menarik tuas gas hingga batasnya, memaksa mesin motor tuaku untuk terus bergerak dengan asap tebal menutupi jalan.

Entah mengapa, suara tawa yang mengerikan itu menghilang ketika aku melewati makam itu.

Hawa dingin yang menusuk, juga rasa panik yang aku rasakan mendadak berubah tepat ketika motor ini keluar dari area pemakaman.

Aku sempat melihat kembali spion motorku, dan disana, sosok wanita itu berhenti mengejarku, dia berdiri tepat di pinggir jalan, menatapku dari kejauhan dan kemudian menghilang.

Aku tidak tahu apakah dia masih akan mengejarku atau dia kembali ke pemakaman, aku tidak menurunkan kecepatanku dan terus memacu motor itu hingga akhirnya aku melihat titik-titik cahaya di ujung sana.

Sebentar lagi aku akhirnya sampai ke perkampungan mertuaku, dan hal itu membuatku bisa memelankan laju motorku ketika jalanan sudah mulai terang oleh lampu-lampu rumah warga yang menyala di sisi kiri dan kanan.

Aku merasa lega, jantungku yang berdetak dengan kencang kini bisa sedikit tenang. Aku tiba di halaman rumah mertuaku dengan kondisi tubuhku yang sangat lelah.

Aku langsung menjatuhkan motorku dan berlari ke arah rumah mertuaku, dengan rasa takut yang belum hilang sepenuhnya, aku mengetuk rumahnya dan tak lama kemudian, istriku muncul dengan wajahnya yang terkejut ketika melihat kondisiku berantakan.

“Kenapa kamu Pah? apa yang terjadi?” tanyanya dengan nada yang heran.

“Itu…itu…..i…..” jawabku.

“Ada apa? tenangin dulu tenangin,” balas istriku kembali.

Aku langsung menarik napas panjang sambil mengusap keringat yang ada di wajahku, lalu setelah itu aku berkata.

“Ada…ada kuntilanak yang ngejar sampai ke pemakaman dari rumah,” jawabku sambil masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.

Apa yang aku katakan membuat mertuaku terbangun, dia melihat aku yang kondisinya berantakan langsung menyuruh istriku buat membuatkan minuman agar aku bisa tenang.

Disana, mertuaku bertanya apa yang terjadi, dan ketika aku menceritakan semuanya, tiba-tiba mertuaku berkata.

“Pasti gara-gara waktu kemalaman dari sini kamu berhenti di jalan ya, jadi ada kejadian aneh di rumahmu?” tanyanya dengan nada yang pelan.

Deg

Aku hanya bisa terdiam, aku hanya mengangguk pelan sambil merasakan rasa perih di lukaku atas apa yang terjadi tadi.

Ibu mertuaku menghela napas panjang, dia lalu duduk di seberang kursiku dan menatapku yang masih ketakutan.

Istriku yang kembali datang kini memberiku segelas air putih hangat hanya bisa menatap ku dan ibunya dengan wajahnya yang kebingungan.

“Suamimu terluka, ambil obat merah sekalian untuk mengobati lukanya,” katanya dengan nada yang pelan.

Istriku kembali mengangguk, dia kembali pergi ke dalam dan setelah dia pergi, mertuaku kembali berbicara kepadaku.

“Inilah kalau kamu memaksakan diri, ibu sudah khawatir jika Cep Dudi nekat pulang malam sendirian di minggu lalu,” katanya.

Dia menatapku secara perlahan dari atas hingga bawah, lalu tak lama kemudian dia kembali berkata.

“Dua bulan yang lalu, ada makam baru di pemakaman itu. Seorang perempuan dari desa sebelah meninggal dunia ketika sedang melahirkan.”

Mertuaku menceritakan hal itu dengan wajahnya yang serius, dia berkata bahwa setelah pemakaman wanita itu, entah mengapa, setiap ada orang yang lewat di sana pada malam hari, terkadang selalu ditampaki oleh sesosok wanita berbaju putih.

Awalnya hal itu hanya bahan obrolan saja, hingga salah satu dari warga yang ada di kampung ini mengalami kejadian yang sama sepertiku.

Katanya, sosok itu mengikutinya ke rumah, hingga beberapa kali dia ketakutan ketika pulang dari kebun di sore hari karena sosok itu mengganggunya.

Apa yang terjadi dengannya akhirnya membuatnya melaporkan hal tersebut ke keluarganya, dan keluarganya pun meminta tolong kepada ketua kampung untuk membantu permasalahan tersebut.

Hal itu tentu saja menjadi pembicaraan di seluruh kampung, dan hal tersebut berdampak kepada para warga kampung yang kini enggan untuk turun ke bawah ketika malam, mereka memilih untuk tinggal dirumah daripada turun melewati jalanan tersebut daripada memaksakan dirinya dan bertemu dengan sosok yang menyeramkan itu.

“Makanya,” lanjut mertuaku.

“Tidak ada yang berani turun kalau malam, makanya kemarin Cep Dudi disuruh nginep di rumah ini tuh ya karena itu alasannya.”

“Semua orang di kampung ini tahu akan hal itu, bahkan jika ada yang kemalaman di bawah, mereka pasti berangkat barengan dan tidak mau berangkat sendirian karena takut diganggu oleh sosok tersebut.”

Hal itu membuatku kembali berfikir, pantas saja ketika ban motorku bocor, orang-orang yang ada di tukang tambal ban menatapku dengan wajah yang pucat, mereka juga sepertinya tahu apa yang terjadi di dekat pemakaman itu.

Memang, aku tidak sengaja berhenti, ban yang bocor itu adalah penyebabnya sehingga aku mungkin melanggar pantangan itu dan sosok tersebut mulai menggangguku.

Namun, apakah aku sudah selamat dari gangguan itu? atau mungkin dia mengikutiku hingga ke rumah ini?

Aku pun mencoba bertanya kepada mertuaku, dan mertuaku hanya menggelengkan kepala atas apa yang aku tanyakan.

“Lebih baik, sekarang istirahat dulu, masalah ada gangguan atau tidak, tahan dulu aja sampai pagi, dan ketika matahari sudah muncul, nanti kamu minta anter ke adik iparmu untuk mengantarkanmu ke ketua kampung, minta bantuannya untuk mengecek hal itu,” jawab Mertuaku dengan nada yang pelan.

Aku mengangguk, aku tidak bertanya apa-apa lagi karena istriku sudah muncul dan mulai mengobati lukaku.

Setelah itu, mertuaku pamit untuk ke kamar dan beristirahat, disana dia memberitahu istriku agar tidak memarahiku karena dia tahu alasan bahwa aku tidak menemaninya selama beberapa hari ini.

Istriku mengangguk, dia rupanya mendengar apa yang aku bicarakan atas apa yang terjadi pada malam ini. Sehingga, setelah dia mengobati lukaku, lalu setelah itu, istriku langsung menyuruhku untuk beristirahat, karena besok dia akan mengantarkannya ke ketua kampung untuk menanyakan apakah aku masih diganggu atau tidak.
8
Tepat di pagi hari, akhirnya aku pamit untuk pergi ke ketua kampung, sambil di antar oleh adik iparku, aku menemuinya dan ketua kampung itu pun mengenalkan dirinya sebagai Bah Dadang.

Bah Dadang hanya terdiam ketika mendengarkan ceritaku, dia hanya mengangkat tangannya dan berkata kepadaku dengan nada yang pelan.

“Aduh, bukan sekali dua kali ini kejadian, sudah banyak di kampung ini tuh yang diikuti oleh sosok kunti itu, memang itu bukan sosok asli dari orang yang meninggal itu, tapi dia menyerupai sosok itu dan menganggap kita bahwa sosok itu adalah sosok yang meninggal tersebut,” katanya sambil menggelengkan kepalanya.

“Sebenarnya mah, kalau Akang Dudi mah aman, tidak ada tanda-tanda bahwa Kang Dudi sekarang sudah di ikuti lagi, mungkin karena Kang Dudi melewati pemakaman itu dan dia berhenti di sana, sehingga dia tidak ngikut lagi.”

“Tapi….” katanya dengan nada yang pelan.

“Kalau terus-terusan kayak gini, pasti akan banyak lagi korban, dan takutnya nanti yang jadi korban adalah orang luar kayak Kang Dudi.”

Aku terdiam sebentar, ada rasa lega ketika Bah Dadang berkata seperti itu kepadaku. Namun ada yang masih mengganjal, kenapa hal seperti ini dibiarkan terus menerus dan tidak ada tindakan dari pihak kampung.

“Bah?” tanyaku.

“Bukannya Bah Dadang bisa mengembalikan sosok itu, tapi kenapa masih ada kejadian kayak gini ya? ga sekalian dibersihkan saja makamnya biar ga gentayangan lagi?” tanyaku.

Bah Dadang menggelengkan kepalanya, dia menunduk dengan pelan dan berkata.

“Sulit Kang, makam itu berada diluar dari kampung ini, malah lebih dekat dari kampung sebelah. Orang-orang di kampung sebelah juga sudah banyak protes karena mereka suka di datangi oleh sosok itu, tapi pihak keluarganya tidak mau, mereka tidak percaya akan hal itu padahal sudah mengganggu banyak orang.”

Aku langsung menghela napas, apabila keluarganya sendiri tidak bisa dibantu, maka Bah Dadang atau warga yang letaknya di dekat pemakaman itu, mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menghindari pemakaman itu ketika malam.

“Intinya mah gini aja Kang, lebih berhati-hati saja ya, kalau sudah malam mah mendingan nginep disini, ga apa-apa besok pulangnya pagi,” katanya yang mencoba menasehatiku.

“Masalah makam, sosok kunti yang menyerupai orang yang meninggal itu? itu mah biar nanti aku yang coba bereskan, aku akan laporkan lagi ke ketua kampung yang ada di dekat makam itu, dan mendesak pihak keluarganya agar dilakukan pembersihkan kepada makamnya.”

“Karena, kalau tidak seperti itu, aku selaku ketua kampung ini khawatir, sosok itu akan mengikuti orang yang lewat lagi. Masih mending jika orang tersebut adalah orang kampung ini atau orang yang punya hubungan dengan kampung di dekat makam, tapi kalau misalkan orang luar? pasti hidup mereka akan benar-benar terganggu, karena mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka yang melintasi pemakaman tersebut pada malam hari secara tidak sengaja.”

Aku hanya mengangguk ketika mendengar hal itu darinya. Aku juga berterima kasih karena sepertinya aku tidak akan diganggu lagi karena Bah Dadang tidak merasakan kehadiran sosok itu di dekat tubuhku.

Apa yang terjadi kepadaku membuat Bah Dadang langsung pergi dan mendatangi ketua kampung yang berada di dekat makam, mereka berdiskusi dan mencoba memaksa keluarga pemilik makam itu untuk melakukan pembersihan.

Kini, enam bulan berlalu. Ada kabar bahwa akhirnya makam itu dilakukan pembersihkan lagi, dan setelah itu tidak ada lagi kejadian yang terjadi meskipun para warga masih memilih untuk tidak turun kebawah ketika malam tiba.

Lalu, ada satu kabar lagi yang terdengar, rupanya sosok yang meninggal setelah melahirkan itu adalah kebohongan yang sengaja dibuat oleh keluarganya. Karena ternyata di cerita aslinya, sosok bukan meninggal ketika melahirkan, namun dia bunuh diri tepat ketika dirinya melahirkan dan suaminya tidak mengakui anaknya.

Sehingga keluarganya membuat cerita tersebut, agar tidak ada obrolan buruk dari dirinya ketika dimakamkan di pemakaman tersebut.
9
Bagaimana ceritanya menurut kalian? apakah ada cerita serupa diluar sana?

jika suka dengan cerita horror, kalian bisa baca juga ceritanya disini ya.


@tanyademit
MSHIDIQ TANYADEMIT@tanyademit
INDEX CERITA

Ini adalah cerita-cerita dari tanya demit yang bisa kamu baca.

biar kalian ga bingung nyarinya, saya sudah index disini ya satu-satu ya.
Media image
Actions
What You Can Do
  • Export as PDF or Markdown
  • Batch Export to Notion
  • Bookmark & Highlight
  • Screenshot Tweet
Create Free Account

Includes 7-day Premium trial

Advertisement