Jujur ini cerita terseram yang pernah saya dapat! Ternyata salah...

@KunyilIreng
Kunyil Ireng@KunyilIreng
17 views Sep 30, 2026 ~29 min read
Advertisement
1
Jujur ini cerita terseram yang pernah saya dapat! Ternyata salah satu rumah di desa kaki gunung Jawa Tengah punya cerita yang begitu kelam. Kalian gabakal nyesel baca cerita ini sampe akhir.

Thread ini bakal panjang, saya bakal ceritain sedetail mungkin biar kalian bisa ngebayangin kejadian mirip aslinya.

Mari kita mulai ceritanya.

A Horror Thread SUMUR BELAKANG RUMAH IBU
@IDN_Horor @SudutTakKasat @bacahorror @C_P_Mistis @ceritaht @cerita_setann @Lakonstory @menghorror @threadhororr
#horror #ceritahoror #bacahorror #suduttakkasat
2
Tiga minggu lalu Saya dapat DM dari Bowo, 45 tahun. Katanya rumah ibunya di kaki gunung Jawa Tengah kembali diganggu sesuatu.

Bowo cuma berani chat malam hari. Setiap lewat jam 2 pagi, dia selalu menghilang.
Saya sempet mikir dia halu.

Sampai malam ketiga, dia ngirim voice note pendek.

Cuma 11 detik.

Isinya suara jangkrik… angin… sama bunyi kayak tali sumur ditarik pelan.

“Kreeeek…”

“Tuk…”

“Kreeeeek…”

Setelah itu dia cuma ngetik:

“Mas… suara itu mulai kedengeran lagi.”
3
Keluarga Bowo pulang untuk tahlilan 1000 hari bapaknya. Mereka berkumpul di rumah Darsih, ibu Bowo, rumah lama di ujung desa dengan kebun bambu dan sumur di belakangnya.

Rumah Darsih hampir gak berubah: lantai semen dingin, kursi kayu depan TV, dan dapur tungku. Cuma suasananya jauh lebih sepi sejak bapak Bowo meninggal.
4
Di sana sudah ada saudara lainnya. Bowo adalah anak sulung. Dia punya Adik yaitu Ratih dan Hendro. Hendro, datang bersama Istri dan anaknya yaitu Wulan dan Ayu. Sedangkan Ratih bersama anaknya yang bernama Dani. ‘

Dari semuanya, cuma Bowo yang masih hafal aturan sumur belakang.
5
Aturan terpenting di rumah itu sederhana, pintu dapur menuju halaman belakang harus terkunci sebelum magrib. Kalau ada yang lupa, Darsih selalu marah.

Waktu kecil, Bowo pernah bertanya alasannya. Bapaknya cuma menjawab, “Belakang rumah itu bukan tempat buat dicari tahu.” Dia bicara pelan, seperti takut didengar sesuatu.
6
Malam pertama berjalan normal. Ratih membantu Darsih, Hendro merokok di depan, dan Ayu bermain dengan boneka kain. Setelah isya, Ayu tiba-tiba berdiri di depan dapur.

“Mama, ada ibu-ibu di belakang.”
Semua diam.

Wulan menarik Ayu, tapi anak itu menangis. Yang paling mengganggu Bowo, Darsih sama sekali gak bertanya siapa perempuan itu.
7
Darsih cuma berdiri diem di dekat tungku.
Mukanya pucat.
Tatapannya lurus ke arah pintu dapur yang masih sedikit kebuka.

Lalu pelan-pelan dia ngomong:
“Ayu, masuk kamar sekarang.”

Nada suaranya datar.

Tapi Bowo bilang…
itu pertama kalinya dia lihat ibunya takut.
8
Malam itu hujan turun deras.
Kabut mulai nutup halaman belakang rumah.
Sekitar jam 11, satu-satu orang mulai tidur.

Bowo tidur di ruang tengah.
Dari tempat dia rebahan, pintu dapur keliatan jelas.

Dan katanya…
sekitar jam setengah 2 malam, dia denger suara itu lagi.
9
“Kreeeek…”

Suara tali sumur ditarik.

Pelan.

Gesekannya panjang banget.

“Kreeeeek…”

Lalu bunyi ember kena dinding sumur.

“Tuk…”

Bowo langsung duduk.

Karena dia yakin…
malam itu gak ada satu pun orang yang keluar rumah.
10
Awalnya Bowo mikir itu cuma suara bambu belakang rumah kena angin.

Tapi suara itu muncul lagi.

“Kreeeeek…”

Lalu berhenti.

Dan anehnya…
setelah suara ember itu berhenti, semua suara malam ikut hilang.

Jangkrik gak ada.
Angin gak ada.
Sepi banget.
11
Karena penasaran, Bowo akhirnya bangun.
Dia jalan pelan ke dapur. Lampu dapur redup warna kuning.
Pintu belakang masih tertutup.

Tapi ada sesuatu yang bikin dia langsung berhenti. Lantai dapur basah.

Kayak habis ada orang masuk dari luar.
Bowo sempet mikir mungkin Hendro habis ke toilet luar.

Tapi pas dia jongkok buat nyentuh lantai…
airnya dingin banget.

Bukan dingin biasa.

Lebih kayak air sumur tengah malam.

Dan ada bau tanah basah yang samar dari arah belakang rumah.
12
Waktu itu Bowo masih berusaha mikir logis.
Dia ngecek pintu belakang.

Masih terkunci.
Gak ada bekas dibuka.

Tapi tepat waktu dia mau balik ke ruang tengah… dia denger suara dari luar dapur.

Pelan banget.
Kayak suara perempuan lagi batuk.
13
“Uhuk…”

Sekali.

Lalu diem lagi.

Bowo langsung beku.

Karena suara itu kedengerannya deket banget.

Persis dari arah sumur belakang.

Dan anehnya…
batuknya mirip suara almarhum bapaknya waktu sakit dulu.
14
Bowo menutup pintu dapur tanpa berani melihat keluar. Bapaknya meninggal tiga tahun lalu setelah berminggu-minggu bicara sendiri di dekat sumur itu. Karena itu, suara batuk tadi terasa terlalu akrab.

Besok paginya Bowo baru sadar satu hal aneh. Ember sumur yang biasanya digantung…

ada di tanah.
Basah.
Talinya panjang menjulur sampai bibir sumur.

Padahal semalam gak ada yang ngambil air.
Setidaknya…
itu yang dipikir semua orang.
15
Saat sarapan, Bowo menyinggung ember yang basah. Darsih langsung memotong, “Nanti ibu beresin.” Sepanjang pagi dia gelisah dan terus melirik pintu belakang.

Di tengah tahlilan, Ayu menunjuk lorong dapur. “Yang di belakang ikut masuk.” Wulan menariknya pergi, tetapi Ayu terus menatap ke arah sumur seperti ada seseorang berdiri di sana.

Ayu belum pernah datang ke rumah Darsih. Namun dia langsung tahu letak sumur belakang, padahal pintu halaman belum pernah dibuka sejak mereka tiba.
16
Sebelum magrib Darsih memperingatkan semua orang agar tidak keluar. Hendro menertawakannya, tetapi Darsih hanya menggenggam gelas enamel yang selalu dipakainya sejak suaminya meninggal.

Malam kedua itu mulai terasa aneh. Listrik beberapa kali mati-hidup.
Sinyal hilang.

Angin dari belakang rumah makin dingin.
Dan sekitar jam 8 malam…
Ayu mendadak muntah di ruang tengah.

Bukan karena sakit.
Karena katanya dia nyium:
“bau orang basah.”
17
Awalnya semua mikir Ayu cuma masuk angin.
Wulan langsung bawa dia ke kamar.

Tapi beberapa menit kemudian…
Wulan keluar lagi sambil panik.
Katanya badan Ayu dingin banget.

Bukan demam.
Dingin.

Darsih masuk ke kamar Ayu dan membaca doa. Lalu dia mengambil kendi tanah liat tua yang dulu selalu disimpan suaminya dekat pintu belakang.
18
Sekitar jam 10 malam, Bowo mendengar langkah kaki kecil menuju dapur. Langkah itu berhenti di depan pintu belakang. Lalu tali sumur kembali berderit.

“Kreeeeek…”

Karena penasaran, akhirnya dia bangun lagi.
Lorong menuju dapur gelap.

Cuma ada cahaya kuning kecil dari lampu dekat tungku.

Dan waktu Bowo sampai depan dapur…
dia lihat pintu belakang terbuka sedikit.
19
Pintu belakang sudah terbuka. Kabut menutup halaman dan bau tanah basah masuk ke dapur. Di tengah gelap, ember sumur bergerak naik-turun sendiri.

Bowo bilang ada satu hal yang bikin dia gak bisa tidur malam itu.

Di tengah kabut belakang rumah…
dia sempet lihat sesuatu berdiri dekat sumur.

Sosok perempuan.
Diam.
Rambutnya panjang.

Dan bajunya basah kuyup.
20
Tapi yang bikin Bowo langsung mundur bukan itu. Melainkan cara sosok itu berdiri.

Mukanya ngadep ke sumur.
Tapi kepalanya…
pelan-pelan nengok ke arah rumah.
Kayak sadar ada yang lagi ngeliatin dia.

Bowo sempet mau cerita soal perempuan dekat sumur.

Tapi sebelum dia ngomong…
Darsih tiba-tiba muncul dari lorong kamar.
21
Mukanya pucat.
Dan hal pertama yang dia tanya cuma satu:
“Pintu belakang tadi kebuka?”

Bowo bilang iya.

Darsih langsung jalan cepat ke dapur.
Cepat banget sampai Bowo kaget lihat ibunya yang biasanya lemah masih bisa gerak begitu.

Dan waktu sampai depan pintu belakang…
Darsih cuma berdiri diem beberapa detik.
Kayak lagi denger sesuatu dari luar rumah.
22
Sekitar jam 3 pagi, Bowo mendengar Darsih bicara di dapur. Ibunya duduk sendirian sambil berbisik,
“Jangan sekarang. Hari ini masih banyak orang.” Lalu Darsih menangis.

Wulan bilang Ayu terus nutup telinganya sejak subuh.
Pas ditanya kenapa, anak itu cuma jawab:
“Dia manggil terus.”
“Siapa?” tanya Wulan.
Ayu gak jawab.

Dia cuma nunjuk ke arah belakang rumah.
23
Siangnya Bowo pergi ke warung. Desa itu terlalu sepi dan hampir semua halaman belakang ditutup bambu atau seng. Saat tahu Bowo anak Darsih, wajah penjaga warung yang sudah tua langsung berubah.

“Masih tinggal di rumah belakang sungai itu?”
Bowo bilang iya.

Orang tua itu langsung pelan-pelan nurunin suaranya.
“Kalau malam jangan keluar belakang.”
Kalimatnya singkat.
Tapi cara dia ngomong bikin Bowo langsung gak nyaman.
24
Bowo sempet nanya kenapa.
Tapi bapak itu malah diem beberapa detik.

Lalu jawab:
“Dulu bapakmu pernah hampir nutup sumur itu.”
“Hampir?” tanya Bowo.
Orang tua itu cuma ketawa kecil.

“Hampir.”
Sebelum pulang, bapak warung itu sempet nahan tangan Bowo.

“Kalau dengar suara ember malam-malam…”
“…jangan pernah lihat ke dalam sumurnya.”

Setelah ngomong itu dia langsung masuk ke dalam warung.

Kayak gak mau lanjut bahas lagi.
25
Di perjalanan pulang, Bowo mulai inget sesuatu.

Waktu kecil…
bapaknya memang pernah beberapa hari nutup sumur belakang pakai papan kayu.
Tapi gak lama kemudian papan itu dibuka lagi.

Dan anehnya…
setelah itu bapaknya sering sakit.

Sore itu kabut turun lebih cepat.
Jam 5 lewat sedikit halaman belakang rumah udah gak keliatan jelas.

Dan menurut Bowo…
itu pertama kalinya sejak dia pulang, Darsih mulai keliatan benar-benar takut.
26
Darsih nyuruh semua orang makan lebih awal.
Semua pintu ditutup sebelum magrib.
Bahkan ventilasi dapur juga ditutup kain.
Hendro sempet protes.

“Gerah, Bu.”
Tapi Darsih malah bentak.

“Pokoknya jangan ada yang buka belakang malam ini.”
27
Malam itu hujan turun lagi.
Lebih deras dari malam sebelumnya.

Suara air di genteng sampai nutup suara TV.
Dan sekitar habis isya…

lampu rumah tiba-tiba mati.

“Astaga…”
Wulan langsung panik karena Ayu mulai nangis lagi.

Hendro nyari senter.

Sedangkan Darsih…
langsung berdiri dari kursinya sambil lihat ke arah dapur.
28
Dan malam itu…
di tengah suara hujan, Bowo denger sesuatu dari belakang rumah.

“Kreeeeek…”
Suara tali ember ditarik lagi.

Pelan.
Panjang.
Dekat banget.

Ayu langsung nutup kuping sambil teriak.

“Dia marah…”
“Dia marah…”

Wulan buru-buru meluk anaknya. Sedangkan Hendro mulai emosi.

“Ini pasti suara bambu kena angin doang!”
Tapi bahkan Hendro sendiri ngomong sambil gemeter.
29
Beberapa detik kemudian…
terdengar suara ember jatuh keras.

“BRAK!”
Persis dari arah sumur belakang.
Dan tepat setelah itu…

ada suara perempuan ketawa pelan dari luar rumah.

Dan yang bikin suasana makin kacau…
Ayu tiba-tiba nunjuk ke arah dapur sambil nangis histeris.

“Dia masuk…”
“Dia masuk…”

Wulan langsung meluk anaknya erat.
Sedangkan Darsih mulai baca doa pelan sambil gemeter.
30
Sekitar lima menit kemudian listrik nyala lagi.
Ruangan langsung terang.

Dan hal pertama yang bikin semua orang merinding…
lantai dapur basah lagi. Bukan cuma dekat pintu. Tapi sampai ke ruang tengah.

Kayak habis ada orang jalan dari belakang rumah masuk ke dalam.

Pintu belakang terbuka lagi.

Pelan.
Bergoyang kena angin.

“Kriet…”
“Kriet…”

Padahal sebelumnya semua orang lihat sendiri Darsih ngunci pintu itu.
31
Dan menurut Bowo…
malam itu pertama kalinya dia lihat Hendro benar-benar pucat.

Karena di lantai dekat pintu belakang…
ada jejak kaki basah.
Kecil.
Kayak jejak kaki perempuan.

Malam itu Darsih gak tidur sama sekali.
Dia duduk dekat dapur sambil megang tasbih.

Dan tiap suara ember kedengeran dari belakang rumah…
jarinya langsung berhenti bergerak.
32
Beberapa menit kemudian…
terdengar suara dari atas genteng dapur.

“Duk…” Sekali.
Lalu:
“Duk… duk…”

Kayak ada orang jalan pelan di atas rumah.
“Duk…” “Duk…”

Suara langkah itu pelan.
Berat.
Dan berhenti tepat di atas dapur belakang.

Persis di atas arah sumur.
33
Dan di tengah semua orang diem…
Darsih tiba-tiba ngomong pelan:
“Jangan ada yang lihat ke atas.”

Kalimatnya lirih. Hampir kayak bisikan.
Tapi semua langsung nurut.

Sekitar jam setengah 3 pagi…

Bowo kebangun karena suara batuk.
Pelan.
“Uhuk…”
Sekali.
Persis kayak malam pertama.
34
Awalnya dia kira itu Darsih.
Tapi waktu nengok…
ibunya masih duduk dekat dapur sambil megang tasbih.

Diam.
Berarti suara batuk itu…
bukan dari dalam rumah.

“Uhuk…”
Kedua kalinya lebih jelas.
Dan malam itu Bowo sadar sesuatu yang bikin dia langsung dingin.

Suara batuk itu…
kedengerannya dari bawah rumah.
35
Rumah Darsih rumah panggung setengah permanen. Bagian depan udah disemen.

Tapi dapur sampai belakang rumah masih agak tinggi dari tanah. Dan tepat di bawah dapur…
tanahnya langsung turun ke arah sumur belakang.

“Uhuk…”
Batuk itu kedengeran lagi.

Pelan. Basah.

Kayak orang tua yang paru-parunya penuh air.

Dan menurut Bowo…
itu persis suara bapaknya beberapa hari sebelum meninggal.
36
Bowo langsung duduk tegak. Dia lihat Darsih perlahan nutup mata. Kayak orang capek banget.

Lalu ibunya ngomong tanpa nengok:
“Dia mulai naik.”

Dan malam itu…
untuk pertama kalinya sejak pulang ke rumah itu, Bowo benar-benar pengen pergi.
37
Paginya Bowo langsung bilang ke Hendro kalau dia mau balik ke Semarang lebih cepat.

Tapi Hendro malah marah.
“Baru juga dua hari.”
“Kamu masih takut begituan?”

Padahal menurut Bowo…
muka Hendro sendiri jauh lebih pucat dibanding malam sebelumnya.

Dan ternyata bukan cuma Bowo yang mulai ngerasa ada yang salah.

Karena pagi itu…
Dani mendadak demam tinggi.
38
Dani itu anak Ratih. Umur 19 tahun.
Dari awal dia paling gak percaya soal cerita mistis rumah Darsih.
Dia juga yang paling sering ngeledek Ayu karena ngomong aneh-aneh.

Tapi pagi itu…
badannya panas banget sampai gak bisa bangun dari kasur.
Awalnya Ratih mikir Dani cuma kecapekan.
Karena malam sebelumnya dia sempet keluar rumah buat nyari sinyal.
Padahal Darsih udah berkali-kali bilang jangan keluar setelah magrib.
39
Dan waktu Bowo masuk kamar buat lihat keadaan Dani… dia langsung nyium bau tanah basah.

Kuat banget.
Kayak habis hujan masuk ke dalam kamar.
Padahal jendela semua tertutup.

Dani tidur sambil ngigau.
Mukanya pucat.
Bajunya basah keringat.
Dan menurut Bowo…
ada lumpur kecil di bawah kuku jari tangan Dani.
Kayak habis ngorek tanah.
40
Waktu kukunya dibersihin…
Dani tiba-tiba megang tangan Bowo kuat banget.
Matanya masih merem.
Tapi bibirnya ngomong pelan:
“Jangan buka tali embernya…”

Ratih langsung panik.
“Ngaco apaan sih dia?”

Tapi Dani terus ngigau.
Dan yang bikin semua orang diem…
suara Dani malam itu bukan kayak suara dia biasa.

Lebih berat.
Serak.
Kayak orang yang udah tua banget.
41
Darsih yang dari tadi berdiri di pintu kamar langsung masuk cepat. Mukanya langsung berubah waktu dengar Dani ngomong soal ember.

Lalu tanpa banyak tanya…
dia narik selimut Dani sampai nutup kaki anak itu.

Ratih yakin Dani tidur sejak isya. Namun Bowo teringat pintu depan sempat terbuka tengah malam. Saat itu dia mengira Hendro cuma keluar untuk merokok.
42
Darsih akhirnya duduk pelan di pinggir kasur Dani. Tangannya gemeter waktu ngusap rambut cucunya.

Lalu dia ngomong lirih:
“Kalau sudah mulai manggil anak muda…”
“…berarti dia udah lama bangun.”

Dan yang bikin suasana makin gak enak…
tepat setelah Darsih selesai ngomong, terdengar suara dari belakang rumah.

“Kreeeeek…”
Pelan. Panjang.
Suara ember itu muncul lagi.
Padahal masih jam 9 pagi.
43
Semua orang langsung nengok ke arah dapur.
Ratih mulai nangis pelan. Wulan meluk Ayu erat-erat.

Sedangkan Hendro…
akhirnya buat pertama kalinya keliatan takut beneran.

Dan menurut Bowo…
bagian paling mengganggu bukan suara ember itu. Tapi karena suara itu sekarang kedengeran jelas di siang hari.

Artinya…
sesuatu di belakang rumah itu udah gak peduli lagi sama waktu.
44
Darsih langsung berdiri.
Cepat.

Padahal beberapa hari sebelumnya jalan aja pelan. Lalu dia ngomong ke semua orang:
“Mulai hari ini jangan ada yang sendirian.”
Dan untuk pertama kalinya…
Bowo lihat ibunya benar-benar panik.

Tapi Dani mendadak duduk sendiri di kasur.
Pelan.
Matanya masih setengah merem.

Lalu dia ngomong sambil senyum kecil:
“Dia bilang… haus.”
Dan tepat setelah itu…
suara ember dari belakang rumah berhenti total.
45
Ratih langsung meluk anaknya sambil nangis.
“Dani sadar, Nak…”

Tapi Dani malah pelan-pelan nengok ke arah dapur. Lalu bisik:
“Dia dari tadi nunggu di belakang.”

Dan tepat waktu itu…
terdengar suara pintu belakang diketuk tiga kali.

“Tok…” “Tok…” “Tok…”
Pelan.
Basah.
Kayak ada tangan penuh air mukul kayu dari luar rumah.
46
Ayu langsung nutup mukanya sambil nangis histeris.
“Jangan dibukain…”
“Jangan dibukain…”

Sedangkan Darsih… malah pelan-pelan jalan ke arah dapur.

Darsih berhenti di depan dapur. Wajahnya pucat dan matanya merah. “Kalau dia sudah mengetuk,” katanya, “berarti semalam ada yang menyahut.”
47
“Dia bilang…”
“…udah lama nunggu keluarga ini pulang lagi.”
Lalu Dani perlahan nengok ke arah semua orang.

Dan menurut Bowo… itu pertama kalinya dia lihat mata Dani berubah.
Bagian putih matanya… kayak keruh kena air.

Dan di tengah kekacauan itu…
ketukan dari pintu belakang berhenti.
Diganti suara lain.

“Kreeeeek…”
Tali ember ditarik lagi.

Tapi kali ini… kedengerannya deket banget.
Kayak sumurnya pindah tepat di belakang dapur.
48
Lalu Dani ngomong lagi.
Pelan.

“Dulu kakek sempat nutup jalan dia…”
“…makanya sekarang dia marah.”

Bowo bilang… Dani ngomong sambil terus natap ke arah Darsih.

Kayak bukan Dani yang lagi bicara.
49
Darsih langsung lemes. Dia duduk pelan di lantai sambil nutup mukanya.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua kejadian itu mulai…

Ibunya akhirnya ngomong sesuatu yang selama ini gak pernah dia ceritain ke siapa pun.

“Bapak kalian dulu bukan mau nutup sumur itu…”
Suara Darsih gemeter.
“…tapi mau ngubur sesuatu di dalamnya.”

Ruangan langsung sunyi. Bahkan Dani yang tadi ketawa…
mendadak diem.
50
Menurut Darsih…
puluhan tahun lalu, sebelum rumah itu dibangun, belakang rumah mereka cuma tanah kosong dekat sumber mata air kecil.

Dan warga desa percaya…
ada perempuan yang meninggal di sana waktu zaman dulu.

Perempuan yang jasadnya gak pernah ditemukan.

Kata orang-orang tua desa…
perempuan itu dulu bunuh diri di sumur mata air setelah anaknya hilang waktu musim paceklik.

Tapi ada juga yang bilang…
dia sengaja dijadikan tumbal supaya sumber air desa gak pernah kering.
51
Dan menurut Darsih…
sejak rumah mereka dibangun di tanah itu, suara ember mulai sering kedengeran malam-malam. Awalnya cuma suara.
Lalu mulai ada yang sakit.
Ada yang ngigau.
Sampai akhirnya bapak Bowo sadar…
sesuatu di sumur itu bukan sekadar penunggu.

“Dia nyari keluarga.” Setelah Darsih berkata begitu, suara ember berhenti. Bowo tahu artinya: sesuatu dari sumur sudah masuk ke dalam rumah.
52
Dani masih duduk di kasur sambil natap kosong ke arah dapur.
Pelan-pelan dia ngomong lagi:

“Dia haus…”
“…karena udah lama gak dikasih.”
Begitu dengar itu, muka Darsih langsung berubah.

Kayak orang yang baru sadar sesuatu.

Lalu dia berdiri buru-buru sambil ngomong:
“Hendro, cek kandang ayam.”

Dan anehnya…
Hendro langsung pucat sebelum sempat jalan keluar kamar.
53
Hendro langsung keluar rumah bawa senter. Bowo nyusul di belakang. Hujan udah reda.

Kabut turun tebel banget sampai halaman depan hampir gak keliatan.

Dan waktu mereka sampai kandang ayam samping rumah…
semua ayam di dalamnya mati. Bukan dimangsa. Bukan berantakan.

Semua ayam cuma tergeletak diem.
Basah. Kayak habis dicelupin ke air.
54
Dan yang bikin Hendro langsung mundur…
di tanah dekat kandang ada jejak kaki kecil.

Basah.
Mengarah lurus ke belakang rumah.
Ke arah sumur.
55
Hendro awalnya masih sok tenang.
Dia jalan duluan sambil nyorot senter ke tanah.

Tapi pas cahaya senter kena bibir sumur…
langkahnya langsung berhenti.
Ember sumur malam itu gak ada di tempatnya.

Talinya menjuntai masuk ke dalam sumur.
Pelan-pelan bergerak sendiri.

“Kreeeeek…”
“Kreeeeek…”

Kayak ada sesuatu di bawah sana…
lagi narik dari dalam.
56
Dan menurut Bowo…
pas Hendro nyorot lebih lama ke bawah…
mereka berdua denger suara perempuan ketawa kecil.

Persis dari dalam sumur.
Pelan.
Basah.
Dekat banget.

Hendro langsung mundur sambil narik Bowo.
Tapi sebelum mereka sempat lari… tali ember itu mendadak ketarik keras dari bawah.

“BRAK!”
Embernya mental keluar dari sumur…
dan jatuh tepat depan kaki mereka.
57
Dan waktu Bowo nyorot senter ke dalam ember… isi di dalamnya bukan air.

Tapi lumpur hitam pekat. Campur rambut panjang. Hendro langsung muntah di samping sumur.
Sedangkan Bowo gak bisa gerak. Karena di antara lumpur dan rambut itu…
ada satu benda kecil yang ikut keluar dari ember. Gelang anak-anak warna merah muda.

Persis gelang yang dipakai Ayu sejak datang ke rumah itu.
58
“MANA AYU?”
Hendro langsung lari masuk rumah.

Bowo nyusul sambil masih bawa senter. Dan begitu mereka masuk ruang tengah…
Wulan udah nangis histeris.
Karena Ayu…
udah gak ada di kamar.

Selimut Ayu masih berantakan di kasur. Boneka kain lusuhnya jatuh di lantai.

Tapi jendela kamar terbuka sedikit. Dan tirainya basah.
59
Lalu Dani yang dari tadi diam mendadak ngomong pelan:
“Dia ngajak Ayu lihat bawah.”

Dan menurut Bowo…
cara Dani ngomong malam itu masih bukan kayak dirinya sendiri.

“Apaan maksud lo?!”

Hendro langsung bentak Dani.
Tapi Dani cuma senyum kecil sambil natap kosong ke arah dapur. Lalu pelan-pelan dia ngomong lagi:

“Dia bilang anak kecil lebih gampang diajak turun.”
60
Bowo dan Hendro berlari ke sumur sambil memanggil Ayu. Gak ada jawaban. Cuma suara air menetes dari kegelapan.
Tik…Tik… Tik…

Waktu cahaya senter Bowo nyorot ke bibir sumur… dia langsung berhenti napas.

Karena ada jejak kaki kecil basah di semen sekitar sumur. Jejak anak kecil.
Dan semuanya berhenti tepat di pinggir lubang sumur.
61
Sepi. Dalam banget.
Kayak sumur itu gak punya dasar.

Sampai tiba-tiba… dari bawah sana terdengar suara Ayu.
Pelan.
Jauh.

“Papa…”

Dan setelah itu… suara perempuan ketawa mulai kedengeran dari dalam sumur.
62
Hendro langsung mundur sambil jatuh terduduk di tanah. Mukanya putih banget.

Tangannya gemeter sampai senter di genggamannya jatuh. Dan dari dalam sumur…
suara Ayu kedengeran lagi.

“Papa…”
“…dingin.”

Suaranya terlalu jelas. Terlalu dekat.

Kayak anak itu lagi berdiri tepat di bawah bibir sumur…
sambil ngeliatin mereka dari kegelapan.
63
Dan tiba-tiba… terdengar suara ember bergerak lagi.
“Kreeeeek…”
Pelan.
Padahal gak ada satu pun orang yang nyentuh talinya.

“Papa…”
“…jangan tinggalin Ayu…”

Suara itu lirih banget sekarang.
Jauh. Kayak anak kecil yang ditarik makin dalam ke bawah air.
64
Hendro langsung narik tali ember sekuat tenaga.
“Kita tarik dia!”

Tapi anehnya…
talinya berat banget.
Bukan kayak narik ember isi air.

Lebih kayak… ada sesuatu di bawah sana yang lagi narik balik.
65
Bowo ikut bantu. Tangan mereka langsung licin kena air lumpur dari tali.
Dingin.
Bau anyir.

Dan setiap tali itu bergerak naik sedikit…
terdengar suara perempuan ketawa makin keras dari dalam sumur.

Tarikan dari bawah mendadak hilang. Tali menjadi ringan, lalu ember naik sendiri. Semakin dekat ke bibir sumur, bau busuknya semakin kuat.
66
Sampai akhirnya ember itu muncul. Dan menurut Bowo…
malam itu Hendro langsung muntah begitu lihat isi di dalamnya.
Karena di dalam ember itu…
bukan Ayu.
Tapi boneka kain lusuh milik Ayu.

Basah kuyup.
Dan leher boneka itu…
terikat rambut panjang hitam.
67
Dan waktu Bowo mau buang ember itu…
dia baru sadar ada sesuatu lain di dasar ember.
Bukan lumpur.
Bukan rambut.
Tapi foto kecil yang udah basah dan hampir hancur.

Di dasar ember ada foto lama rumah Darsih. Di belakang bapaknya berdiri perempuan berambut panjang dan basah—sosok yang dilihat Bowo dekat sumur malam sebelumnya.
68
“Ini foto sebelum bapak sakit…”
Suara Hendro pelan banget.

Tangannya gemeter waktu megang foto basah itu. Lalu dia ngomong sesuatu yang selama ini gak pernah dia ceritain ke siapa pun.

“Dulu bapak pernah ngajak aku nutup sumur ini.”

Bowo langsung nengok.
Karena selama ini dia pikir cuma bapaknya yang tahu soal sumur.

Tapi Hendro malam itu mulai cerita…
kalau beberapa bulan sebelum meninggal, bapak mereka sering bangun jam 2 pagi dan berdiri sendirian dekat sumur belakang.

Sambil ngomong sama seseorang.
69
Tapi suatu malam…
Hendro pernah ngikutin bapaknya diam-diam ke belakang rumah.

Dan menurut dia…
itu malam paling serem selama hidupnya.

Bapak mereka berdiri depan sumur sambil megang tali ember.
Diam.
Kayak lagi dengerin seseorang ngomong dari bawah.

Lalu pelan-pelan bapaknya ngomong:
“Aku gak bakal kasih anak-anak lagi.”

Dan beberapa detik kemudian…
terdengar suara perempuan nangis dari dalam sumur.
70
Sampai suatu malam… bapak mereka akhirnya ngajak Hendro nutup sumur itu pakai papan kayu dan semen.

Diam-diam.
Tengah malam.
Karena kata bapaknya:
“Kalau ibu kalian tahu… dia bakal marah.”

Bowo langsung merinding dengar itu.
Karena selama ini…
Darsih justru selalu jadi orang yang paling takut sama sumur belakang.

Jadi kenapa bapak mereka malah nyembunyiin rencana itu dari ibunya?
71
“Jangan ditutup!”
Itu kata Darsih malam itu.

Keras banget sampai Hendro yang masih SMP langsung takut. Padahal seumur hidup…
ibunya hampir gak pernah bentak bapak mereka.

Lalu Darsih ngomong sesuatu yang sampai sekarang masih diingat Hendro.
“Kalau jalannya ditutup…”
“…dia bakal cari jalan lain masuk ke rumah ini.”
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya bapak mereka nangis.
72
Hendro bilang habis malam itu…
bapak mereka gak pernah lagi coba nutup sumur.

Tapi sejak saat itu… setiap malam Jumat, Darsih selalu naruh sesuatu dekat belakang rumah.

Bukan sesajen aneh.
Bukan kepala hewan.
Cuma semangkuk air sumur.

Dan gelas enamel putih-biru yang selalu dipakai Darsih sampai sekarang.
73
“Bapak sebenarnya mau pergi dari rumah ini…” Suara Hendro pelan.

“…tapi ibu gak pernah mau.” Dan menurut Bowo…
malam itu baru pertama kali dia sadar satu hal.
Mungkin selama ini Darsih bukan cuma takut pada sesuatu di sumur itu.

Tapi juga…
sedang menjaganya tetap tenang.
74
Dan malam itu…
di tengah kabut belakang rumah, Bowo mulai sadar sesuatu yang lebih mengerikan.

Selama ini mereka semua mikir sumur itu “mengambil”. Padahal mungkin…
selama bertahun-tahun, Darsih justru sedang memberi sesuatu ke sana.

“Tapi kalau cuma dikasih air… kenapa sekarang Ayu diambil?”
Bowo langsung nanya begitu.

Dan menurut dia…
setelah pertanyaan itu keluar, muka Hendro langsung berubah.
75
Karena Hendro akhirnya ngaku. Beberapa bulan sebelum tahlilan…
dia sempat jual sebagian tanah belakang rumah tanpa bilang ke Darsih.

Tanah yang posisinya…
persis dekat jalur mata air sumur tua itu.

Awalnya Bowo gak ngerti kenapa Hendro keliatan takut banget habis ngomong itu.

Sampai Hendro akhirnya bilang…
sejak alat berat mulai gali tanah belakang rumah… suara ember malam-malam jadi makin sering kedengeran.
76
Sejak tanah itu digali, para pekerja mulai melihat perempuan basah dekat bambu. Ada yang demam. Seorang tukang bahkan hilang semalaman dan ditemukan bengong di tepi sungai.

“Kenapa gak bilang?” Bowo marah. Hendro membalas bahwa gangguan sudah ada jauh sebelum tanah dijual. Lalu dia berkata,

“Bapak bukan takut sama sumurnya, Wo. Bapak takut sama ibu.”
77
Hendro akhirnya cerita…
beberapa hari sebelum bapak mereka meninggal, dia pernah dengar bapaknya sama Darsih ribut tengah malam.

Pelan.
Tapi jelas.

Dan satu kalimat dari Darsih masih diingat Hendro sampai sekarang:

“Kalau berhenti dikasih…”
“…yang diambil bukan kita lagi.”
78
Dan malam itu…
Bowo mulai inget sesuatu yang selama ini dia anggap kebetulan.

Sejak kecil, tiap ada suara ember dari belakang rumah…
Darsih selalu nyuruh semua orang masuk kamar.

Tapi dia sendiri…
gak pernah benar-benar tidur.

Bahkan waktu bapak mereka masih hidup…
Darsih sering duduk sendirian dekat dapur sampai subuh.

Bawa gelas enamel putih-biru itu. Kadang sambil ngomong pelan ke arah belakang rumah. Kayak lagi nemenin seseorang.
79
Malam ketika bapak mereka meninggal, Hendro melihat Darsih menangis sambil menggenggam tangannya. Dari belakang rumah, suara ember berderit tanpa berhenti.

Dan tepat sebelum bapak mereka meninggal…
dia sempat ngomong sesuatu ke Hendro.

Pelan banget.
Sampai Hendro harus deketin telinganya.
“Kalo ibu kalian mulai denger suara perempuan nangis…”
“…jangan pernah biarin dia sendirian.”
80
Bowo langsung nengok ke arah rumah.
Karena dari tadi…
mereka terlalu fokus sama sumur sampai lupa satu hal. Darsih sendirian di dalam.

Bowo sama Hendro langsung lari balik ke rumah. Kabut makin tebel.

Lampu ruang tengah masih nyala redup.
Tapi begitu mereka masuk…

Darsih udah gak ada di kursinya. Dan pintu dapur belakang… terbuka lebar.
81
Angin dingin langsung masuk dari belakang rumah. Kenceng banget sampai tirai dapur gerak sendiri.
Dan menurut Bowo…

malam itu bau tanah basahnya jauh lebih kuat dibanding sebelumnya.

“BU!”

Hendro langsung lari ke dapur.
Tapi gak ada siapa-siapa.

Cuma gelas enamel putih-biru milik Darsih yang jatuh di lantai.
Isinya masih ada sedikit air.

Dan air itu…
warna coklat keruh
82
Bowo langsung nyenter ke halaman belakang.
Kabut muter pelan dekat sumur.

Dan malam itu…
untuk pertama kalinya mereka lihat sesuatu berdiri jelas di sana.

Perempuan.
Rambut panjang.
Baju putih basah kuyup.
Dan di samping sosok itu…

Darsih lagi berdiri diam sambil nangis.
83
Bowo bilang…
malam itu Darsih gak keliatan takut.
Justru mukanya kayak orang capek banget.

Kayak seseorang yang udah terlalu lama nyimpen sesuatu sendirian.
84
“Bu… ayo masuk…” Suara Hendro gemeter.

Tapi Darsih gak nengok. Dia terus natap sosok perempuan dekat sumur itu sambil nangis pelan. Lalu ngomong:

“Jangan anak-anak saya…”
“…cukup saya.”

Dan menurut Bowo… begitu Darsih selesai ngomong itu, suara ember langsung bergerak sendiri.

“Kreeeeeeek…”
Lebih keras dari sebelumnya. Kabut di sekitar sumur mulai muter makin cepet.

Dan dari dalam sumur… mulai kedengeran suara banyak orang nangis bersamaan.
85
Wulan langsung menjerit. Hendro mundur pelan karena tangisan dari sumur ternyata bukan cuma satu suara.

Ada suara perempuan.
Ada suara anak kecil.
Dan samar-samar…

Bowo bilang dia denger suara bapaknya juga.
Batuk.
Pelan.
Basah.

Dari dalam sumur.
86
Sri menoleh. Kulitnya pucat seperti mayat yang lama terendam, matanya hitam, dan lumpur terus menetes dari mulutnya. Bowo hampir muntah melihatnya.

Saat Sri mulai berjalan menuju rumah, Darsih berteriak sambil menangis, “Kembali! Jangan masuk rumah!” Untuk pertama kalinya Bowo melihat ibunya benar-benar putus asa.

Hendro langsung narik tangan Darsih paksa.
“BU MASUK!”

Tapi Darsih malah ngedorong anaknya sendiri.
Keras.
Sampai Hendro jatuh di tanah basah.
87
Lalu Darsih ngomong sesuatu yang bikin Bowo langsung dingin.
“Dari dulu dia bukan mau rumah ini…”
“…dia cuma mau ibunya dibalikin.”

Darsih akhirnya menyebut nama perempuan itu Sri. Puluhan tahun sebelum rumah dibangun, Sri kehilangan anak perempuannya saat paceklik panjang melanda desa.
88
Waktu itu desa mereka kekeringan parah.
Sungai kecil dekat gunung hampir kering total.

Sawah gagal panen. Dan menurut cerita orang-orang tua…
warga desa mulai percaya sumber mata air di belakang rumah Darsih “minta sesuatu.”

Awalnya cuma ayam.
Lalu kambing.
Tapi air sumur tetap surut.
Sampai suatu malam…
anak perempuan Sri hilang.
89
Mayat anak itu gak pernah ditemukan.
Tapi tiga hari setelah hilang…
sumur mata air desa tiba-tiba penuh lagi.

Dan sejak malam itu…
Sri mulai sering keliling desa sambil nangis dan nyari anaknya.

Sampai akhirnya dia ditemukan meninggal di dalam sumur.
Anak itu dijatuhkan ke sumur.

Sengaja.

Dan yang ngelakuin…
orang-orang desa sendiri.
90
“Waktu itu orang kampung percaya…”
Suara Darsih gemeter.

“…kalau sumber air harus dibayar.”

Dan menurut cerita yang akhirnya Darsih dengar dari bapaknya dulu…
anak perempuan Sri dipilih diam-diam jadi tumbal pertama desa itu.

Sampai akhirnya…
Sri denger suara anaknya manggil dari dalam sumur.

Dan malam itu…
dia lompat sendiri ke bawah.
91
“Sejak saat itu…” Darsih nangis sambil ngomong.
“…sumur itu gak pernah lagi benar-benar kosong.”

Dan menurut cerita orang-orang tua desa…
setelah kematian Sri, suara ember mulai sering kedengeran sendiri malam-malam.
Kayak ada seseorang terus nyari sesuatu dari dalam sana.

Dan menurut Darsih…
bertahun-tahun kemudian warga desa mulai sadar satu hal.

Selama suara ember itu masih terdengar…
sumber air desa gak pernah kering.
92
Makanya gak ada yang benar-benar berani nutup sumur itu.

Karena warga percaya…
kalau “jalannya” ditutup…
sesuatu yang selama ini tinggal di bawah sana bakal keluar nyari jalan lain.

Dan malam itu…
Bowo akhirnya ngerti kenapa bapaknya dulu takut.

Karena selama ini…
keluarga mereka bukan tinggal dekat sumur itu. Mereka tinggal tepat di atas sesuatu yang dari dulu dijaga tetap lapar.
93
“Sri gak pernah berhenti nyari anaknya…”
Suara Darsih pelan.
“…makanya dia selalu manggil anak kecil.”

Dan tepat setelah kalimat itu keluar…
dari dalam sumur terdengar suara Ayu nangis lagi.

“Papa…”
“…gelap…”

Suara Ayu malam itu bikin Hendro langsung nekat maju ke bibir sumur lagi.

Tapi sebelum dia nyentuh tali ember…
Darsih teriak keras:
“JANGAN LIHAT KE DALAM!”
94
Hendro langsung berhenti.

Dan menurut Bowo…
beberapa detik setelah itu, sesuatu pelan-pelan muncul dari bawah sumur.

Bukan seluruh badan.
Cuma tangan.
Pucat.
Kurus.
Basah lumpur hitam.

Tangan itu mencengkeram bibir sumur perlahan.

“Krek…”
Bunyi kukunya gesek semen.

Dan malam itu…
Wulan langsung pingsan begitu lihat rambut hitam panjang mulai ikut muncul dari bawah.
95
Bowo bilang semua orang malam itu panik.
Tapi Darsih justru maju pelan mendekati sumur.

Bawa gelas enamel putih-biru di tangannya.
Dan sambil nangis… dia mulai baca doa pelan.

Lalu Darsih menuang isi gelas itu ke dalam sumur. Air keruh kecoklatan.

Dan anehnya…
begitu air itu jatuh ke bawah, suara Sri langsung berhenti total.

Kabut sekitar sumur mendadak diem.
Suara ember berhenti.

Tangan pucat tadi perlahan turun lagi ke bawah. Kayak sesuatu di dalam sana…
mundur pelan-pelan.
96
Tapi tepat sebelum semuanya tenang…
Bowo sempet lihat sesuatu di dalam sumur.
Sesaat banget.
Kayak wajah anak kecil muncul dari kegelapan.

Pucat. Basah.
Dan menurut Bowo…
muka anak itu bukan Ayu.
97
Malam itu Darsih akhirnya jatuh lemes di tanah.
Tangannya dingin banget waktu Bowo pegang.

Dan sambil nangis… ibunya akhirnya ngaku sesuatu yang selama ini dia simpan puluhan tahun.

“Keluarga kita dari dulu cuma numpang hidup…”
“…karena ada yang terus dikasih ke bawah sana.”
98
Dan tepat setelah Darsih ngomong itu…
dari arah dapur rumah terdengar suara langkah kaki kecil.

“Tap…”
“Tap…”
“Tap…”

Pelan.
Basah.

Kayak ada anak kecil baru masuk dari belakang rumah.
99
Dan dari gelap lorong dapur…
Ayu akhirnya muncul.
Bajunya basah kuyup.
Rambutnya nempel semua ke muka.

Tapi yang bikin semua orang gak berani gerak… Ayu malam itu jalan sambil nunduk.
Kayak ada yang lagi gandeng tangannya.

Wulan memeluk Ayu yang baru kembali. Mereka mengira semuanya selesai, sampai Ayu berbisik sambil menatap dapur, “Dia ikut.”
100
Malam itu gak ada yang tidur.
Mereka semua ngumpul di ruang tengah.
Sedangkan Darsih terus duduk dekat dapur sambil megang gelas enamel putih-biru itu.

Dan sekitar jam 2 pagi…
suara perempuan nangis mulai kedengeran dari atas plafon rumah.

Bukan dari belakang rumah.
Bukan dari sumur. Tapi dari dalam rumah.
Pelan.
Kayak seseorang lagi nangis sambil nahan napas.
101
Ayu langsung nutup telinga.
Dani yang dari tadi diem mendadak senyum kecil lagi.

Lalu dia ngomong:
“Dia gak mau sendiri lagi.”

Dan malam itu…
Darsih akhirnya ngaku apa isi sebenarnya dari gelas enamel itu.

Bukan air biasa.
Tapi campuran air sumur… dan darahnya sendiri.
102
Selama bertahun-tahun…
setiap malam Jumat, Darsih selalu nyampur beberapa tetes darah ke air sumur lalu menuangnya kembali ke bawah.

Karena menurut orang tua desa dulu…
Sri cuma bisa ditenangin kalau masih merasa “ditemenin keluarga.”

“Kalau gak dikasih…”
Suara Darsih lemah banget malam itu.
“…dia bakal mulai manggil anak-anak lagi.”

Dan menurut Bowo…
setelah ibunya ngomong itu, semua orang akhirnya sadar: selama ini Darsih bukan menjaga rumah itu.

Dia sedang jadi tumbal hidup.
103
Tapi yang paling bikin Bowo hancur…
Darsih ternyata udah gak kuat lagi sejak beberapa bulan terakhir.

Makanya suara ember mulai sering muncul.
Makanya Sri mulai masuk ke rumah.

Dan makanya…
Ayu dipanggil.

Sekitar jam setengah 3 pagi…
Darsih mendadak batuk keras.
Air hitam keluar dari mulutnya.

Bukan darah.
Lebih kayak lumpur cair bercampur rambut panjang.
104
Dan di tengah kekacauan itu…
suara ember dari belakang rumah mulai kedengeran lagi.

“Kreeeeeeek…” Lebih keras dari sebelumnya.
Kayak ada sesuatu yang lagi marah.

Darsih langsung narik tangan Bowo.
Kuat banget.
Padahal badannya udah lemes.

Lalu dia bisik:
“Kalau ibu gak ada…”
“…jangan pernah tinggal di rumah ini lagi.”
105
Bowo nangis malam itu.
Karena buat pertama kalinya…
dia sadar ibunya selama puluhan tahun hidup dalam ketakutan sendirian.

Dan semua orang di rumah itu…
cuma numpang selamat dari sesuatu yang terus lapar di belakang rumah mereka.

Lampu mati. Langkah kaki basah masuk dari dapur dan berhenti tepat di belakang mereka. Lalu terdengar suara perempuan, serak dan pelan.

“Anakku…”
106
Dan tepat setelah suara itu muncul…
Darsih tiba-tiba berdiri sendiri.

Pelan. Kayak orang dipanggil sesuatu.
Lalu jalan ke arah dapur tanpa nengok ke siapa pun lagi.

“BU!”
Hendro langsung ngejar.

Tapi begitu listrik nyala lagi beberapa detik kemudian…
Darsih udah gak ada.
Pintu belakang terbuka lebar.

Dan suara ember…
berhenti total.
107
Mereka nyari Darsih sampai subuh.

Ke belakang rumah.
Ke sungai.
Ke kebun bambu.

Tapi ibunya gak pernah ditemukan lagi. Yang ada cuma gelas enamel putih-biru miliknya…
terdampar dekat bibir sumur.

Selama keluarga Bowo masih di rumah, suara ember gak terdengar lagi. Kabut menghilang, Ayu berhenti bicara aneh, dan Dani sembuh beberapa hari kemudian.
108
Tapi anehnya…
air sumur belakang rumah mendadak kering untuk pertama kalinya sejak puluhan tahun.

Dan sejak itu…
warga desa mulai pelan-pelan ninggalin rumah sekitar sumber mata air lama.

Rumah Darsih akhirnya dijual setahun kemudian.
Kosong lama.
Gak ada yang berani tinggal.

Karena beberapa warga masih sering dengar suara ember malam-malam…
padahal sumurnya udah ditutup beton.
109
Sampai di titik ini Saya masih nganggep semua cerita Bowo cuma thread horror biasa.

Sampai tiga hari lalu…
Saya dapet voice note terakhir dari dia.
Isinya cuma suara napas Bowo.

Pelan.
Gemeter.

Lalu beberapa detik kemudian…
terdengar suara ember ditarik.

“Kreeeeek…”
Dekat banget.
110
Dan sebelum voice note itu berhenti…
Saya denger suara perempuan pelan.

Serak.
Basah.
Persis kayak yang Bowo ceritain selama ini.
“Anakku…”
111
Saya coba hubungi Bowo lagi malam itu.
Centang satu.

Sampai sekarang chat Saya gak pernah dibales.

Tapi anehnya…
setiap lewat jam 2 pagi, foto profil WhatsApp dia selalu online beberapa menit.

Lalu hilang lagi.
112
Dan jujur…
alasan Saya akhirnya mutusin upload semua cerita ini karena semalam Saya baru sadar satu hal.

Voice note terakhir Bowo ternyata gak cuma berisi suara ember.

Kalau volumenya dikerasin…
ada suara anak kecil ngomong pelan di belakangnya.

“Papa…”
“…gelap.”
Actions
What You Can Do
  • Export as PDF or Markdown
  • Batch Export to Notion
  • Bookmark & Highlight
  • Screenshot Tweet
Create Free Account

Includes 7-day Premium trial

Advertisement