A. YANI: SETAN PEMBANTAI YANG DIBERI GELAR PAHLAWAN. DULU MEMBANTAI...

Sumatera Adil & Federal@indepenSumatera
15 views
Sep 27, 2026
~2 min read
Advertisement
1
A. YANI: SETAN PEMBANTAI YANG DIBERI GELAR PAHLAWAN.
DULU MEMBANTAI RAKYAT MINANG SETELAHNYA BELIAU KENA KARMA DIBANTAI PKI.
TRAGEDI JAM GADANG: 187 NYAWA MELAYANG, LUKA SEJARAH YANG TAK BOLEH DILUPAKAN.
📍 Bukittinggi, Sumatera Barat
🕯️ Konflik PRRI, 1958
Jam Gadang hari ini dikenal sebagai ikon kebanggaan masyarakat Minangkabau. Namun, di balik kemegahannya, tersimpan kisah kelam yang menjadi luka dalam sejarah Sumatera Barat.
Di tengah operasi militer untuk PRRI, ratusan pria digiring tentara ke kawasan sekitar Jam Gadang. Menurut catatan yang dirujuk dari surat kabar Singgalang edisi 20 Januari 2000, sekitar 187 orang tak bersalah tewas ditembak.
Dari jumlah itu, hanya sekitar 17 orang yang disebut teridentifikasi sebagai anggota PRRI. Selebihnya dilaporkan merupakan warga sipil, termasuk petani, pedagang, dan pelajar.
Bayangkan, orang-orang yang seharusnya bisa menjalani kehidupan biasa justru terseret ke dalam pusaran konflik bersenjata.
Menurut kesaksian yang dihimpun Historia, Sutan Iskandar masih berusia 12 tahun ketika menyaksikan tentara menggiring kelompok-kelompok pria ke sekitar Jam Gadang. Ia juga mendengar rentetan tembakan dari lokasi tersebut.
Di balik angka 187, ada manusia. Ada keluarga. Ada kehidupan yang direnggut.
Peristiwa ini terjadi dalam konteks konflik PRRI, ketika pemerintah pusat melancarkan operasi militer terhadap gerakan tersebut. Namun, apa pun latar belakang konflik politik dan militernya, nasib warga sipil yang menjadi korban tidak boleh dihapus dari ingatan sejarah.
Mengingat tragedi ini bukan berarti membenarkan pemberontakan, juga bukan berarti menutup mata terhadap korban dari pihak lain.
Ini tentang keberanian melihat sejarah secara utuh termasuk kekerasan yang dialami masyarakat sendiri.
Jangan sampai sejarah hanya mencatat siapa yang menang dan siapa yang kalah, sementara penderitaan rakyat biasa justru diletakkan di pinggir cerita.
NEGARA BOLEH MEMILIKI SEJARAH KEMENANGAN.
TAPI RAKYAT JUGA BERHAK MENGINGAT LUKA YANG DITINGGALKAN.
Tragedi Jam Gadang harus terus dibicarakan, diteliti, dan didokumentasikan dengan serius.
Bukan untuk mewariskan dendam kepada generasi berikutnya, melainkan agar kekerasan terhadap warga sipil tidak pernah dianggap sebagai harga yang wajar dari sebuah konflik.
JANGAN HAPUS KORBAN DARI SEJARAH.
JANGAN BIARKAN LUKA RAKYAT MENJADI CATATAN KAKI.
Karena bangsa yang belajar dari sejarah bukan bangsa yang melupakan masa lalunya, melainkan bangsa yang berani mengakui sisi gelapnya.
DULU MEMBANTAI RAKYAT MINANG SETELAHNYA BELIAU KENA KARMA DIBANTAI PKI.
TRAGEDI JAM GADANG: 187 NYAWA MELAYANG, LUKA SEJARAH YANG TAK BOLEH DILUPAKAN.
📍 Bukittinggi, Sumatera Barat
🕯️ Konflik PRRI, 1958
Jam Gadang hari ini dikenal sebagai ikon kebanggaan masyarakat Minangkabau. Namun, di balik kemegahannya, tersimpan kisah kelam yang menjadi luka dalam sejarah Sumatera Barat.
Di tengah operasi militer untuk PRRI, ratusan pria digiring tentara ke kawasan sekitar Jam Gadang. Menurut catatan yang dirujuk dari surat kabar Singgalang edisi 20 Januari 2000, sekitar 187 orang tak bersalah tewas ditembak.
Dari jumlah itu, hanya sekitar 17 orang yang disebut teridentifikasi sebagai anggota PRRI. Selebihnya dilaporkan merupakan warga sipil, termasuk petani, pedagang, dan pelajar.
Bayangkan, orang-orang yang seharusnya bisa menjalani kehidupan biasa justru terseret ke dalam pusaran konflik bersenjata.
Menurut kesaksian yang dihimpun Historia, Sutan Iskandar masih berusia 12 tahun ketika menyaksikan tentara menggiring kelompok-kelompok pria ke sekitar Jam Gadang. Ia juga mendengar rentetan tembakan dari lokasi tersebut.
Di balik angka 187, ada manusia. Ada keluarga. Ada kehidupan yang direnggut.
Peristiwa ini terjadi dalam konteks konflik PRRI, ketika pemerintah pusat melancarkan operasi militer terhadap gerakan tersebut. Namun, apa pun latar belakang konflik politik dan militernya, nasib warga sipil yang menjadi korban tidak boleh dihapus dari ingatan sejarah.
Mengingat tragedi ini bukan berarti membenarkan pemberontakan, juga bukan berarti menutup mata terhadap korban dari pihak lain.
Ini tentang keberanian melihat sejarah secara utuh termasuk kekerasan yang dialami masyarakat sendiri.
Jangan sampai sejarah hanya mencatat siapa yang menang dan siapa yang kalah, sementara penderitaan rakyat biasa justru diletakkan di pinggir cerita.
NEGARA BOLEH MEMILIKI SEJARAH KEMENANGAN.
TAPI RAKYAT JUGA BERHAK MENGINGAT LUKA YANG DITINGGALKAN.
Tragedi Jam Gadang harus terus dibicarakan, diteliti, dan didokumentasikan dengan serius.
Bukan untuk mewariskan dendam kepada generasi berikutnya, melainkan agar kekerasan terhadap warga sipil tidak pernah dianggap sebagai harga yang wajar dari sebuah konflik.
JANGAN HAPUS KORBAN DARI SEJARAH.
JANGAN BIARKAN LUKA RAKYAT MENJADI CATATAN KAKI.
Karena bangsa yang belajar dari sejarah bukan bangsa yang melupakan masa lalunya, melainkan bangsa yang berani mengakui sisi gelapnya.
2
Pembatani santri dan ulama juga si bangke itu.


Sumatera Adil & Federal@indepenSumatera
A. YANI PEMBANTAI ULAMA DAN SANTRI
PAHLAWAN YANG KALIAN BANGGA-BANGGAKAN ITU ADALAH PEMBANTAI DAN PEMBUNUH SANTRI DAN ULAMA.
-Pondok pesantren yang beliau bantai adalah Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu Kebumen agustus 1950
- jumlah korban mencapai 2.000 jiwa. Iya 2 ribu jiwa dibantai
-termasuk Syekh Sayid Mahfudz Al-Hasani
-dan K.H. Nursodik
PAHLAWAN YANG KALIAN BANGGA-BANGGAKAN ITU ADALAH PEMBANTAI DAN PEMBUNUH SANTRI DAN ULAMA.
-Pondok pesantren yang beliau bantai adalah Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu Kebumen agustus 1950
- jumlah korban mencapai 2.000 jiwa. Iya 2 ribu jiwa dibantai
-termasuk Syekh Sayid Mahfudz Al-Hasani
-dan K.H. Nursodik
3
Tangan jendral ini berlumur darah umat.


Sumatera Adil & Federal@indepenSumatera
KISAH PILU
SYEKH MAHFUDZ
SUMPAHI AHMAD YANI
MATI MENGENASKAN
Sejarah yang tidak ada di buku sekolah.
Pertikaian ini jarang masuk buku sekolah.
Antara Syekh Mahfudz Somalangu
dan Jenderal TNI Ahmad Yani.
Kiai itu menyumpahi
orang tertinggi di TNI saat itu.
Tak lama setelah sumpah itu
beredar di lidah orang Kebumen,
Yani ditemukan tewas mengenaskan
di sebuah sumur.
Kini tempat itu disebut Lubang Buaya.
Apakah sumpah itu yang menuntun peluru?
Sejarah tidak memberi vonis gaib.
Yang pasti, luka Somalangu lebih dulu ada
sebelum Lubang Buaya jadi monumen.
SISA PELARIAN AOI
Hidayat Aji Pambudi
masih ingat Kiai Thohir,
guru ngaji di Kampung Laut, Nusakambangan.
Sisa pelarian Angkatan Oemat Islam
Somalangu.
Awalnya Kiai Thohir hanya mengaku
orang Kebumen.
Karena senasib daerah,
obrolan menjadi akrab.
Cerita-cerita katanya orang Kebumen.
Dia itu ternyata mantan laskar AOI.
Sampai tidak berani pulang
karena masih merasa dikejar pemerintah.
Hidayat Aji 18 tahun
memimpin SMK Ma’arif 3 Somalangu.
Sekolah itu berdiri di kompleks
Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu,
salah satu pesantren tertua di Asia Tenggara.
SYEKH MAHFUDZ DAN AOI
Pimpinan pesantren
Syekh As Sayid Mahfudz bin Abdurrahman Al Hasani.
Sekaligus Pemimpin Umum
Angkatan Oemat Islam.
Dikukuhkan 11 September 1945.
Syaratnya tegas
setelah perjuangan selesai
kembali ke pondok.
Menolak masuk birokrasi negara.
Pengaruhnya menarik ribuan orang
dari Prembun, Kutowinangun,
Petanahan, Aliyan, Karanggayam.
Data kasar wak.
10 ribu laskar.
30 ribu cadangan.
Santri dan petani.
Pengaruhnya sampai Banyumas,
Kutoarjo, Wonosobo.
1 Januari 1947,
pemerintah melebur AOI
dan Laskar Hizbullah Surengpati
ke Batalyon Lemah Lanang.
Pada Agresi Belanda II,
batalyon itu menahan front timur Kali Kemit
dari Karanganyar sampai Petanahan.
Mereka menghambat laju Belanda
ke ibu kota sementara di Yogyakarta,
18 Desember 1948.
Belanda akhirnya menerobos.
Tapi kehilangan banyak personel
di Bandung Sruni, Kewajan, hingga Wonosari.
BUMI HANGUS SOMALANGU
Sejak awal,
Batalyon Lemah Lanang
gesekan dengan tentara reguler APRIS.
Peleburan diterima setengah hati.
Kultur berbeda.
Santri dan petani
bukan lulusan PETA atau KNIL.
Kebijakan Re-Ra
mengancam membuang mereka
dari struktur ketentaraan.
Pemicunya akhir Juli 1950.
Anggota AOI asal Somalangu
dalam sejumlah tulisan bernama Khurmen
tewas dipukuli tentara APRIS.
Kedapatan bawa senjata api
dekat Stasiun Kebumen.
Ditertibkan.
Lalu mati.
31 Juli 1950,
pemuda AOI membalas.
Seorang tentara APRIS tewas dipukuli.
Sore itu Kolonel Sarbini
memanggil Syekh Mahfudz ke Magelang.
Syekh tidak datang.
Berjanji esok.
Pagi 1 Agustus,
Somalangu sudah dikepung.
Letkol Ahmad Yani paok
memimpin pasukan sandi Kuda Putih.
Perintahnya, menyerah.
Somalangu hangus.
Rumah habis.
Laskar lari.
Takut diciduk.
Takut diteror.
Kuntowijoyo mencatat
pertempuran berlangsung 40 hari.
Sekitar 85 rumah rusak atau dibakar.
Masjid pesantren selamat.
Korban diperkirakan
1.500 sampai 2.000 jiwa.
SUMPAH ITU
Setelah pertahanan di Gunung Pager Kodok jebol,
pasukan mundur ke barat menuju Cilacap.
Pertempuran besar di Panjer, Kebumen.
Konon,
di lokasi yang kini jadi Polres Kebumen,
Syekh Mahfudz menyumpahi Ahmad Yani
AKAN MATI MENYEDIHKAN.
Tahun 1965,
G30S meletus.
Yani diculik dan dibunuh.
Jenazahnya dimasukkan ke sumur Lubang Buaya.
Tim evakuasi
Pelda Purn. Sugimin
dan Pelda Purn. Evert Julius Ven Kandou
menyebut jenazah Yani paling mengenaskan.
Leher tersayat hampir putus.
Tali pengangkat sempat putus.
Jenazah yang hampir keluar
jatuh kembali ke sumur.
STIGMA YANG BELUM HABIS
Masyarakat mulai membuka sejarah AOI.
Tapi stigma pemberontak DI/TII
masih menempel sampai 1980-an.
Buku sekolah
seolah mengunci tuduhan
AOI bagian pasukan Amir Fatah.
Baru sekitar tahun 2000
penelitian pelurusan mulai jalan.
Diskusi tidak lagi sepenuhnya tabu.
Lukanya belum tentu pulih.
Banyak pengikut Syekh Mahfudz
lari ke Cilacap
lalu menghabiskan sisa hidup
dalam persembunyian.
Lanjut di bawah👇
SYEKH MAHFUDZ
SUMPAHI AHMAD YANI
MATI MENGENASKAN
Sejarah yang tidak ada di buku sekolah.
Pertikaian ini jarang masuk buku sekolah.
Antara Syekh Mahfudz Somalangu
dan Jenderal TNI Ahmad Yani.
Kiai itu menyumpahi
orang tertinggi di TNI saat itu.
Tak lama setelah sumpah itu
beredar di lidah orang Kebumen,
Yani ditemukan tewas mengenaskan
di sebuah sumur.
Kini tempat itu disebut Lubang Buaya.
Apakah sumpah itu yang menuntun peluru?
Sejarah tidak memberi vonis gaib.
Yang pasti, luka Somalangu lebih dulu ada
sebelum Lubang Buaya jadi monumen.
SISA PELARIAN AOI
Hidayat Aji Pambudi
masih ingat Kiai Thohir,
guru ngaji di Kampung Laut, Nusakambangan.
Sisa pelarian Angkatan Oemat Islam
Somalangu.
Awalnya Kiai Thohir hanya mengaku
orang Kebumen.
Karena senasib daerah,
obrolan menjadi akrab.
Cerita-cerita katanya orang Kebumen.
Dia itu ternyata mantan laskar AOI.
Sampai tidak berani pulang
karena masih merasa dikejar pemerintah.
Hidayat Aji 18 tahun
memimpin SMK Ma’arif 3 Somalangu.
Sekolah itu berdiri di kompleks
Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu,
salah satu pesantren tertua di Asia Tenggara.
SYEKH MAHFUDZ DAN AOI
Pimpinan pesantren
Syekh As Sayid Mahfudz bin Abdurrahman Al Hasani.
Sekaligus Pemimpin Umum
Angkatan Oemat Islam.
Dikukuhkan 11 September 1945.
Syaratnya tegas
setelah perjuangan selesai
kembali ke pondok.
Menolak masuk birokrasi negara.
Pengaruhnya menarik ribuan orang
dari Prembun, Kutowinangun,
Petanahan, Aliyan, Karanggayam.
Data kasar wak.
10 ribu laskar.
30 ribu cadangan.
Santri dan petani.
Pengaruhnya sampai Banyumas,
Kutoarjo, Wonosobo.
1 Januari 1947,
pemerintah melebur AOI
dan Laskar Hizbullah Surengpati
ke Batalyon Lemah Lanang.
Pada Agresi Belanda II,
batalyon itu menahan front timur Kali Kemit
dari Karanganyar sampai Petanahan.
Mereka menghambat laju Belanda
ke ibu kota sementara di Yogyakarta,
18 Desember 1948.
Belanda akhirnya menerobos.
Tapi kehilangan banyak personel
di Bandung Sruni, Kewajan, hingga Wonosari.
BUMI HANGUS SOMALANGU
Sejak awal,
Batalyon Lemah Lanang
gesekan dengan tentara reguler APRIS.
Peleburan diterima setengah hati.
Kultur berbeda.
Santri dan petani
bukan lulusan PETA atau KNIL.
Kebijakan Re-Ra
mengancam membuang mereka
dari struktur ketentaraan.
Pemicunya akhir Juli 1950.
Anggota AOI asal Somalangu
dalam sejumlah tulisan bernama Khurmen
tewas dipukuli tentara APRIS.
Kedapatan bawa senjata api
dekat Stasiun Kebumen.
Ditertibkan.
Lalu mati.
31 Juli 1950,
pemuda AOI membalas.
Seorang tentara APRIS tewas dipukuli.
Sore itu Kolonel Sarbini
memanggil Syekh Mahfudz ke Magelang.
Syekh tidak datang.
Berjanji esok.
Pagi 1 Agustus,
Somalangu sudah dikepung.
Letkol Ahmad Yani paok
memimpin pasukan sandi Kuda Putih.
Perintahnya, menyerah.
Somalangu hangus.
Rumah habis.
Laskar lari.
Takut diciduk.
Takut diteror.
Kuntowijoyo mencatat
pertempuran berlangsung 40 hari.
Sekitar 85 rumah rusak atau dibakar.
Masjid pesantren selamat.
Korban diperkirakan
1.500 sampai 2.000 jiwa.
SUMPAH ITU
Setelah pertahanan di Gunung Pager Kodok jebol,
pasukan mundur ke barat menuju Cilacap.
Pertempuran besar di Panjer, Kebumen.
Konon,
di lokasi yang kini jadi Polres Kebumen,
Syekh Mahfudz menyumpahi Ahmad Yani
AKAN MATI MENYEDIHKAN.
Tahun 1965,
G30S meletus.
Yani diculik dan dibunuh.
Jenazahnya dimasukkan ke sumur Lubang Buaya.
Tim evakuasi
Pelda Purn. Sugimin
dan Pelda Purn. Evert Julius Ven Kandou
menyebut jenazah Yani paling mengenaskan.
Leher tersayat hampir putus.
Tali pengangkat sempat putus.
Jenazah yang hampir keluar
jatuh kembali ke sumur.
STIGMA YANG BELUM HABIS
Masyarakat mulai membuka sejarah AOI.
Tapi stigma pemberontak DI/TII
masih menempel sampai 1980-an.
Buku sekolah
seolah mengunci tuduhan
AOI bagian pasukan Amir Fatah.
Baru sekitar tahun 2000
penelitian pelurusan mulai jalan.
Diskusi tidak lagi sepenuhnya tabu.
Lukanya belum tentu pulih.
Banyak pengikut Syekh Mahfudz
lari ke Cilacap
lalu menghabiskan sisa hidup
dalam persembunyian.
Lanjut di bawah👇
4

Sumatera Adil & Federal@indepenSumatera
Tetap saja tragedi itu di sebut pembantai yang di lakukan ahmad yani
Tetap saja ulama khasimatik dan santri banyak yang jadi korbannya. Alasan kenapa awak bilang ini pembantaian adalah.
Bagi kalangan ulama Jawa, khususnya dalam ruang lingkup sejarah lokal dan warga Nahdliyin, peristiwa tersebut dipandang sebagai bentuk pertahanan diri akibat kebuntuan politik dan provokasi, bukan sebuah pemberontakan murni untuk mendirikan negara baru seperti DI/TII.
1. Bukti Komitmen terhadap NKRI (Bukan Pemberontakan Ideologis)
Para ulama Jawa menekankan bahwa K.H. Mahfudh Abdurrahman (Kiai Somalangu) dan laskar AOI memiliki rekam jejak nasionalisme yang bersih. AOI dibentuk pasca-Resolusi Jihad 1945 untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka terlibat aktif dalam pertempuran besar melawan Belanda, seperti Perang 10 November di Surabaya, Pertempuran Ambarawa, dan Perang Sabil Gombong. Karena itu, para ulama menolak jika gerakan ini disamakan dengan gerakan separatis yang ingin merongrong kedaulatan RI.
2. Bentuk Pertahanan Diri dari Provokasi Lapangan
Berdasarkan catatan yang dirilis oleh media resmi Lembaga Pustaka PBNU (NU Online), meletusnya konflik bersenjata di Agustus 1950 dipicu oleh rentetan provokasi di lapangan dan salah paham, bukan perencanaan makar
- Ketegangan memuncak setelah seorang anggota laskar AOI ditangkap sepihak dan tewas ditembak oleh aparat Polisi Militer (CPM) di Stasiun Kebumen
- Kematian anggota laskar ini menyulut kemarahan massa di basis Somalangu yang merasa terancam dan terkepung. Tanggapan bersenjata dari AOI dilihat sebagai upaya defensif (pertahanan diri) guna menjaga muruah pesantren dan keselamatan sang kiai dari kepungan militer.
3. Korban Intrik Politik Kebijakan Re-Ra
Dalam pandangan sosiologis dan historis para ulama, posisi laskar AOI terjepit oleh kebijakan rasionalisasi militer (Re-Ra) pusat yang kurang akomodatif terhadap laskar santri. Militer bentukan pemerintah kala itu diisi oleh banyak perwira berpendidikan Barat atau mantan KNIL yang cenderung sekuler. Para ulama menilai AOI sengaja dipojokkan secara politik, diberi stigma PEMBERONTAK, lalu dihancurkan secara militer demi memuluskan agenda unifikasi angkatan bersenjata pusat.
4. Upaya Rekonsiliasi dari Menteri Agama (K.H. Wahid Hasyim)
Fakta bahwa Menteri Agama saat itu, K.H. Wahid Hasyim (tokoh utama NU), bersedia turun langsung ke Kebumen untuk melakukan negosiasi damai ALA SANTRI, menunjukkan bahwa kalangan ulama di tingkat pusat pun tidak memandang Kiai Somalangu sebagai musuh negara yang harus dibasmi. Sayangnya, pendekatan militer pusat yang telanjur menggunakan otoritas keadaan darurat perang (SOB) memutus ruang dialog tersebut
Melalui kajian sejarah kontemporer seperti yang diangkat dalam berbagai seminar oleh Universitas Ma'arif Nahdlatul Ulama (UMNU) Kebumen, para ulama Jawa berupaya melakukan pelurusan sejarah (de-stigmatisasi). Mereka menegaskan bahwa Kiai Somalangu dan AOI adalah pejuang kemerdekaan
Tetap saja ulama khasimatik dan santri banyak yang jadi korbannya. Alasan kenapa awak bilang ini pembantaian adalah.
Bagi kalangan ulama Jawa, khususnya dalam ruang lingkup sejarah lokal dan warga Nahdliyin, peristiwa tersebut dipandang sebagai bentuk pertahanan diri akibat kebuntuan politik dan provokasi, bukan sebuah pemberontakan murni untuk mendirikan negara baru seperti DI/TII.
1. Bukti Komitmen terhadap NKRI (Bukan Pemberontakan Ideologis)
Para ulama Jawa menekankan bahwa K.H. Mahfudh Abdurrahman (Kiai Somalangu) dan laskar AOI memiliki rekam jejak nasionalisme yang bersih. AOI dibentuk pasca-Resolusi Jihad 1945 untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Mereka terlibat aktif dalam pertempuran besar melawan Belanda, seperti Perang 10 November di Surabaya, Pertempuran Ambarawa, dan Perang Sabil Gombong. Karena itu, para ulama menolak jika gerakan ini disamakan dengan gerakan separatis yang ingin merongrong kedaulatan RI.
2. Bentuk Pertahanan Diri dari Provokasi Lapangan
Berdasarkan catatan yang dirilis oleh media resmi Lembaga Pustaka PBNU (NU Online), meletusnya konflik bersenjata di Agustus 1950 dipicu oleh rentetan provokasi di lapangan dan salah paham, bukan perencanaan makar
- Ketegangan memuncak setelah seorang anggota laskar AOI ditangkap sepihak dan tewas ditembak oleh aparat Polisi Militer (CPM) di Stasiun Kebumen
- Kematian anggota laskar ini menyulut kemarahan massa di basis Somalangu yang merasa terancam dan terkepung. Tanggapan bersenjata dari AOI dilihat sebagai upaya defensif (pertahanan diri) guna menjaga muruah pesantren dan keselamatan sang kiai dari kepungan militer.
3. Korban Intrik Politik Kebijakan Re-Ra
Dalam pandangan sosiologis dan historis para ulama, posisi laskar AOI terjepit oleh kebijakan rasionalisasi militer (Re-Ra) pusat yang kurang akomodatif terhadap laskar santri. Militer bentukan pemerintah kala itu diisi oleh banyak perwira berpendidikan Barat atau mantan KNIL yang cenderung sekuler. Para ulama menilai AOI sengaja dipojokkan secara politik, diberi stigma PEMBERONTAK, lalu dihancurkan secara militer demi memuluskan agenda unifikasi angkatan bersenjata pusat.
4. Upaya Rekonsiliasi dari Menteri Agama (K.H. Wahid Hasyim)
Fakta bahwa Menteri Agama saat itu, K.H. Wahid Hasyim (tokoh utama NU), bersedia turun langsung ke Kebumen untuk melakukan negosiasi damai ALA SANTRI, menunjukkan bahwa kalangan ulama di tingkat pusat pun tidak memandang Kiai Somalangu sebagai musuh negara yang harus dibasmi. Sayangnya, pendekatan militer pusat yang telanjur menggunakan otoritas keadaan darurat perang (SOB) memutus ruang dialog tersebut
Melalui kajian sejarah kontemporer seperti yang diangkat dalam berbagai seminar oleh Universitas Ma'arif Nahdlatul Ulama (UMNU) Kebumen, para ulama Jawa berupaya melakukan pelurusan sejarah (de-stigmatisasi). Mereka menegaskan bahwa Kiai Somalangu dan AOI adalah pejuang kemerdekaan






