Canvas & Ratio
Choose your destination platform format
Layout Template
Choose a content structure for your slides
Preset Themes
Typography & Sizing
Brand Kit Customization
AGENCYConfigure brand assets for headers & footers
Outro Slide CTA
Customize your closing call-to-action slide
Background Pattern
Build Your Carousel
Drag and drop any post card below onto a slide, or use the quick buttons to insert content/images instantly!

Ayolah, Kiai Cholil, kita-kita ini belum perlu ulama yang selalu menenangkan pemimpin di tengah kondisi seperti ini. Yang perlu ditenangkan itu, ya, rakyat kayak kami ini. Tolonglah, bikin hati umat ini jadi lebih tenang karena program BMG membebani APBN, KDMP juga jelas membebani APBN, apalagi belanja ugal-ugalan yang beritanya bisa Sampean baca sendiri. 100 miliar APBN untuk sapi kurban, kok, bisa Sampean bilang sah itu apa-apaan? Mau atas nama presiden atau atas nama umat muslim, kek, di samping tindakan ini saya sebut ghosob, saya juga berani bilang ini zalim. Dua Imam kita, yaitu Imam al-Ramli dan Imam Ibn Hajar al-Haitami, jelas menyatakan: وأن للإمام الذبح عن المسلمين من بيت المال إن اتسع "Dan imam boleh menyembelih dari baitul mal atas nama kaum muslim, jika [baitul mal] lapang." (Sumber: Nihayat al-Muhtaj, Juz VIII, hlm. 144; Tuhfat al-Muhtaj, Juz IX, hlm. 367) Utang kita naik, beban bunga dan jatuh temponya juga menekan ruang fiskal. Coba lihat, tuh, dollar di menit ini saja masih Rp17.799,20. Kok, ya, sampai hati Sampean bilang sapi kurban sebesar 100 miliar itu sah (dan sunnah)? Sampean ini gimana? <a target="_blank" href="https://twitter.com/cholilnafis/status/2059696703532314660" color="blue">x.com/cholilnafis/st…</a>



Perlu diketahui, teks dari Imam al-Ramli dan Imam Ibn Hajar tadi keluar, persisnya, saat beliau berdua menjelaskan kasus "tidak boleh berkurban atas nama orang lain tanpa izin". Diperbolehkannya pemimpin berkurban lewat baitul mal itu mensyaratkan keuangan yang lapang, mencukupi, atau surplus, entah itu sapi atau kambing. Bahkan dalam kondisi pas-pasan saja, itu nDak bisa disebut "اتسع" alias lapang. Lha, ini, pas-pasan saja tidak, kok, malah bilang sah dan sunnah?

Lagian, Pak Prabowo juga belum tentu tahu hadis yang dibawa Kiai Cholil Nafis. Apa-apaan, sih, ulama kok malah jadi penenang presiden begitu?