Canvas & Ratio
Choose your destination platform format
Layout Template
Choose a content structure for your slides
Preset Themes
Typography & Sizing
Brand Kit Customization
AGENCYConfigure brand assets for headers & footers
Outro Slide CTA
Customize your closing call-to-action slide
Background Pattern
Build Your Carousel
Drag and drop any post card below onto a slide, or use the quick buttons to insert content/images instantly!

Meningkatnya sentimen xenophobia terhadap pengungsi Rohingya di dunia twitter Indonesia akhir² ini mengingatkan kejadian serupa yg didahului pada tahun 2020 oleh netizen Malaysia. 🧵 <a target="_blank" href="https://twitter.com/leyseux/status/1731227096050172132" color="blue">x.com/leyseux/status…</a>





Salah satu akar masalahnya adalah saat sebagian masyarakat Malaysia mengklasifikasikan 'pengungsi' sebagai PATI (Pendatang Asing Tanpa Izin) a.k.a imigran gelap akibat kurangnya kerangka hukum yg jelas utk membedakan keduanya. Dan meskipun Malaysia telah menerima pencari suaka ~




dari banyak negara, mereka ttp enggan meratifikasi konvensi pengungsi 1951 & protokolnya 1967. Ini menyebabkan tdk adanya jaminan perlindungan yg utuh utk Rohingya (dari penahanan dll). Di sisi lain, pengungsi Rohingya juga terus mendapat tekanan karna dianggap sebagai penyebab ~

ancaman ekonomi di masa krisis & kesalahan identifikasi dari sebagian warga Malaysia yg menyamakan mereka dgn pekerja Bangladesh karna kesamaan warna kulit. ~

Selain itu, dlm periode tersebut, terdapat juga disinformasi yg disebarkan berupa list of demand of equal rights yg disebut berasal dri presiden organisasi hak asasi manusia Rohingya etnis Myanmar Malaysia (MERHROM). Sayangnya, daftar palsu itu terlanjur tersebar luas hingga ~


merembet ke kegagalan pemahaman utk membedakan antara pemenuhan hak dasar & penuntutan hak yg setara. ~

Poin brikut menyoroti inkonsistensi otoritas Malaysia dlm perlakuannya trhdp pengungsi, kartu identitas UNHCR yg hnya sekadar mmberi perlindungan simbolis & rentan disalahgunakan, eksploitasi kpd pengungsi tanpa adanya implikasi hukum, srta akses pendidikan yg sbatas informal. ~


Semua hal di atas kemudian terpusat pada problem genting di bawah. Stigma, diskriminasi, intimidasi, ancaman & perlakuan tidak adil dari penduduk lokal yg kerap mengglorifikasi perilaku bermasalah pengungsi tanpa adanya refleksi dari sisi berlawanan. Apalagi mempertimbangkan ~



kondisi rapuh Rohingya. Bahkan Firdaus Husni, kepala strategi Hak Asasi Manusia dari Pusat Konstitusionalisme & Hak Asasi Manusia Malaysia berpendapat bhwa kecemasan covid-19 digunakan utk memvalidasi sikap Xenofobia terhadap komunitas Rohingya. ~

Selengkapnya: <a target="_blank" href="https://www.tandfonline.com/doi/full/10.1080/00358533.2023.2244287" color="blue">tandfonline.com/doi/full/10.10…</a>

Nitip thread lain (1) <a target="_blank" href="https://twitter.com/_e_g_a_n_/status/1731206248983634049?t=yFohcLibqhM6_aAsRZjgDQ&s=19" color="blue">x.com/_e_g_a_n_/stat…</a>

(2) <a target="_blank" href="https://twitter.com/_e_g_a_n_/status/1729094744733851910?t=yFohcLibqhM6_aAsRZjgDQ&s=19" color="blue">x.com/_e_g_a_n_/stat…</a>

<a target="_blank" href="https://twitter.com/_e_g_a_n_/status/1732298836855709894?t=iGrcIMCRHL0o__r4Q5Xuuw&s=19" color="blue">x.com/_e_g_a_n_/stat…</a>