Hi,πŸ‘‹ we have updated the app and fixed multiple bugs. We are lacking funds, request to free user not to use Adblock. Ads are non intrusive. 😊

✨ Visual Editor

close

palette Canvas & Background

Gradient:arrow_forward
Text Color:
135Β°

style Card Style

40px
16px

text_fields Typography

16px
Muhammad Zahrawi
@mhmmdzhrw
Ya dan tidak.

Ya benar bahwa kekuasaan agama yang begitu besar akan menahan perkembangan ilmu pengetahun. Tidak benar bahwa piagam jakarta seharusnya dihapus, sebaliknya, piagam jakarta yang asli seharusnya dipertahankan. Kenapa?

Karena Islam bukanlah sebuah agama
Muhammad Zahrawi
@mhmmdzhrw
Agama, seperti yang saya kutip menurut KBBI, adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa, serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.

Saya tidak akan membahas agama lain, saya akan membahas agama saya saja, Islam.

Apakah Islam adalah Agama? Jawabannya adalah tidak, Islam bukanlah Agama. Dalam diksi aslinya, Islam disebutkan sebagai Din/Deen. Kata ini, harus dimaknai berdasarkan makna asli dari bahasa penuturnya, yaitu Bahasa Arab, yang jika dielaborasikan dengan deskriptif, deen dapat diartikan sebagai satu sistem hidup yang utuh. Identitas, dan hidup itu sendiri.

Mengartikan Deen sebagai agama sama saja mereduksi Islam hanya menjadi sebuah sistem aturan kepercayaan dan peribadatan, yang artinya ini sama sekali bukan Islam. Saya akan mengelaborasikannya secara lebih utuh.
Muhammad Zahrawi
@mhmmdzhrw
Dinul Islam, diawali oleh sebuah ikrar persaksian bahwa Tidak ada Sesembahan yang patut disembah selain Allah, dan Muhammad adalah seorang Hamba utusan/penyampai pesan Allah yang terakhir.

Orang-orang Arab Quraisy yang sering kita sebut jahiliyah itu, sama sekali tidak menyangkal bahwa Allah adalah Tuhan, tapi mereka mengatakan bahwa untuk mencapai Allah bahwa yang patut untuk disembah haruslah Latta Manna Uzza. Sebagaimana firman Allah berikut:

QS. Az-Zumar 39: 38
"...Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah"..."

QS. Az-Zukhruf 43: 9
"Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Semuanya diciptakan oleh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui""

QS. Luqman: 25
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah"..."

QS. Al-'Ankabut: 61
"Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" Tentu mereka akan menjawab: "Allah"..."

Bahkan dalam konteks turunnya surat Al-Kafirun, para pembesar Quraisy melakukan negosiasi kepada Rasulullah untuk saling bergantian menyembah tuhan masing-masing. Mereka menawari Rasulullah dengan harta agar menjadi orang paling kaya di Mekkah, dan menawari Rasulullah untuk menikahi wanita manapun yang beliau inginkan. Mereka berkata

"Ini untukmu, wahai Muhammad, dan engkau berhenti mencela tuhan-tuhan kami dan tidak menyebutkan keburukannya. Jika engkau tidak mau melakukannya, sembahlah tuhan-tuhan kami satu tahun"

dalam riwayat lain, "Jika engkau berkenan, ikutilah kami satu tahun, dan kami akan kembali kepada agamamu satu tahun"

Di satu sisi, mereka sendiri mengakui dan memberikan gelar bahwa Rasulullah adalah Al-Amin, Yang Paling Dapat Dipercaya, sampai pada satu waktu Rasulullah naik ke atas bukit Shafa dan berkata:

β€œWahai Bani Fihir! Wahai Bani 'Adi!". Rasulullah memanggil suku-suku dari kaum Quraisy sehingga mereka berkumpul. Sampai ada seseorang yang tidak bisa hadir mengutus seorang utusan untuk (hadir), agar mengetahui mengapa (merekadipanggil)? Maka hadirlah Abu Lahab dan orang-orang Quraisy yang lain. Kemudian Rasulullah Shalallahu 'alaihiwasallam berkata (kepada mereka): β€œBagaimana pendapat kalian, kalau aku kabarkan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda di lembah (di balik bukit ini) yang akan menyerang kalian? Apakah kalian mempercayaiku?"

Mereka menjawab,"Ya (kami percaya). Kami tidak mendapatimu kecuali (berkata) jujur," maka beliau pun berkata kepada mereka: β€œSesungguhnya aku adalah pemberi peringatan kepada kalian terhadap siksa (Allah) yang keras." (Mendengar seruan itu), Abu Lahab berkata: "Celakalah (binasalah) engkau pada hari ini. Untuk inikah engkau mengumpulkan kami?"

Sebuah paradoks, di satu sisi mereka mengatakan bahwa Allah adalah Tuhan tapi bukan sesembahan, dan di sisi lain mereka mengatakan Rasulullah adalah Al-Amin tapi tidak mempercayainya sebagai seorang Rasul. Sebuah pertanyaan muncul, lalu apa yang sebenarnya saat itu sedang terjadi?
Muhammad Zahrawi
@mhmmdzhrw
Pada saat itu, Mekkah adalah sebuah daerah tandus yang diapit oleh bukit dan gunung-gunung. Sumber air dan makanan sedikit, untuk menggembala domba mereka harus keluar dari Mekkah dan mencari titik oasis yang tidak tetap. Mereka hidup dari perdagangan ke daerah Utara (Syam) dan ke daerah selatan (Yaman). Para Kafilah mereka berdagang sepanjang tahun membawa barang-barang.

Mereka berada di antara dua Imperium besar dan kuat yaitu Romawi di barat dan Persia di timur, lebih tepatnya di daerah buffer zone, daerah pinggiran yang tidak akan dilirik oleh kekuasaan karena tidak punya apapun untuk diolah. Tidak memiliki sumber daya apapun, geografisnya sulit penuh padang pasir, perbukitan dan orang-orangnya terkenal keras kepala.

Namun pada saat itu, Mekkah telah menjadi pusat ziarah dan haji karena memang terkenal sebagai rumahnya Abrahamik dan Kabilah dari seluruh penjuru jazirah arab datang mengunjungi Ka'bah untuk berhaji/berziarah. Long story short saat Ka'bah telah dipenuhi oleh berhala, para peziarah juga tetap datang untuk mengunjungi ka'bah dan menziarahi Latta Manna Uzza. Pada masa-masa ini, perdagangan di Makkah akan meningkat. Bahkan mereka menjual roti-roti berbentuk berhala untuk diperjualbelikan. Sebagai Kabilah yang menjaga Ka'bah, ini merupakan kemenangan yang sangat besar bagi kaum Quraisy. Ekonomi berjalan, hidup yang nyaman, dihormati/disegani sebagai penjaga Ka'bah.

Pada musim haji saat itu, mereka sangat memuliakan tamu-tamu. Mereka bahkan memiliki Saqayah, atau orang-orang yang menyediakan air bagi jamaah haji dan Rifadah, orang-orang yang menyediakan makanan bagi jamaah. Semua ini dilakukan oleh Bani Hasyim, suku tempat Rasulullah berasal.

Selain itu, Bangsa Quraisy ini memiliki sistem pemerintahan yang merepresentasikan Demokrasi. Masing-masing kepala suku memiliki pemimpinnya yang kemudian berkumpul pada Darun Nadwah untuk mendiskusikan masalah-masalah umat. Dengan sistem Syura (Musyawarah), mereka membahas masalah-masalah di Mekkah dan mengambil keputusan lewat konsensus atau mayoritas suara.

Ini juga yang menjadi hiburan bagi saya, untuk kaum orientalis dan liberal yang menghamba demokrasi, bahwa pra-islam itu justru sudah demokratik 😭🀣

Lanjut. Saat itu, bangsa Arab masih mengadopsi sistem perbudakan, sebagai mana juga diadopsi di berbagai daerah lain. Mereka juga menganggap wanita sebagai makhluk yang tidak membawa keuntungan apa-apa, bahkan membawa kehinaan. Kenapa? karena sulitnya hidup di Mekkah. Anak laki-laki lebih berharga karena bisa berburu, berdagang sementara anak perempuan jika tidak dilahirkan dari keluarga kaya, maka akan berakhir menjadi wanita panggilan dan ini membawa kehinaan kepada keluarganya. Itu sebabnya, mereka punya kebiasaan mengubur anak perempuan hidup-hidup dengan dalih "daripada menjadi pelacur"

Ini mirip kan dengan ucapan-ucapan liberalis hari ini? Orang miskin dilarang punya anak 😭🀣🀣🀣

Lalu Islam datang, dan menyatakan bahwa menyembah berhala adalah perbuatan Syirik, Allah adalah satu-satunya sesembahan yang patut disembah serta Muhammad yang mengaku telah diutus sebagai seorang Rasul.

Apa implikasinya?
Muhammad Zahrawi
@mhmmdzhrw
Implikasinya adalah, jika mereka mengakui Islam sebagai Deen yang benar, maka struktur ekonomi, sosial dan budaya yang selama ini menyuburkan dompet-dompet para Elit Quraisy dan memberikan mereka legitimasi kekuasaan yang besar, akan hancur lebur. Mereka akan menjadi manusia biasa, dan tidak lagi dapat mengambil keuntungan dari bisnis berhala yang menopang ekonomi kota Mekkah.

Mereka juga akan kehilangan budak-budak mereka, tidak lagi bisa berbuat semena-mena karena posisi dan derajat mereka akan setara dengan budak. Kehilangan gaya hidup glamor yang dihiasi oleh timbunan dinar dirham, bercawan-cawan khamr, rasa gila hormat dari budak dan suku-suku di jazirah arab, dan kehilangan kenikmatan dikelilingi wanita-wanita yang melacurkan diri demi bertahan hidup dan sekeping dirham.

Semua ini kembali pada masalah utama manusia sepanjang zaman. Harga diri, uang, perut dan selangkangan.
Muhammad Zahrawi
@mhmmdzhrw
Ini adalah Dinul Islam, yang diawali oleh Ikrar Persaksian bahwa tiada tuhan/sesembahan yang pantas disembah selain Allah. Karena dari-Nya seluruh apa yang kita terima, dan kepada-Nya seluruh makhluk akan kembali. Maka Dinul Islam yang Kaffah, artinya hidup sebagai muslim secara menyeluruh dan ini sangat jauh dari definisi agama yang menekankan ritualitas dan spiritualisme.

Dapat dikatakan, islam memiliki irisan konsep yang sama seperti Bushido yang menekankan kode etik para ksatria yang hidup dengan kesetiaan-kehormatan-disiplin-dan keberanian di jalan Allah, memiliki dimensi jalan Buddha dharma-karma dan hidup dengan hadir pada momen, ritual yang padat dengan sholat 5 kali dalam sehari, sosialisme yang menekankan untuk membagi harta dalam bentuk infak/sedekah kepada yang tidak beruntung, memiliki konsep komunisme yang menekankan masyarakat tanpa kelas serta menekankan kepemilikan bersama alat-alat produksi dalam konsep syirkah, juga penguasaan negara atas harta dalam syariat Zakat.

Islam juga memiliki irisan konsep yang sama dengan kapitalisme, tidak ada larangan untuk kapitalisasi bisnis hingga menjadi kaya dan memiliki banyak karyawan serta menimbun harta, namun yang ditekankan adalah bahwa seluruh karyawan harus diberikan hak dan diperlakukan setara dengan pemilik usaha. Diberikan makanan yang sama dengan yang kita makan, dan diberikan pakaian yang sama dengan yang kita pakai. Lalu 2,5% dari harta yang tertimbun, disetor kepada pemimpin untuk kemudian digunakan membiayai infrastruktur, rakyat miskin, dan kebutuhan-kebutuhan umat.

Maka dalam islam, Gaji adalah ganti rugi terhadap waktu yang dihabiskan seseorang dalam mengurus suatu kerjaan selama beberapa waktu. Nominalnya bervariasi sesuai kebutuhan sang pekerja. Maka menerima gaji, pada dasarnya tidak akan pernah membuat seseorang kaya, karena itu akan habis untuk kebutuhannya saja, untuk makan, hidup, pakaian dan lainnya. Lalu, ada Upah sebagai bagi hasil keuntungan terhadap suatu usaha.

Maka, bagi orang-orang yang tidak mengenal Islam dengan baik, akan mengatakan bahwa Islam opresif, terbelakang dan ketinggalan zaman. Padahal sebaliknya, konsep keadilan, kesetaraan, keseimbangan, semua merupakan konsep yang telah dipraktekkan Islam sejak 1447 tahun yang lalu.

Anda bebas saja menjadi pebisnis, pedagang, elit kapitalis yang kaya raya, asal bayar zakat 2,5% dan karyawan anda diberikan haknya dengan penuh (gaji dan upah). Anda juga bebas saja mau menjadi apapun, asal Dinul Islam menjadi kaffah di diri Anda, yang artinya, menjadi Manusia yang memanusiakan manusia, yang adil, yang membangun, yang mengatur dan yang memelihara, yang disiplin, yang adil sejak dalam pikiran, yang menolong tanpa pamrih, yang tidak menjadikan dunia sebagai tuhan yang dia sembah.

Lalu apa hubungannya dengan Piagam Jakarta?
Muhammad Zahrawi
@mhmmdzhrw
Selama Islam hanya direduksi menjadi sebuah agama ritual sholat 5 waktu, puasa, zakat dan haji, maka Poin-poin piagam jakata yang dihapus tersebut akan menjadi mimpi buruk bagi setiap orang. Penggembosan Islam hanya sebagai agama saja telah dilakukan bahkan sejak masa Rasul masih hidup, apalagi sekarang?

Itu sebabnya, kita sering mendengar suara-suara sumbang di tengah masyarakat, mostly anak muda yang hilang harapannya terhadap Islam. Saat idealisme islam yang dipelajari, berbanding terbalik dengan realitas Islam yang hadir di hadapan mereka.

Saat para ustad sibuk berdakwah hal-hal yang membatalkan sholat, membatalkan wudhu dan puasa, namun abai terhadap masalah-masalah sosial. Saat sebagian ustad sibuk berdakwa fathul izhar, sementara bangku-bangku kuliah mengeksplor pemikiran dalam bentuk yang menarik dan unik, dan karena mereka tidak memahaminya mereka mengatakannya sebagai sesuatu yang haram, "filsafat itu haram."

Saat para ustad sibuk berdakwah bahwa Akhirat lebih penting, bersyukurlah sebagai orang miskin agar mudah timbangan di akhirat, tidak perlu terlalu peduli dengan urusan luar negeri dan kebiadaban di Palestina, yang penting kita semua masih bisa Sholat. Sementara, orang-orang yang korup berkali-kali umroh dan naik haji, sementara banyak muslim yang menjadi ilmuwan dan memberi dampak besar di kehidupan direduksi menjadi "Ah itukan ilmu dunia"

Lambat laun muslim kehilangan jalan ksatrianya, tidak menjadi apa-apa, tidak sukses di akhirat tidak juga sukses di dunia. Islam tidak lagi menjadi Din, namun direduksi hanya menjadi sebagai sebuah agama.

Namun, Umar pernah berkata, bahwa "yang dapat disepakati oleh umat hanyalah syariat". Artinya, sedangkal apapun umat, pasti ada orang-orang yang memahami Islam secara Kaffah. Pengejawantahannya tidak satu persatu, tapi serta merta. Syariat ditegakkan oleh Muslim Kaffah yang kuat. Maka keadilan, kedamaian, hidup yang penuh bukan hanya untuk muslim, tapi untuk seluruh umat manusia akan datang dan wujud.

Penegakan syariat islam bagi para pemeluk agama islam, adalah kesempatan kita untuk hidup dan membangun peradaban yang lebih baik yang hilang berdekade-dekade lalu.

Sekarang? Mari berdoa saja. Bahkan banyak muslim yang menganggap belajar sains itu tidak perlu, jadi engineer tidak ada gunanya, jadi ahli di bidang ilmu dunia tertentu tidak membawamu ke surga, tidak lebih penting dari ritual-ritual ibadah. Padahal kamu bisa menjadi taat dan menjadi ahli secara bersamaan. Luar biasa fitnah setan yang memisah-misahkan urusan dunia dan akhirat.

Allahu A'lam Bisshowab
Zahrawi -
Generated by Thread Navigator
100%
view_carousel Carousel Studio NEW
Press ⌘ + S to quick-export