✨ Visual Editor

close

palette Canvas & Background

Gradient:arrow_forward
Text Color:
135°

style Card Style

40px
16px

text_fields Typography

16px
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Untuk verifikasi, saya unduh videonya, saya transkripsikan dan terjemahkan dengan bantuan AI.

Berikut isi video di bawah ini:

Putra Mahkota Arab Saudi, Muhammad bin Salman, mengakui bahwa penyebaran paham Wahabi yang keras oleh negaranya merupakan permintaan dari pihak sekutu, dalam rangka menghadapi meluasnya pengaruh dan penetrasi Uni Soviet pada masa Perang Dingin.

Dalam wawancaranya dengan The Washington Post, ia menyatakan bahwa pemerintah-pemerintah Saudi sebelumnya telah menempuh jalur penyebaran paham Wahabi yang ketat. Ia menegaskan bahwa kini saatnya untuk mengembalikan keadaan ke jalur yang semestinya.

Dalam pernyataan yang sarat pengakuan, Muhammad bin Salman menyebut bahwa penyebaran paham Wahabi oleh negaranya merupakan sebuah keniscayaan yang didorong oleh kepentingan serta tekanan Barat terhadap Riyadh, guna membendung ekspansi pengaruh Uni Soviet selama Perang Dingin.

Akar dari investasi Saudi dalam pembangunan sekolah dan masjid bermula pada periode Perang Dingin, ketika sekutu meminta Arab Saudi untuk memanfaatkan sumber dayanya demi mencegah Uni Soviet memperluas pengaruhnya di negara-negara Islam. Ia menambahkan, “Saya percaya bahwa Islam itu rasional dan sederhana, tetapi ada pihak-pihak yang mencoba membajaknya.”

Dengan demikian, Perang Dinginlah yang, menurut pernyataan Putra Mahkota, mendorong Riyadh melakukan kebijakan tersebut. Namun, saat ini Riyadh harus menanggung konsekuensi dari pemanfaatan dana-dananya oleh Barat dalam perang melawan ideologi komunis.

Di sisi lain, terdapat pengakuan terbuka dari sang pangeran muda bahwa berbagai tuduhan yang diarahkan kepada rezim Al Saud, terkait pendanaan kelompok ekstremis dan teroris secara ideologis, merupakan akibat dari arah kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah-pemerintah Saudi sebelumnya.

Ia menegaskan bahwa saat ini perlu dilakukan upaya untuk mengembalikan keadaan ke jalur yang benar. Pendanaan terhadap paham Wahabi saat ini, menurutnya, sebagian besar berasal dari lembaga-lembaga swasta yang berbasis di kerajaan, bukan dari pemerintah. Ia juga menyebut bahwa dialog dengan institusi keagamaan telah berlangsung lama.

Yang mencolok dari pernyataan-pernyataan ini adalah adanya kontradiksi yang jelas dengan fondasi Wahabi yang menjadi dasar berdirinya Arab Saudi modern. Penafsiran-penafsiran fikih yang khas dari lingkungan Saudi, yang di masa lalu turut memicu konflik dan bahkan menyeret sejumlah negara ke dalam perang saudara multidimensi, seperti di Aljazair pada tahun 1990-an, kini kembali menjadi sorotan.

Hal ini memunculkan pertanyaan: apa dampak dari pernyataan Mohammed bin Salman terhadap masa depan arus Salafi, khususnya di Aljazair?
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Mungkin banyak juga sebetulnya yang enggak terlalu paham dengan Wahabi. Saya bukan pakarnya, tapi saya coba bagikan apa yang saya pahami. Mungkin kalau ada yang kurang pas, silakan dikoreksi.

Jadi, Wahabi (Wahhabisme) itu sebetulnya gerakan pembaruan dalam Islam Sunni yang lahir di jazirah Arab abad ke‑18. Gerakan ini pada dasarnya menekankan pemurnian tauhid dan penghapusan praktik yang dianggap syirik dan bid’ah.
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Banyak orang kemudian enggak suka Wahabi karena dianggap keras, gampang mengafirkan, dan dipakai dalam konflik politik, termasuk dalam wacana Sunni vs. Syiah.
ebsco.com/research-start…
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Sejak tragedi 9/11, banyak diskursus politik dan media di Barat menghubungkan ideologi Wahabi dengan radikalisme dan kelompok seperti Al‑Qaeda dan ISIS walaupun secara akademik hubungan ini enggak sesederhana itu dan masih diperdebatkan.
jamestown.org/understanding-…
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Wahhabisme pun kerap dikritik karena doktrin yang eksklusif dianggap bisa memberi pembenaran ideologis bagi kekerasan terhadap “penyimpang”, meski, pastinya, enggak semua ulama Wahabi mendukung kekerasan.
ebsco.com/research-start…
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Di banyak negara muslim, atau yang mayoritas muslim, seperti di Indonesia, tradisi keagamaan kan memang kerap bercampur dengan budaya lokal. Nah, pendekatan Wahabi yang ingin menghapus tradisi ini memicu resistensi sosial dan kultural.
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Di sisi lain, studi tentang Saudi menyebutkan bahwa dengan kekayaan minyak, Wahhabisme disebarkan lewat dana masjid, madrasah, buku, dan lembaga dakwah ke berbagai negara, sehingga menimbulkan kesan “imperialisme” ideologi. Nah, negara dan kelompok yang merasa terancam oleh pengaruh Saudi melihat Wahhabisme bukan hanya paham agama, tapi juga alat pengaruh politik.
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Dalam konteks global, Wahhabisme ini identik dengan “Islam Sunni ala Saudi” yang konservatif. Wahhabisme diproyeksikan sebagai tandingan terhadap pengaruh Syiah Iran dan juga terhadap Sunni lain yang lebih tradisionalis atau “sufistik”.
fiveable.me/politics-in-co…
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Sekarang, rivalitas Saudi (Sunni‑Wahabi) dan Iran (Syiah) sering dipresentasikan sebagai konflik Sunni vs. Syiah, padahal banyak analisis menyebut faktor utama justru kekuasaan regional, minyak, dan pengaruh politik.

Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Artikel tentang konflik Teluk bahkan menyebutkan bahwa isu sektarian (Sunni‑Syiah) sering “dipakai” sebagai propaganda untuk memperkuat posisi masing‑masing negara dalam perebutan dominasi kawasan.
Thread image
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Wahhabisme sendiri secara teologis memandang banyak doktrin Syiah sebagai penyimpangan berat. Sebaliknya, banyak ulama Syiah dan juga Sunni non‑Wahabi menulis bantahan keras terhadap doktrin Wahabi.
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Dalam perang Suriah, Yaman, dan konflik lain, Saudi dan Iran memang mendukung kelompok yang berbeda. Wacana resmi Saudi (yang dipengaruhi ulama Wahabi) menonjolkan ancaman “ekspansi Syiah”, sementara Iran menonjolkan perlawanan terhadap “Wahhabisme” dan “takfiri”.
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Takfiri itu maksudnya istilah untuk muslim yang (gemar) menuduh muslim lainnya murtad atau kafir, biasanya karena perbedaan keyakinan atau manhaj.
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Nah, memang ada banyak sekali wacana kedekaran antara Wahabi dan Israel. Sebetulnya, menurut saya, di sini kita perlu bedakan antara (1) ideologi Wahabi sebagai paham keagamaan dan (2) kebijakan negara Saudi yang secara historis punya hubungan terselubung dengan Israel.
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Secara retorik, ulama-ulama Wahabi di Saudi sebetulnya mendukung hak Palestina dan menolak pengakuan formal terhadap Israel, terutama terkait isu Al‑Quds (Yerusalem) dan Masjid Al‑Aqsa.
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Tapi, memang, sejumlah kajian kebijakan luar negeri menjelaskan bahwa sejak tahun 1960‑an sudah ada kerja sama intelijen rahasia Saudi–Israel dalam beberapa konflik (misalnya di Yaman), meski tanpa hubungan diplomatik resmi.
brookings.edu/articles/how-t…
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Tulisan sejumlah think‑tank pun menjelaskan bahwa Saudi dan Israel punya kepentingan bersama melawan musuh yang sama, terutama Iran dan beberapa kelompok bersenjata, sehingga ada “kolaborasi” keamanan di belakang layar.
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Di era Abraham Accords, Saudi belum secara resmi menormalisasi hubungan, tetapi mereka toh membiarkan sekutu dekat (seperti Bahrain) menjalin hubungan terbuka dengan Israel, yang dilihat sebagai sinyal kompromi politik.
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Jadi, sebetulnya, yang “dekat” dengan Israel itu lebih tepat disebut elite negara Saudi dalam ranah keamanan dan geopolitik, bukan ajaran Wahhabinya itu sendiri.
Fauzan Al-Rasyid
@fauzanalrasyid
Jadi, kalau ada narasi “Wahabi itu antek Israel”, dari sudut pandang literatur kebijakan, itu saya pikir terlalu menyederhanakan. Cuma memang di Indonesia, konteks seperti ini enggak terlalu muncul ke permukaan. Jadi yang dikritisi itu memang seharusnya elite-elite Saudi.
Generated by Thread Navigator
100%
view_carousel Carousel Studio NEW
Press + S to quick-export